MAMAT TO, KELAS TERSISIH, PAKEM TIDAK KARUAN, BIKIN CENDET SEPI


RENUNGAN DI SAAT LIBUR, #1

Sadar Sering Dibohongi, Tapi Besuk Lomba Lagi

Siang itu, Mamat masih sibuk merawat puluhan burungnya. Ada murai, kacer, bahkan juga branjangan, dan jenis yang lain. Namun, kenapa cendet atau pentet yang membesarkan namanya justru tidak ada?

Karena belum nemu yang bagus atau cocok menurut ukurannya, atau faktor lain?

“Belum nemu yang bagus iya, tapi memang tidak menggebu-gebu mencari cendet. Banyak juga teman yang dulu main cendet sekarang tidak sesemangat dulu. Sepi menjadi alasan lain mengapa jadi malas memelihara dan melombakan cendet,” ujarnya kepada burungnews.

Kenapa cendet yang pada masanya pernah menjadi kelas yang ramai dan prestise, sekarang bisa menurun drastis, Mamat pun mencoba menerka-nerka sebabnya.

“Banyak sekali ya. Misalnya, pas love bird lagi ramai-ramainya, kelas dibuat banyak. Kelas ocehan termasuk cendet jadi tersisih, seakan hanya jadi pelengkap saja. Jadwalnya dibuat belakangan, sudah sore bahkan kadang sudah gelap. Jadi malas bawa cendet, karena hampir pasti sulit mau tampil maksimal, nunggunya juga terlalu lama,” imbuhnya.

 

Apapun problem "bunyi" pada burung Anda, dari mulai MACET sampai hanya mau tampil angot-angotan, berikan MONCER-1, tunggu beberapa hari, langsung JOSS.

 

Soal berikutnya adalah pakem yang sekarang menjadi rancu dan tidak jelas. “Setelah banyak gantangan atau EO, kemudian bikin aturan sendiri-sendiri, lalu secara umum malah semakin menjauh dari mencari burung kualitas. Hal ini tak hanya berlaku pada cendet saja, tapi juga pada jenis ocehan lain secara umum.”

Mamat lalu mencontohkan, dari event-event belakangan ini yang banyak diamati dan diikuti, mulai skala latber hingga lomba besar, yang dimenangkan cenderung burung yang “aman”.

“Saya punya burung yang menurut saya istimewa dan tampil maksimal, tapi kalah. Saat saya tanya, katanya burung saya kurang anteng, burung saya ada lompatnya. Semacam itu.”

Padahal, menurut Mamat sambil tak lupa mengucap maaf, burung yang anteng satu titik, umumnya kurang volumenya, kurang mbongkar juga lagunya. Okelah kalau burung berimbang, lalu para juri lebih memilih yang anteng bisa dipahami.

“Tapi kalau hanya lompat sebentar, atau pindah pangkringan, lantas jadi alasan untuk membuangnya dari peluang atau kesempatan juara, ya saya kira itu jadi salah satu alasan cendet bahkan jenis ocehan lain kemudian jadi kurang bergairah. Lah, kita yang di luar pagar yang tidak terlalu jauh saja tidak bisa dengar suaranya dengan baik, tidak tahu seperti apa materinya, tahu-tahu malah dapat koncer, lebih karena dia mainnya anteng, dan dari luar mulutnya memang terlihat rajin,” ujarnya kembali menandaskan.

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

Hal itu yang membuat ketika burung menang di skala latber atau latpres, jadi kurang kebanggaannya, atau bahkan nyaris tidak ada. “Beda sama dulu, misalnya saat di Jogja baru ada di Monjali dan Singosaren. Meskipun hanya latber atau latpres, kalau juara bangganya bukan main. Kalau juara di situ, dibawa ke level lomba yang lebih besar juga masih bisa bersaing, bisa juara. Karena pakem dan standar yang dipakai memang masih mendekati sama.”

Disebutkan Mamat, sekarang ikut Latpres tidak bisa buat kebanggaan lagi. Selain buat melatih burung, orang datang ke Latpres sambil berharap burung ada yang mantau dan laku. “Kalau boleh jujur, itu yang antara lain saya lakukan kalau datang ke Latber atau Latpres.”

Sekarang, masalah semakin pelik karena faktor main mata peserta dan juri juga dianggap sudah biasa, sudah wajar, bukan sesuatu yang buruk-buruk amat, bukan dianggap aib. Maka, baik si pemain maupun para juri tetap bisa enjoy, bisa berjalan tegak, tidak ada malu-malunya.

“Saya pernah ngobrol sama beberapa teman yang burungnya kebetulan sering juara. Saya tanya kenapa main juri. Dia jawab, sebenarnya tidak ingin seperti itu, tapi kalau yang lain juga tetap main, ya pasti akan ketinggalan, tidak bisa ngejar. Sementara bosnya pengin juara, keluar duit juga tidak masalah.”

 

Produk ini logonya MIRIP, dibaca / dilafalkan dengan cara yang SAMA, tetapi ditegaskan BUKAN produk yang dikeluarkan TOPSONG. Lihat selengkapnya DI SINI.

 

Nah, kan jadi repot dan pelik, seperti lingkaran setan. Menurut Mamat, banyak teman-teman dari sisi peserta yang punya inisiatif main mata, namun kadang kala juga dari pihak juri yang membuka peluang lebih dulu.

Mamat sendiri mengklaim, dari jaman dulu sampai sekarang, tidak pernah ikut-ikutan main mata dengan juri.

“Jaman dulu, sebelum kongkalikong merajalela seperti sekarang, saya sering masuk juara burungnya, beberapa kali juara 1, paling tidak besar lah, termasuk di event-event akbar. Sekarang boro-boro tiga besar, bisa dapat nominasi 10 besar saja berat sekali.”

Bukan berarti jaman dulu tidak ada permainan, memang. “Ya tetap adalah, tapi rasanya tidak nekad dan kasar seperti sekarang. Burung yang dimenangkan, meskipun itu pengkondisian, setidaknya imbang lah. Sekarang selisih dua setrip pada berani pasang badan.”

Mamat juga punya cerita menarik soal lomba jaman dulu dan sekarang. Dulu, bila akan ada pengkondisian, biasanya ada juri yang akan “kulo nuwun” dulu pada beberapa pemilik burung yang sekiranya jadi pesaing utama.

“Misalnya, karena akan ada transaksi. Itu pernah terjadi saat menjelang lomba prestis di luar kota Jogja. Ada beberapa juri yang kebetulan kenal baik sudah kasih tahu lebih dulu. Mat, kalau burungmu terpaksa kalah, tidak juara 1, yang sabar ya, soalnya ini mau ada pengkondisian seperti ini...”

 

Sebagai obat, terbukti efektif. Sudah sering mampu mengatasi kondisi kritis, apalagi cuma sakit "biasa". Di saat perubahan musim dari kemarau menuju penghujan seperti sekarang, juga sangat baik untuk mencegah dan menjaga agar burung tetap sehat dan selalu dalam kondisi fit, siap tempur. Bisa diberikan secara rutin 2-3 hari sekali sesuai kebutuhan. LEMAN'S, satu-satunya obat burung dengan formula + vitamin.

Lemans bisa dibeli lewat bukalapak, tokopedia, atau hubungi 08113010789, 0822.4260.5493 (Jatim Tapalkuda), 0813.2880.0432 (Jogja dan sekitar), 0815.4846.9464 (Solo Raya dan sekitar), 0813.2799.2345 (Banyumas dan sekitar)

 

Hari yang ditunggu-tunggu datang. “Ternyata, secara materi kualitas burung saya lebih unggul beberapa strip. Juri tidak berani memenangkan burung yang dikondisikan, meskipun itu dalam rangka mau transaksi. Saya kira, karena para penonton, termasuk pihak yang mantau dan berniat beli burung yang dikondisikan, juga sama-sama lihat dan tahu mana yang lebih baik. Bahkan yang bersangkutan saat di pertengahan lomba sudah mendekati saya dan mengakui punya saya lebih bagus. Waktu itu, akhirnya juara 1 dua kali.”

Bagaimana dengan cerita menarik lomba jaman sekarang? “Belum lama, saya ikut lomba besar di Jogja. Saya kebetulan menurunkan kacer. Tampil bagus, volume terdengar jelas termasuk variasi lagunya. Gaya juga oke, menari sambil buka ekor. Saya optimis setidaknya tiga besar masuk. Ternyata meleset.”

Merasa kecewa, Mamat kemudian tanya kepada salah satu tokoh yang kebetulan juga petinggi EO di Yogyakarta. Mamat juga percaya, ia paham burung dan masih punya integritas. Menurut Mamat, sang tokoh lantas merangkul Mamat sambil jalan keluar gantangan.

“Dia berbisik. Mat, kita kan sama-sama tahu. Kita kan sudah sangat sering dibohongi kan, ya oleh panitia, dan terutama oleh para juri. Tapi besuk kita kan tetap saja datang ke lomba. Iya kan. Jadi, coba pikir, siapa yang salah, siapa yang bodoh hayoo.”

 

Hari ini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

Mendengar penjelasan itu, Mamat mengaku langsung terhenyak. “Setelah saya renungkan, benar juga ya. Kalau mau salah-salahan, kita peserta salah juga.”

Lomba yang bikin “kecewa” itu sudah berlalu. Mamat dan banyak kicaumania lain, masih tetap rajin ke lomba, termasuk level latber dan latpres. Meskipun saat juara, tidak ada lagi rasa kebanggaan. “Sekadar melatih, dan berharap kepantau orang yang lagi cari gacau, lalu bisa laku,” ujar Mamat sebagaimana sudah disebutkan di bagian awal.

Mungkin banyak kicaumania jaman now yang belum terlalu mengenal Mamat. Dulu, ia dikenal sebagai Mamat TO, karena bersama beberapa rekannya mendirikan team yang diberi nama Mr. TO. Mamat dikenal luas karena jagoan cendet yang begitu legendaris, Monster.

Sekarang, sebagian lebih mengenalnya sebagai Mamat Bakso, karena kesehariannya memang berjualan bakso di warung depan kediamannya, tepat di seberang terminal Condongcatur yang menjadi salah satu halte utama bus Trans Jogja. [maltimbus]

KATA KUNCI: mamat to kelas cendet

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp