WALUYO DAN ISTRI, PELOLOH BURUNG, DAPAT MODAL DARI BANK


POTRET KELUARGA DI SOROBUJAN, JIMBUNG, KLATEN: Istri ke Sawah, Suami di Rumah Meloloh Burung

Sementara perbankan sudah menjadikan para peternak dan peloloh burung sebagai mitra bisnis yang bisa diandalkan, pemerintah justru tampak belum “menganggap” keberadaan mereka. Simak penjelasannya dari potret keluarga Waluyo, salah satu peloloh burung di Klaten.

Rumahnya bersahaja, tampak serupa dengan rumah-rumah lain di sekitarnya yang cukup padat dan berimpitan. Halamannya cukup luas, dengan beberapa rumpun pohon pisang. Namun untuk menjangkaunya harus jalan kaki melewati gang yang cukup sempit, kalau pun memakai sepeda motor atau sepeda ontel, harus dituntun.

 

 

Waluyo, pemilik rumah itu, menyapa dengan ramah, mempersilakan masuk. Di ruang tamunya, ada puluhan kardus bekas yang ditaruh berderet di lantai. “Ini terhitung sedikit, beberapa waktu lalu ruangan ini penuh,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Waluyo tinggal di dusun Sorobujan, Jimbung, beberapa kilometer selatan kota Klaten. Ia adalah salah satu peloloh burung yang masih bertahan hingga sekarang.

Sudah sekitar 5 tahun terakhir Waluyo lebih banyak tinggal di rumah, hari-harinya hanya untuk merawat dan meloloh “bayi” burung jalak. Di kalangan para peternak dan peloloh burung di Klaten, bayi yang baru lahir atau menetas itu disebut sebagi abangan. Ia membeli abangan jalak suren umur 1 hari saat baru menetas dari para peternak di sekitar tempat tinggalnya.

 

 WALUYO DI TERAS RUMAHNYA, BERSAHAJA TETAPI TENTERAM

 

“Sudah sekitar lima tahun terakhir saya hampir di rumah terus mengurus burung, sementara yang mengurus sawah ladang istri saya. Baru di malam hari, istri ikut membantu mengurus burung,” jelas Waluyo.

Puluhan kardus bekas yang ditaruh di lantai ruang tamunya ternyata berisi anakan jalak yang ia rawat dan loloh sejak masih abangan. Ini tentu saja hal yang menarik, karena berbeda dengan para peloloh lain. Umumnya, para peloloh menggunakan box kombinasi dari papan kayu dan kaca yang dilengkapi pengatur suhu otomatis.

“Saya awalnya dulu, sewaktu masih coba-coba atau masih belajar, juga menggunakan box yang beli. Tetapi kurang berhasil. Tingkat matinya termasuk tinggi, makanya saya mencoba-coba sendiri dengan media yang lebih sederhana, tetapi malah hasilnya lebih bagus. Risikonya lebih rendah, baik kematian maupun cacat,” imbuhnya.

 

 

Kardus bekas digunakan sebagai media untuk meloloh, diberi lobang bagian atasnya sedemikian rupa, dilengkapi penghangat bola lampu, serta lembaran plastik yang bisa dibuka tutup. Untuk alas, Waluyo menggunakan pelepah pisang kering yang sudah disayat-sayat.

Fungsi plastik adalah untuk menjaga suhu saat listrik mati, ditutup supaya tetap hangat.

“Kardus ini hanya untuk sekali pakai. Begitu anakan kita angkat untuk dijual, apakah saat umur 12 hari atau sudah nangkring, ya dibuang. Kalau ada anakan baru yang datang, ya pakai kardus dan perlengkapan lainnya yang masih baru,” Waluyo terus menjelaskan secara detil.

Tidak sembarang kardus yang dipakai, yang dipilih adalah kardus bekas tempat bahan makanan seperti bekas mie instan, minyak goreng, kue, dan lainnya. “Kalau bekas sabun, dan semacamnya tidak kita pakai. Takut masih membawa kandungan yang tidak baik buat burung yang masih bayi.”

 

 

Kenapa setelah beralih ke kardus hasilnya lebih baik ketimbang memakai box yang lebih modern? Menurut pemikiran Waluyo, karena lebih terjamin kebersihannya.

“Kan hanya sekali pakai. Kalau box yang harus beli itu kan dipakai berulang kali, mungkin ya bisa saja masih ada sisa virus, bakteri, atau kuman menempel apakah itu dari piyik sebelumnya, atau dari kotoran sebelumnya. Walaupun sudah dicuci secara periodik dengan sabun, namanya kuman dan sebangsanya itu kan barang tidak terlihat. Mana kita tahu.”

Selain karena alasan kebersihan, menggunakan kardus bekas juga diangap lebih hemat. “Apalagi alasnya dengan pelepah pisang, kan tidak perlu beli. Prinsipnya ya bagaimana bisa melakukan penghematan, tapi hasilnya bisa bagus. Kan modal yang kita pakai uang dari bank, itu kan tidak gratis, kita harus disiplin dan tertib nyicilnya, jadi harus hati-hati dan teliti membelanjakannya.”

Pakan juga menjadi faktor yang mempengaruhi hasil. “Untuk piyik yang masih bayi, abangan, kami memakai campuran Topsong for breeding dan jangkrik yang sudah ditumbuk halus. Pilihan Topsong karena selain kandungan tinggi protein yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, kalau dibuat lolohan basah atau bubur, butirannya juga sangat halus, aman buat pencernaan bayi burung. Kalau sudah agak besar, perlahan kita ganti dengan voer curah yang lebih murah harganya.”

Sementara obat yang tersedia buat jaga-jaga kalau burung sakit, Waluyo dan banyak peternak serta peloloh di Klaten selama ini mengandalkan pada Super N. Untuk pencegahan di saat cuaca tak menentu, baik juga dicampurkan dengan lolohan.

 

 

“Walaupun kami berusaha melakukan yang terbaik, terkadang masih tetap ada yang mati atau cacat seperti kaki lumpuh. Namanya makhluk bernyawa, pasti ada risiko seperti itu. Setidaknya masih dalam batas yang secara keseluruhan ada sisa keuntungan buat kami supaya bisa terus melanjutkan usaha ini.”

Waluyo membeli abangan atau indil umur 1 hari, seharga 125 ribu per ekornya. Bila mau dijual pada umur 12 hari, harganya 380 ribu sepasang (2 ekor), atau seekornya 180 ribu. Kalau sampai nangkring atau umur 27-30 hari, harganya sudah 500 ribu sepasang, atau per ekornya 250 ribu. Bukankah cukup menggiurkan?

Pada saat para peternak tetangganya lagi bagus-bagusnya produksi, Waluyo pernah meloloh sampai 70 pasang. “Kalau sekarang ya hanya tersedia segini, antara 20 – 30 pasang saja. Ya lumayan buat kesibukan, habis kalau tidak meloloh burung, juga mau kerja apa lagi.”

Waluyo dan banyak peternak maupun peloloh, berharap besar ada semacam bimbingan dan pendapingan dari pemerintah. “Sekarang ini, ibaratnya kami tidak punya bapak-ibu asuh, tidak seperti bidang peternak yang lain. Kalau dibilang secara dagang kurang bagus, nyatanya bank saja mau ngasih modal, bisa sampai 50 juta rupiah. Kami berharap pemerintah, mungkin melalui Dinas Pertanian dan Peternakan, juga mulai membuka mata hingga melirik dan peduli pada kami,” ujar Waluyo penuh harap.

 

 

Selama ini, para peternak dan peloloh burung di Klaten memang masih merasa dianaktirikan, dengan para peternak lainnya, katakanlah ayam, kambing, kelinci, dan lainnya. Ternak burung seperti jalak dan jenis yang lain, berikut usaha turunannya seperti para peloloh, tampaknya belum dianggap sebagai “peternak”, sehingga lepas dari perhatian, apalagi pembinaan.

Sugiyarto, salah satu tokoh peternak burung yang kerap diminta untuk mewakili rekan-rekannya juga membenarkan hal itu. “Saat ini bank juga mau menggelontorkan dana permodalan sampai dengan 50 juta untuk para peternak dan peloloh burung dengan persyaratan yang mudah, masa pemerintah masih meragukan kelayakan bisnisnya.”

Menurut Sugiyarto, selama ini para peternak burung bernaung di bawah Kementrian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. “Itu lebih dari sisi bagaimana memanfaatkan sumber daya alam supaya tetap memperhatikan keselarasan dan kelestarian lingkungan, belum menyentuh aspek bisnis atau ekonominya.”

 

Hari gini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

Saat ini, jumlah peternak jalak uren, jalak putih, jalak bali, murai batu, cucak rawa, dan lainnya di Klaten juga sudah menurun drastis. “Bukan karena secara ekonomi tidak menarik, tetapi banyak yang ketakutan waktu muncul Permen tahun 2018 yang lalu. Walau pun Permen itu sudah direvisi, namanya orang desa sudah terlanjut takut, malas ribet dan kuatir kalau sampai berurusan dengan pihak berwajib, kan sulit juga buat meyakinkan.”

Meski sudah tidak semeriah beberapa tahun lalu, namun desa Jimbung dan sekitarnya masih menjadi sentra para breeder dan peloloh burung, utamanya jalak suren dan jalak putih. Meloloh burung masih menjadi salah satu profesi warganya.

Hampir di tiap RT atau dusun, bisa jumpai peternak dan peloloh burung. Usaha turunannya pun ikut menopang, seperti pengepul atau pedagang burung, hingga penjual peralatan, media, dan pakan burung.

“Masih ada ribuan peternak, serta ratusan peloloh. Jumlahnya memang sudah menyusut jauh. Sebenarnya yang kami butuhkan adalah ada bimbingan, pendampingan, butuh bapak asuh, baik secara teknis, hingga kemudahan akses pada modal. Selain itu untuk jenis burung dilindungi seperti jalak putih dan jalak Bali, adalah kemudahan mengurus perijinan. Selama ini seakan tak ada yang peduli, kami dibiarkan berjuang sendirian,” tandas Giyarto. [maltimbus]

 

 

KATA KUNCI: keluarga waluyo permen 20/2018

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp