LOVE BIRD BULU DADA KAPAS


PENILAIAN FISIK DI KELAS LOVE BIRD FIGHTER: Bulu Dada Kapas (Nyerat), Layak Koncer Atau Tidak?

Tidak utuhnya bulu love bird di sebuah lomba burung berkicau biasanya akan memancing keributan dan protes dari pemain lain. Kalau love bird ciak bulu (cibul) dianggap cacat fisik dan tidak dinilai, bagaimana nasib love bird bulu dada kapas (nyerat)? Layak koncer atau tidak?

Keberhasilan love bird Jambrong meraih dua kali podium pertama alias double winner di kelas Love Bird Fighter Kontes Spesial New Pakisan BC Jaya memang tak mendapat komplain dari peserta lain meskipun bulunya tidak utuh (dadanya berbulu kapas). Selain poinnya jauh meninggalkan rival-rivalnya, salah satu faktor yang membuat Jambrong tidak mendapat komplain adalah tidak dianggap ciak bulu (cibul) karena kulitnya tidak sampai terlihat.

 

 

MBAH GEJUT. BULU DADA KAPAS, LB JAMBRONG CETAK DOUBLE WINNER

 

Dalam sistem stik poin, penilaian fisik love bird memang hanya dilakukan di awal atau akhir baik oleh juri di blok tersebut maupun korlap. “Nak nang Klaten, manuk ngunu kui biasane ijek oleh, soale kulite nggak sampai ketok, ora cibul. Pemain-pemain yo wis paham, nggak bakalan komplen. (Kalau di Klaten, burung seperti itu masih diperbolehkan karena kulitnya nggak sampai terlihat, bukan cibul. Pemain-pemain juga sudah paham, jadi nggak bakal komplain – red),” terang Breza TE yang bertugas sebagai korlap.

Hal senada diungkapkan Londo yang bertugas sebagai IP yang menganggap kalau Jambrong tidak masuk cacat fisik karena tidak ciak bulu. “Dimanapun kalau ciak pasti dibilang burung cacat fisik otomatis nggak boleh dinilai. Kalau burung yang kemarin kan bukan ciak, bulu masih utuh, cuma nyerat-nyerat kesannya emang ciak tapi kalau ditonton nggak bolong dan layak dinilai,” ungkapnya.

 

Hari gini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

“Karena di New Pakisan BC Jaya ada Liga Love Bird Fighter, Aku sebagai IP sudah mengumumkan apabila ciak parah tidak sah, cacat fisik tidak dinilai. Ciaknya juga dilihat kalau hanya bolong sedikit mosok nggak boleh. Sebelum naik biasanya kita umumkan lebih dulu biar nggak ada dusta di antara kita,” lanjutnya.

Dari pengamatan burungnews.com, sebagian besar EO di Klaten, baik mainstream maupun independent memang sudah bergeser ke sistem stik poin karena dianggap lebih transparan dan lebih diterima. Dalam penilaian stik poin penilaian hanya didasarkan poin yang didapat dan cenderung tidak ada penilaian fisik, baik cacat bawaan maupun cacat penampilan/kondisional.

 

 

Pengakuan Mbah Gejut yang mengungkapkan selama ini tidak pernah ada masalah untuk fisik Jambrong di berbagai lomba yang diikuti membuat burungnews penasaran benarkah love bird berbulu dada kapas (nyerat) memang diperbolehkan dan layak koncer? Burungnews mengirimkan gambar love bird berbulu dada kapas ke sejumlah juri dan pemain di area Klaten, Jogja, dan Solo Raya, apa pendapat mereka?

 

"Masih bisa dinilai, yang penting tidak terlihat kulitnya. Pemain lain mungkin bisa terima selama EO-nya tegas. Sekarang yang dicari pemain itu pakem paling mudah kayak stik poin itu, apapun akhirnya dibuat mudah, yang penting pemain seneng. Contoh paling sederhana di sistem stik poin itu burung durasi bisa kalah sama burung receh. Kalau sistem stik poin seperti sekarang, burung seperti itu justru masih dinilai. Kalau pakem independent seperti dulu justru susah. Independent ada aturan lomba dimana dulu burung dinilai dari keindahan juga. Aku pernah gantang cibul leher nggak masuk, padahal cibulnya nggak parah,”

[Gunawan Nusantara – Love Bird Lovers Klaten, Founder LKB, Youtuber]

 

“Tergantung sistem dan aturan/tata tertib dari penyelenggara. Kalau sistem teriak seperti dulu mungkin tetap dinilai tapi mungkin nggak bisa koncer karena kena di fisik. Tapi kalau sekarang di sistem stik poin, mungkin tetap dinilai. Kalau penyelenggara punya aturan/tata tertib bahwa burung yang kena fisik tidak dinilai ya mungkin tidak dinilai, tapi kalau di aturan/tata tertib tidak ada, ya tetap dinilai. Kalau di daerah Klaten sekarang ini kelihatannya boleh. Lha wong sistemnya pakai stik poin dan tanpa aturan/tata tertib dari penyelenggara,”

 

[Andi Cosmo – Juri Independent Klaten]

 

“Untuk akhir-akhir ini setelah penilaian love bird pakai stik dihitung ngekek e tok. Kalau pengertianku di independent dulu itu mengurangi penilaian, dan mungkin nggak dinilai karena penampilan. Itu sebelum pakai stik. Kalau sistem stik di Plembon sekarang burung seperti itu tetap dinilai. Menang atau tidaknya tergantung keputusan EO dan lihat fakta lapangan, ada burung yang kerja atau tidak. Burung seperti itu kalau aku pribadi, di sistem poin tetep menang, tapi selanjutnya aku tegur karena penampilan biar tidak timbul omongan dari pemain lain. Tapi kalau pemain lain nggak masalah, tetep boleh. Masalahnya untuk love bird sekarang yang dihitung kan poinnya. Susah juga si. Keputusan ngambang,”

 

[Bimo Ananto – Juri Independent Klaten dan Jogja]

 

 

“Di Handayani BC, penilaian love bird pakai sistem stik poin. Burung seperti itu tetap kita nilai, nggak ada pengurangan nilai. Kebetulan di sini kan masih banyak pemain awam. Jadi penilaian kita buat sederhana, kalau bulunya seperti itu tetap kita nilai tanpa ada pengurangan. Kebetulan di sini ada burung seperti itu durasinya dua menit lebih. Selama ini kalau burung itu kerja nggak ada yang komplain,”

 

[Cak Parno – Juri Handayani BC GK]

 

“Fisik ki kenenge neng penilaian selain sistem stik. Nek sistem stik, waton muni dibiji. Ket ndisik okeh yo juara. Penting muni. Kecuali sing sistem coretan atau nganggo teriakan, non stik, manuk fisik, mudun, dll keno pengurangan (Fisik itu kenanya di penilaian selain sistem stik. Kalau sistem stik, asal bunyi pasti dinilai. Dari dulu banyak yang jadi juara, yang penting bunyi. Kalau sistem coretan atau pakai teriakan, non stik, burung fisik, turun, dll kena pengurangan-red),”

 

[Iput Tipeng – Juri Ronggolawe Klaten]

 

“Burung kayak itu tetap dinilai kalau di Boyolali, kaki di ruji satu, paruh masuk ruji, paruh gigit ruji masih kita nilai. Kalau merambat di ruji dan nebok baru nggak dinilai. Gawe love bird muni nang gantangan ae susah, malah dipersusah aturane lak yo repot. Yang penting fighter tetap trek, ada respon nguek-nguek. Aku pernah menilai love bird yang dada rontok habis, ekor masih ada, nggak ada masalah

 

[Dobleh – Juri Independent Boyolali]

 

“Kalau di Sragen kota tinggal EO-nya bagaimana. Kalau di Gapura Reborn, masih bisa. Tapi kalau EO lain seperti Mahesa Jenar dinilai tapi nilai dipotong 50%, kalau di BOSS kurang tahu, yang ngecek Pak Antok, pilihannya boleh atau tidak boleh. Love bird cibul masih bisa koncer hanya di Gapura Reborn, tapi kalau event, pakem penilaiannya bisa berbeda. Pakem menyesuaikan apa maunya penyelenggara saat rapat,”

 

 Mardi Lentho – Juri Independent Sragen]

 

 

“Bisa. Selama belum terlihat dagingnya dan masih terselimuti bulu. Kita juga nggak bisa ngejustifikasi itu fisik, bisa jadi itu faktor keturunan. Itu kalau pemilik pasti bertanya yang cacat fisik yang seperti apa, toh di gantangan dia juga tidak menunjukkan kalau ciak bulu (cibul). Itu bulunya kan masih menutupi daging, kecuali kalau berlubang (growong), dagingnya sampai kelihatan mungkin masuk cacat fisik. Kalau seperti itu tadi, kalau ada peserta yang kritis, juri mau jawab apa?,”
“Wong itu bulu juga masih tertutupi sama dengan yang lainnya, hanya warnanya itu putih, apa salahnya kalau warna love bird warnanya putih di dada. Walaupun itu indikasinya ada ciak bulu (cibul). Tapi untuk ketentuan fisik itu kan sebenarnya kalau growong atau terlihat dagingnya, jadi kita juga harus jeli untuk menjawab,”
“Masih bisa dinilai, tapi untuk pengurangan nilai karena fisik tinggal kebijakan EO masing-masing. Karena pengurangan nilai itu sebenarnya mengacu ke cacat fisik yang fatal. Tapi kalau saya rasa yang seperti itu pengurangannya nggak terlalu signifikan, ada juga yang tidak dikurangi, karena faktor-faktor itu tadi,”
“Untuk respon pemain lain pasti kurang bagus, mereka pasti akan ngedumel burung kayak itu kok boleh main. Untuk wilayah Karanganyar sendiri, belum ada burung yang seperti itu karena pemain di sini lebih memilih burung yang normal, yang bulu normal. Untuk burung seperti itu di Karanganyar sudah hampir nggak pernah ditemui. Untuk catatan, love bird cibul di Karanganyar masih dinilai, untuk bolong sampai kelihatan dagingnya masih dinilai, paling nanti ada pengurangan poin. Sebelumnya pemain-pemain yang punya burung seperti itu sebaiknya tanya dulu ke panitia biar gamblang,”

 

[Rimba Star – Juri Independent Karanganyar]

 

“Ciak bulu nggak bisa koncer A/B/C, nggak ada pengurangan nilai, tapi nggak bisa masuk tiga besar. Jadi, kalau poinnya tinggi, otomatis juara empat. Kalau nggak ciak, nggak bolong, masih bisa. Kalau bulu rusak kayak foto tadi pemain biasane tetap grundelan. Pasti sepintas dikira ciak bulu, mending dicek ke panitia dulu sebelum main, takute nanti banyak yang protes. Kalau menurutku pribadi cenderung ciak itu, soale bulu,”

 

[Donat – Juri IKM dan BnR Sragen]

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

“Dilema seperti itu, juri-juri senior tetep nggak bisa kasih A, soalnya seni keindahannya hilang, termasuk ciri fisiknya. Sama dilihat musuhnya kalau ada yang mengimbangi ya mungkin bisa kalah. Kalau di sistem teriak poin, kolom penilaian fisik masih ada. Kalau di Sukoharjo burung seperti itu buat banding-banding, kalau kerjanya paling mencolok, mau nggak mau ya terpaksa A, kalau ada sing ngimbangi ya kalah, soale dianggep cibul. Kalau cibul tetap ada pengurangan nilai,”

 

[Agus Wiharmoyo – Juri Independent Sukoharjo]

 

“Kalau fisik seperti itu nggak bisa, Bro. Boleh main tapi nggak bisa juara satu, tetap pengurangan. Di RGN nggak bisa. Kalau Independent, fisik juga ada pengurangan, sama saja. Kasihan pemain lain kalau burung itu juara, diprotes sama pemain lain, mending nggak boleh main, kalau main mungkin nggak bisa juara,”

 

[David Prakosa – Juri Independent dan RGN]

 

“Kalau kelas Fighter, burung kayak gitu nggak dinilai karena cibul, bulu kurang sempurna, penilaian fisik. Kalau di kelas Fighter tidak dinilai karena ada kriteria bulu harus rapi. Kalau di kelas Bebas Aksi mungkin dinilai. Itu tergantung kebijakan daerah masing-masing. Cibul kalau masih satu sap bulu masih bisa main di kelas fighter, tapi nak sampai kelihatan kulite parah nggak bisa ikut kelas reguler, ikutnya kelas bebas aksi. Tapi ini ada perubahan pakem di kelas love bird, belum dishare nang divisi juri, nungg yang terbaru dulu,”

 

[Admaja – Juri Oriq Jaya]

 

VitaMix METABOLIS, atau lebih dikenal sebagai Metabolis Putih, cara baru, mudah, dan cespleng menggacorkan burung. Mudah didapat di kios-kios burung. Buktikan.

 

“Kalau untuk penilaian fisik di JIS itu bisa kena kalau dilihat secara kasat mata ketika digantangkan, misal cacatnya di bulu, itu kelihatan secara kasat mata, itu tidak boleh. Misalkan cacat tapi tidak tampak oleh juri maupun peserta, tidak masalah. Asal tidak ada peserta lain nggak ngasih tahu ke kita, itu beda cerita. Yang penting ketika di atas, fisiknya tidak nampak cacat, itu nggak masalah,”
“Cibul kalau cuma sebatas ngalung nggak pa pa, kroak dikit leher tidak sampai kelihatan kulitnya, dalam artian cibul 5%, kalau sudah nampak kulit nggak usah didaftarkan. Kalau burung itu digantangkan, pasti nanti saya infokan tiketnya dikembalikan saja karena kan bikin kontoversi antara kalau tidak dinilai juga salah karena burung sudah digantang. Jadi kalau sudah digantang, burung bisa saya turunkan, tiket saya kembalikan, daripada bikin pro kontra. Pakem di kita masih durasi, kerajinan, dan fisik,”
“Kemarin di Love Bird Cup 2021 ada juga burung seperti itu, sebelum gantang tanya ke saya, saya terus bilang nggak usah didaftarkan karena nanti percuma kalau burung digantang, nanti paling mohon maaf, burung saya turunkan, tiket dikembalikan. Jadi, kita carinya durasi, kerajinan, dan fisik, jadi melengkapi semua. Karena kalau burung seperti itu nanti juara istilahnya jadi juara tidak perfect dalam artian tidak melengkapi semua fisik,”
“Kalau pengurangan nilai di JIS itu tidak ada. Di JIS itu tidak bisa mengurangi nilai burung kerja, tapi dari awal sudah diinfokan burung-burung yang kelengkapan fisiknya kurang banyak itu dari awal sudah tidak boleh mendaftar. Misal ada burung yang tidak lengkap fisiknya, diinfokan saja tidak usah didaftarkan,”

 

[Topan - Juri JIS]

 

Apapun problem "bunyi" pada burung Anda, dari mulai MACET sampai hanya mau tampil angot-angotan, berikan MONCER-1, tunggu beberapa hari, langsung JOSS.

 

“Kalau menurutku itu jelas kena fisik, karena beda dengan love bird lain, itu bulunya secara kasat mata terlihat kurang sempurna. Mungkin itu gawan bayi (bawaan), bukan ciak bulu, tapi menurutku itu tidak lazim. Berbeda dengan love bird-love bird pada umumnya. Kalau kena fisik tetap nggak bisa nomor satu, dua, atau tiga. Untuk mencari juara satu, dua, tiga, kita tetap cari yang sempurna.
“Baik di sistem stik poin maupun coretan, kalau sudah kena cacat fisik lebih baik tidak dilombakan. Kalau kata Bang Boy untuk menentukan burung yang cacat fisik itu seperti apa tinggal kita lihat burung normal seperti apa, kalau di luar itu ciri-cirinya berarti cacat fisik. Kalau menurutku pribadi, itu masuk cacat fisik karena bulunya nggak lazim, berbeda dengan love bird pada umumnya. Kalau ketemu burung seperti itu atau cibul biasanya juri yang pegang akan lapor ke korlap. Korlap yang menentukan lanjut atau dibalikin tiketnya.
Kasihan juga nanti kalau kerja maksimal tapi nggak ada nilainya. Untuk pemain-pemain yang punya love bird bulunya nggak sempurna atau cibul, silahkan diistirahatkan lebih dulu sampai bulunya utuh. Secara prinsip tidak ada pengurangan nilai di BnR, yang sering terjadi adalah kalau ada burung yang sama-sama bagus, banding-banding biasanya dilakukan melalui panjang durasi dan volume.

 

[Kotrex - Juri BnR]

 

 

“Kalau secara kasat mata itu jelas sekali, kemungkinan untuk menjadi juara itu kecil sekali. Karena sudah tertera dalam AD/ART PBI, baik itu cacat dari bawaan maupun kondisional sama saja, burung yang cacat secara fisik tidak bisa koncer”
“Sebenarnya cacat secara fisik itu secara kasat mata burung itu mengalami gangguan fisik yang ada pada umumnya burung. Misalnya cacat fisik yang secara jelas seperti kaki putus, mata buta, atau kelainan fisik lain, tak terkecuali cacat fisik bulu, semisal rontok, bulu tidak beraturan, yang secara kasat mata, burung tersebut lain secara fisik dengan burung sejenis dalam kondisi normal”
“Jadi kalau bulu ngapas menurut saya itu sudah termasuk kategori cacat fisik, secara kasat mata bulunya sudah tidak beraturan dan kurang enak dilihat, fisiknya juga sudah berbeda dengan burung yang sejenis dalam keadaan sehat dan normal pada umumnya. Menurut saya itu karena burung itu ada kelainan baik birahi, over protein, dll. Menurut saya pribadi, untuk menjadi juara di tiga besar kok kurang pantas. Tapi untuk masuk 10 besar masih bisa apabila burung tersebut memang bagus secara kualitas”
“Kita nggak bisa memberikan burung tersebut sebagai kandidat juara 1, 2, 3 meski secara kerja mungkin lebih unggul dari burung-burung lain, tapi burung tersebut punya kelemahan secara fisik. Yang pasti kita tidak boleh mengeksploitasi burung secara berlebihan, biarkan burung juga memiliki kesempatan untuk istirahat, ganti bulu, berkembang, dll.

 

[Wawan - Juri PBI]

KATA KUNCI: love bird bulu kapas penilaian love bird penilaian fisik

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp