CRISTAL WJ SF PEMALANG. MB MERCY RASAKAN KETATNYA PERSAINGAN


PIALA PASUNDAN 4, #15: Meski Belum Menjadi Juara, Mereka Tak Pernah Jera

Meski belum menjadi juara, sejumlah pemain yang datang ke Piala Pasundan 4 mengaku tak pernah jera untuk turun di even-even kolosal tanah air. Selain yakin dengan kualitas burung yang mereka punya, apa alasan mereka?

Datang dari berbagai kota di seluruh penjuru tanah air, kicaumania yang hadir di Piala Pasundan 4 punya kisah dan kesan tersendiri pada even garapan Prio Sutrisno dan Radja Garuda Nusantara (RGN) ini. Mulai dari perburuan tiket, perjalanan ke lokasi lomba, hingga kejadian di lapangan memberi kesan tersendiri.

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

Salah satu peserta yang menempuh perjalanan darat ke Piala Pasundan 4 adalah Gus Sholah, pungggawa RFS SF Purwodadi yang selama ini dikenal sebagai pemain dan spesialis murai batu. Sebagai pemain yang sudah malang melintang di kancah perburungan tanah air, even kolosal seperti Piala Pasundan jadi ajang adu kualitas burung sekaligus silaturahmi.

Perjuangan menuju Piala Pasundan 4 dimulai dengan perburuan tiket yang sulit didapat. Meski akhirnya mendapatkan tiket, Gus Sholah harus merogoh kocek lebih dalam karena harga yang diperoleh sudah di atas rata-rata harga normal. “Iku tiketku wis tak batheni ae, ijek arep diliyakne. Even-even ngene ki ncen calo le menang banyak. Praktik seperti itu sebaiknya diberantas,” selorohnya.

 

RFS-PURWODADI. LANJUT KE BANDUNG LAUTAN API

 

Datang dan melihat langsung kinerja gaco milik sendiri sudah menjadi kebiasaan dan memberi kepuasan baginya. “Kalau nggak ndelok langsung, rasane kok kurang marem,” terangnya. Kondisi lapangan di Piala Pasundan 4 yang kurang ideal mengingat jarak peserta ke lapangan yang terlalu jauh dan sudut pandang terbatas sempat membuatnya kecewa. Apalagi hanya satu orang yang diijinkan untuk masuk ring satu.

Joh Crust, kru RFS yang masuk ke ring satu untuk melihat kinerja murai batu Sanjaydut mengakui apabila gaco yang dikawalnya memang kurang maksimal. “Kelas utama nggak masuk, memang kurang maksimal manuke, kan ketok gonku pinggir pol, gantangan 28. Tapi nggak bakalan kapok, Bandung Lautan Api, kita gas lagi,” paparnya.

 

JOHN CRUST RFS. KURANG PUAS DENGAN KELAS UTAMA

 

Secara pribadi John mengaku kurang suka dengan kondisi lapangan Piala Pasundan 4. “Kalau aku pribadi kurang suka. Selain hanya bisa melihat satu blok, banyak bos yang bisa masuk padahal aturannya 1 tiket 1 orang, tapi faktanya beda. Pas kelas utama tadi juga kurang puas. Aku mendukung yang protes karena menurutku burunge yang protes memang lebih layak,” tandasnya.

Di kelas Murai Batu Pasundan, memang ada beberapa peserta yang melancarkan protes karena kurang puas dengan keputusan juri. Salah satunya adalah Cimahi Team yang menurunkan murai batu Cobra di Gantangan 52. “Nominasi doang, burung kerja dari awal tapi hanya dapat nominasi doang. Dari Cimahi Team, Om. Gantangan lima dua,” ungkap salah satu kru Cimahi Team.

 

CIMAHI TEAM. BURUNG KERJA DARI AWAL HANYA DAPAT NOMINASI

 

Keberanian untuk bertarung juga ditunjukkan oleh Perwira Muda SF Jepara yang membawa murai batu Leonis. Termasuk gaco langganan juara di Pantura Timur, Leonis yang sedang dalam kondisi onfire (siap tempur) langsung digelandang ke Piala Pasundan 4 dengan keyakinan dan optimisime tinggi. Meski bagi Perwira Muda kinerjanya cukup apik, tapi Lionel gagal masuk nominasi karena bukan selera dan pilihan juri.

Sempat memprotes keputusan juri, SF asal Jepara ini harus menelan kekecewaan karena keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Meski hanya juri yang tahu materi, irama lagu, dan suara yang dikeluarkan, Lionel terlihat kerja maksimal bila dilihat dari luar gantangan. “Moga-moga keputusan juri kali ini benar-benar tepat dan sesuai fakta lapangan. Jangan sampai lomba burung berkicau menjadi ajang pembodohan,”.

 

PERWIRA MUDA SF JEPARA. BIDIK PIALA KRETEK KUDUS

 

Kurang beruntung di Piala Pasundan 4, Perwira Muda SF tak jera untuk ambil bagian di even-even akbar lainnya. Mengandalkan amunisi-amunisi milik sendiri seperti murai batu Lionel, cucak hijau Tiger, kacer Petaka, love bird Soimah, Serdadu, dan Ratu Shima, Perwira Muda SF mulai membidik Piala Kretek.  

Pengalaman berharga juga didapatkan oleh H. Wahyu, punggawa Cristal WJ SF Pemalang yang datang ke Piala Pasundan 4 dengan membawa murai batu Mercy. Incar tiket utama Murai Batu Pasundan, harapan Mercy untuk naik podium di kelas utama pun pupus karena tak mendapatkan tiket. “Sebenarnya pengen turun di kelas 5 juta, ternyata nggak ada cancelan. Kalau yang kelas 3 juta, kita sudah dapat,” terangnya.

 

Hari gini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

 

Dikenal sebagai salah satu murai batu papan atas di Pantura Barat, Mercy tampil menggebrak sejak awal digantangkan dengan aksi ngerol nembak dan gaya sujud-sujud. Umbar koleksi lagu yang dimiliki, Mercy pun sempat membuat perhatian juri tertuju padanya. Sayang, dewi fortuna kurang berpihak pada murai batu andalan Cristal WJ SF ini karena terlalu ngotot dan sempat terpeleset dari tangkringan.

Sebenarnya Mercy burung pelapis, seharusnya Ferrari yang diturunkan namun sedang mabung. Melihat kerja Mercy tadi tetap bangga, meskipun tak juara. Apalagi lawannya merupakan burung-burung terbaik tanah air,” ungkap pengusaha sukses ini.

 

 

Datang bersama rombongan tim Cristal WJ SF Pemalang, Nasroh Randudongkal yang menurunkan cucak hijau Dolar bisa tersenyum bangga setelah amunisinya masuk sepuluh besar. Meski belum menjadi yang terbaik dan membawa pulang tropi ikonik Piala Pasundan, penampilan Dollar tak mengecewakan.

“Awalnya memang sudah nggak niat berangkat karena kondisi burung yang kurang prima. Meski kondisi dipaksakan, alhamdulillah Dollar bisa masuk sepuluh besar,” ungkapnya.

 

PUTRA HERMAN. LOMBA SAMBIL LIBURAN GRATIS BARENG KELUARGA

 

Datang bersama keluarga, Putra Herman datang ke Piala Pasundan 4 untuk berlomba sekaligus tamasya. Menurunkan kenari Kejora dan Calo, punggawa Bolo Manuk Jogja ini dapat tersenyum setelah keduanya berhasil masuk sepuluh besar. Kejora berhasil menduduki posisi empat di kelas Kenari Standar Kecil Gass Poll, sementara Calo menduduki posisi delapan di kelas Kenari Standar Kecil RGN. Meski belum menjadi yang terbaik, keduanya mendapat pujian dari berbagai pihak.

Salah satu yang tertarik dengan kinerja Kejora adalah seorang kenarimania asal Makasar. Setelah proses tawar menawar secara singkat terjadi kesepakatan harga antara keduanya. Kejora pun langsung dibawa terbang ke Makasar. Soal harga keduanya sepakat untuk tidak mempublikasikannya.

 

 

“Mungkin ini yang dibawakan rezeki dan liburan gratis. Memang dari dulu kalau turun lomba kami hanya mengandalkan kualitas burung dan biarlah penonton yang menilainya. Terbukti kan, walaupun tidak jadi juara, burung langsung ada yang meminang,” ujarnya.

Dalam sebuah even kolosal selevel Piala Pasundan 4, selalu ada cerita menarik dari pemain yang menang maupun kalah. Bagi kicaumania sejati, berulang kali kalah pun tak akan membuat mereka putus asa atau menyerah. Mereka tak pernah jera, mereka akan selalu kembali turun di even-even akbar lainnya. [tim]

 

DATA JUARA PIALA PASUNDAN 4, KLIK DI SINI

BROSUR BANDUNG LAUTAN API CUP 4, KLIK DI SINI

 

 

 

KATA KUNCI: piala pasundan 4 rfs cimahi team perwira muda putra herman

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp