H BAGIYA DIAPIT ANDRI, JOKO BILLION, DAN KELIK JENGGOT


PARIKESIT AWARD KLATEN, #2

Masih Temukan Trah KSR, H. Bagiya Makin Terlecut Untuk Come Back

Di antara para tamu yang ikut hadir menyaksikan jalannya pertarungan di Parikesit Award Klaten, Minggu 29 September 2019, adalah Ketua Umum Pusat PBI H. Bagiya Rakhmadi. Baru sebatas melihat-lihat.

Panitia sendiri mengaku kaget dengan kehadiran orang nomor satu di induk organisasi perburungan tertua di tanah air. “Tentu saja ini kebanggaan dan kehormatan bagi kami, beliau berkenan rawuh ke sini. Ini kan even kecil, lokasinya di pedalaman, ndeso lagi. Kok beliau yang ketua EO besar dengan sejumlah event yang jadi kebanggaan kicaumania tanah air, seperti Piala Raja, kerso rawuh,” ujar Joko Billion, salah satu yang dituakan di Parikesit Klaten.

Meski lomba “kecil”, digelar di desa yang sepi dan hening, jarang terdengar deru kendaraan bermotor kecuali truk pengangkut pasir, tetapi Kenari Award rupanya sudah masuk dalam agenda besar dan wajib dihadiri oleh banyak kenari mania.

 

 

Event ini sudah digelar setiap tahun di dalam Balai Desa Dompyongan, Jogolanan, Klaten. Anda yang belum pernah ke sini, mungkin awalnya agak ragu, soalnya lokasinya dari jalan besar Jogja - Klaten tepatnya pertigaan bangjo Tegal Mas, masih masuk masuk ke pedalaman arah utara sekitar 7 kilometer.

Sungguh tak berlebihan kalau Parikesit Award dikatakan sebagai salah satu even tahunan khusus kenari yang paling sukses, baik secara kehadiran peserta hingga penyelenggaraan. Total hanya memainkan 7 kelas termasuk satu kelas kenari isian dan campuran impor.

Begitu brosur dirilis, pesanan langsung mengalir. 5 kelas kenari standar umum dan kecil langsung ludes. “Yang sampai pekan terakhir masih menyisakan tiket, meskipun tidak terlalu banyak, hanya campuran impor dan kenari isian,” ujar Andri Gombloh, punggawa Parikesit lainnya.

Setiap kelas terdiri dari 6 kali penyisihan, masing-masing 10 burung. Setelah itu, 10 burung dengan nilai tertinggi berhak masuk dalam babak final. Juri 4 orang, duduk di kursi yang berada di empat sisi gantangan. Setiap juri tidak bisa berkomunikasi satu sama lain, jadi penilaiannya mandiri. Korlap akan menjadi “pengontrol” apabila ada juri yang nilainya dianggap tidak wajar.

 

 

Tidak ada pagar pembatas, kecuali seutas pita atau tali. Panitia menyediakan kursi di dua sisi gantangan untuk para peserta dan penonton. Tidak ada petugas keamanan khusus, sebagaimana pada event-event konvensional dengan gantangan besar.

Namun, tidak ada teriakan atau suara-suara bising di sini. Sejak awal, memang sudah diedukasi, mau ikut jadi peserta atau sekadar nonton lomba khusus kenari ala Papburi, ya mesti duduk tenang ikut mendengarkan suara kenari. Bahkan setiap kali penilaian berakhir, apalagi di babak final, para peserta dan penonton kompak memberikan aplaus dengan tepuk tangan.

Suasana hening dan bisa menikmati suara burung dengan sepenuh hati, rupanya yang membuat H. Bagiya Rakhmadi kembali terlecut untuk hadir ke Parikesit Award.

“Beberapa hari sebelumnya, sempat juga pengin nyari-nyari burung bahan prospek, biar bisa nenteng dan ikut nggantang. Tetapi akhirnya memilih datang dan lihat-lihat saja dulu. Apalagi tiketnya juga sudah habis semua.”

 

 

Kehadiran beliau disebutnya karena benar-benar ingin melampiaskan rasa kangen pada suasana lomba yang syahdu. Kangen juga dengan para kenarimania yang ternyata masih banyak pemain lama yang dulu berteman sangat baik, selain banyak wajah-wajah milenial penggemar kenari yang jumlahnya juga terus bertambah.

H. Bagiya pun mengaku sangat terkesan setelah bergabung dengan para kenari mania. “Rasanya memang benar-benar bisa mengenang masa lalu yang sangat indah. Rasa ingin memiliki lagi kenari yang bagus, terus bisa nggantang lagi, semakin kuat. Apalagi bisa ketemu lagi dengan para penggemar kenari, bisa cerita ngalor-ngidur nostalgia yang sangat mengasyikkan,” imbuhnya.

Bagi Anda para kicaumania khususnya kenari mania milenial, bolehlah mengingatkan kembali tentang siapa H. Bagiya Rakhmadi di jagad kenari. Beliau pernah memiliki jagoan yang benar-benar sangat legendaris, namanya Ken Sam Rock.

Dari generasi ke generasi, dengan basic blood Ken Sam Rock sering merebut juara. Waktu itu, kehadiran Ken Sam Rock sangat dinanti-nantikan dan membuat banyak kenari mania penasaran. Pernah juga Pak Bagiya diundang sampai ke Palembang, untuk memenuhi rasa penasaran kicaumania di sana.

 

 

Waktu itu, Pak Bagiya kalau lomba lebih sering bersama teman-teman yang tergabung dalam ABC Team, seperti pak Bambang Wisnu, Budiharjo, YR Handoko, Ibu Ida, Surono, dan masih banyak lagi. Kalau lomba ke berbagai kota hingga Jakarta, Surabaya, Bandung, Purwokerto, Jepara, dan kota-kota lainnya, biasa berombongan memakai bus besar.

Ken Sam Rock generasi pertama yang kemudian jadi basic blood, dipinang oleh Pak Rusdi Nikon. “Untuk ukuran waktu itu, harganya sangat fenomenal,” ujar H. Bagiya mencoba mengenang.

Generasi terakhir yang prestasinya cukup fenomenal adalah Ken Sam Rock 26, yang kemudian dipinang oleh Senvri. “Secara performa, materi lagu, juga gaya memang unik. Waktu itu sering juara di event-event akbar dan bergengsi, bahkan setelah pindah tangan ke Bapak Rusdi Nikon untuk KSR generasi awal hingga KSR 26 di tangan Senvri, juga masih tetap sering prestasi.”

 

SNOT, jamak menyerang kenari, love bird, dan jenis burung lainnya. Jangan kawatir, atasi dengan SnotGo, terbuki cepat dan efektif menyembuhkan snot. Untuk hasil yang lebih baik, padukan penggunaannya dengan LEMAN’S.

Untuk Solo Raya, Yogyakarta, dan sekitarnya: Asep BN 0815.4846.9464; DANU Byl 0815.7833.9142; OM BUS 0813.2880.0432; PS Esti - Pasar Pasty 0818 465 108; Pak Gun Tlogorejo, Jl Godean 0812 2941 859, 0822 2508 6842; Pakan Dwi Jl. Palagan 0878 9955 7555; Ibu Tupar Prambanan 0858 0395 9585; Sari Pasar Muntilan; Mba Ana Jl Gandok (dari Jalan Kaliurang arah Tengkleng Gajah).

 

Di Parikesit Award, salah satu hal yang benar-benar membuat Pak Bagiya takjub adalah saat berjumpa dan ngobrol dengan Pak Agus yang berdomisili di Jetak, Selomartani, Sleman. Ini wilayah DIY di ujung timur yang sudah berimpitan dengan Klaten. Dalam hal melombakan burung, Pak Agus mungkin malah merasa lebih dekat ke Klaten ketimbang ke arah Jogja.

“Ternyata beliau pak Agus masih memiliki jagoan trah KSR-26. Burung itu juga masih dipakai buat lomba. Ciri khas KSR-nya masih tampak dan bisa bertahan, yaitu tampil dengan gaya ngentrok dan nyayap. Lagunya juga panjang-panjang. Ini sebagai kabar yang bikin dada saya kembali berdegup. Keinginan untuk come back menjadi kenarimania semakin menguat. Tentu saja, ini masih akan saya pertimbangkan lagi.”

Selain dikenal sebagai kenari mania dengan KSR-nya, Pak Bagiya juga pernah memiliki anis merah yang sangat legendaris, Juventus. Setiap kali diturunkan, tak pernah lepas dari juara. Ini memang diakui sebagai burung yang begitu istimewa.

Telernya begitu mewah, kepalanya sampai turun di bawah pangkringan, gerakan goyang kanan-kirinya begitu cepat, lagunya juga ngisi dan panjang-panjang, volumenya kenceng. Secara materi, Juventus disebut-sebut lebih unggul dari legenda sebelumnya, Zamorano milik Sien Ronny. Sayang, waktu itu belum zamannya orang bikin video.

 

Sambut kehadiran Team Promo Twister di Walikota Cup Yogyakarta 13 Oktober dan Balekambang Kumandang 24 November, dan event terpilih lainnya. Terima sampelnya, coba dan buktikan, beri kami respon melalui hotline 08112663908.

 

Bila menilik kiprah beliau paling awal, justru di kelas cucak rawa dengan Rowo Jombor dan Ximenes, serta campuran impor bernama Si Manis. Barulah main kenari hingga terlahir KSR. Pak Bagiya juga mengoleksi cucak hijau bernama Ijo Royo-Royo, serta murai batu Gadis Desa. Yang terakhir, pernah juara 1 di Kapolri Cup.

Pada akhirnya, Pak Bagiya harus membuat keputusan besar dan berat, mundur dari keikutsertaan menjadi peserta lomba burung. “Saya ambil keputusan itu setelah terpilih menjadi Ketua Umum PBI periode 2013 – 2018. Kenapa itu saya ambil, pertimbangannya supaya tidak menimbulkan konflik kepentingan.”

Kini, Pak Bagiya mengaku merasa terpanggil dan kangen untuk main burung lagi, khususnya kenari. “Sebab kan bisa turun di event-event yang digelar di luar PBI, dan itu cukup banyak. Tapi sekali lagi, ini belum jadi keputusan. Kalau rasa kangen itu, sejujurnya memang sudah tumbuh lagi. Masih akan kita pertimbangkan lagi nggih,” ujarnya sambil tersenyum.

 

KATA KUNCI: parikesit award h bagiya rakhmadi papburi

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp