4 TAHUN SENYUM DHUAFA BAKSOS TIAP HARI JUMAT


SENYUM DHUAFA

Berawal dari Obrolan Pemuda Kampung Bakul Burung, Sudah 4 Tahun Rutin Bedah Rumah dan Salurkan Bantuan Sosial

Ini sungguh sesuatu banget dan pantas jadi contoh serta inspirasi bagi yang lain. Mereka bukan “siapa-siapa”, hanya sekelompok pemuda kampung bakul burung, sudah 4 tahun baksos tiap Jumat, sudah bedah/renov 30 rumah. Hebat kan?

Dalam momen-momen seperti sekarang ini, banyak orang, termasuk para tokoh masyarakat di dunia hobi burung, yang tergerak untuk ikut membantu meringankan beban hidup masyarakat yang kesusahan karena terdampak pandemi. Ada juga loh, gerakan yang sudah rutin berjalan 4 tahun, tidak insidental pada momen tertentu saja, dan itu digagas oleh mereka yang “biasa-biasa” saja, hanya sekumpulan pemuda bakul burung dari kampung.

 

Apapun problem "bunyi" pada burung Anda, dari mulai MACET sampai hanya mau tampil angot-angotan, berikan MONCER-1, tunggu beberapa hari, langsung JOSS.

 

Suatu hari, sekira 4 tahun yang lalu, 5 muda-mudi sekampung berkumpul di kediaman Bewok, di desa Pucung, Imogiri, Yogyakarta. Selain Bewok yang jadi tuan rumah, ada pula Atmaja, Geong, Edel West, dan mbak Yani. Dalam obrolan santai itulah, terlihat ada salah satu rumah tetangga yang kemudian menarik perhatian, kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Waktu itu, pemerintah setempat sepertinya belum terlihat kepeduliannya.

“Lalu obrolan beralih ke rumah itu, di antara kami kemudian tercetus, bagaimana kalau kita membantu untuk merenovasi, atau istilah yang lebih keren adalah bedah rumah. Pada prinsipnya kami semua sepakat dengan ide itu. Masalahnya kemudian, dari mana biayanya. Lalu saya posting agenda bedah rumah tersebut ke grup ISP, Info Sedulur Pucung,” ujar Bewok mengisahkan.

 

TWISTER GOLD, salah satu pakan burung yang disebut paling cocok untuk murai batu, hwamey, anis merah, kacer oleh para kicaumania yang sudah mencoba dan kemudian terus memakainya termasuk untuk jenis burung pemakan serangga lainnya. Tersedia juga TWISTER SEAWEED, ANTI STRES, MASTER, serta TWISTER TROTOLAN untuk meloloh pemakan serangga dan TWISTER BUBUR untuk meloloh pemakan bijian.

INGAT! Sekarang sudah tersedia kupon / vocher hadiah langsung tanpa diundi dalam kemasan semua varian TWISTER. Dapatkan ratusan hadiah menarik seperti kompor gas, kulkas, TV LCD, sepeda motor, hingga mobil baru. Berlaku sampai 31 Desember 2021.

 

Tak butuh waktu lama, sudah banyak respon dari warga yang siap dengan beberapa sak semen, pasir, dan kebutuhan lain untuk membangun. “Akhirnya, proyek pertama kami bisa berhasil, kami menyelesaikan selama 11 hari, termasuk dilembur malamnya karena kami kan tinggal sekampung berdekatan waktu itu, tentu juga dibantu para pemuda dan masyarakat lainnya,” terang Bewok.

Dari situlah kemudian dibuat semacam kelompok yang diberi nama Peduli Dhuafa, hingga kemudian berubah namanya menjadi Senyum Duafa. Dalam kurun waktu sejak berdiri atau sejak rumah pertama di kampung mereka sendiri yang direnovasi, sudah ada 30 rumah yang dibedah. “Hanya belakangan ini karena kondisi wabah yang semakin serius, kami libur dulu untuk bedah rumahnya. Lebih fokus untuk menyalurkan bantuan sosial setiap hari Jumat, juga hari-hari lain bila diperlukan,” imbuh Edel West menjawab pertanyaan burungnews melalui jejaring whatsapp.

 

SEBAGIAN PEGIAT SENYUM DHUAFA SAAT BAKSOS

 

Dari mana sumber dana baik untuk bedah rumah maupun untuk kegiatan rutin menyalurkan bakti sosial. “Ada semacam iuran sukarela dari anggota, ada pula dari donatur. Dalam perkembangannya, anggota kan bertambah, termasuk kemudian juga melibatkan sejumlah komunitas burung yang lain, atau komunitas non burung lainnya, meskipun ada pula beberapa yang kemudian tidak aktif,” jelas Atmaja yang kebetulan sudah semingguan sedang pulang di Pucung.

Hampir sebulan sekali Atmaja memang pulang kampung ke Pucung dari tanah perantauannya di Bekasi. Kalau waktunya pas, juga ikut serta menyalurkan bantuan sosial.

Nah untuk donatur, dijelaskan Atmaja, modelnya tidak open donatur, dalam arti tidak pernah membagikan proposal ke mana-mana untuk mencari bantuan. “Yang kami lakukan hanya share atau membagikan kegiatan yang sudah berjalan di beberapa grup yang kami-kami bergabung. Lalu ada yang merasa tertarik, mulai bertanya bagaimana mekanismenya, siapa yang membiayai kegiatan, dan semacamnya.”

 

 

Sementara itu, menurut Geong, saat ini sudah ada beberapa donatur rutin, baik dari perorangan atau organisasi/lembaga, termasuk lembaga bisnis/perusahaan. Bila bantuan dari pihak lain itu dirasa cukup banyak, atau ada permintaan khusus, bisa disalurkan di luar rutinitas hari Jumat.

Mekanisme yang selama ini berjalan di Senyum Dhuafa, adalah menerapkan model saldo nol. “Artinya, semua yang kita kumpulkan selama sepekan, baik itu dari anggota atau donatur lain, selalu kita habiskan setiap Jumat. Biaya operasional untuk transportasi dan akomodasi lainnya sendiri-sendiri, sering kali dari tujuan kita melakukan kegiatan juga menyediakan untuk konsumsinya. Kegiatan di luar hari Jumat, seperti pada hari Selasa 6 Juli kemarin, adalah karena ada dari pihak lain yang meminta kita membatu untuk menyalurkannya. Kita kan punya data kelompok masyarakat mana dan di mana yang benar-benar perlu bantuan,” jelas Bewok lagi.

Sumber dana lainnya, imbuh Bewok, setiap kali team atau dia dan kawan-kawan lomba ada burung juara, ada hadiah uang, sebagian juga disisihkan untuk donasi. “Alhamdulillah ini ternyata kami rasakan sekali jadi sumber berkah. Burung kami jadi lebih mudah juara atau dapat hadiah.”

Sasaran masyarakat yang menerima bantuan, sejauh ini memang masih sebatas di wilayah DIY, seperti Kulonprogo, Bantul, Sleman, dan belakangan banyak disalurkan di wilayah Gunung Kidul.

 

MENYERAHKAN BANTUAN SOSIAL, TIAP SELESAI KEGIATAN SALDO NOL

 

Lalu, siapa Bewok, Edelwest, Geong, Atmaja, dan mbak Yani? 4 yang disebut pertama adalah pemuda kampung yang kesehariannya hingga sekarang adalah bakul burung. Bewok memiliki kios burung di jalan raya Prambanan – Cangkringan Selomartani, Geong dan Edel Weis masih tinggal di pucung, main dan ternak lovebird, Atmaja merantau ke Bekasi juga dengan membuka kios burung. Hanya Mbak Yani yang bekerja di sebuah pabrik di pinggiran kota Yogyakarta dan sekarang tinggal di Pajangan.

Anggota lain yang bergabung belakangan, misalnya ada Alex, tinggal di Dlingo, tak jauh dari Imogiri, mengelola gantangan di sana. Ada juga Vitri Vitrex dari Prambanan yang terkenal sebagai “profesor” branjangan dengan komunitasnya KBJI. Kemudian Eko Angkringan JB, penjual angkringan di Butuh – Cangkringan, yang selalu menyiapkan armada untuk baksos. Dari Dlingo juga ada Aska Putra, pengusaha mebel dan kayu, lalu dari Gunung Kidul ada Oni, pengusaha kayu. Dua nama terakhir ini selalu rutin membantu bahan bangunan kayu tiap kali ada bedah rumah.

 

 

Barangkali sudah banyak kicaumania yang cukup familiar dengan nama Desa Pucung. Ini adalah desa yang sudah turun-temurun sebagian besar masyarakatnya punya mata pencaharian sebagai bakul burung atau kebutuhan pendukungnya. Banyak di antaranya yang merantau ke seluruh daerah di tanah air, juga tak jauh dari jadi bakul burung dan kebutuhan pendukungnya. Seperti yang dilakukan Atmaja di Bekasi.

“90 persen masyarakat Pucung memang hidup dari burung dan kawan-kawannya. Ada yang merantau jauh, ada yang seperti saya hanya di sekitar DIY, ada yang jadi penyuplai jangkrik, sangkar, dan lain-lain. Ada pula yang jadi bakul burung keliling, dari satu pasar ke pasar yang lain, atau jualan di pinggir jalan. Coba kalau ketemu bakul burung yang di belakangnya “menggendong” puluhan sangkar dengan sepeda motor atau bahkan sepeda ontel, tanya dari mana asalnya. Atau di kota mana pun kalau ada kios burung dengan penataan seperti kios saya ini, tanya dari mana aslinya. Bisa dibilang, penguasa peredaran burung dan kebutuhan pendukung di seluruh Indonesia itu orang Pucung,” jelas Geong.

 

BARU... TOPSONG PREMIUM, mengandung enzim alami serangga, burung lebih gacor, daya tahan lebih tinggi. Tersedia TOPSONG PREMIUM ANIS MERAHMURAI BATUHWAMEY (PREMIUM GOLD), LARK / BRANJANGANMINI PELETBEO.

Segera dapatkan di kios langganan Anda, buktikan perbedaannya.

 

Sejumlah komunitas burung pun kemudian ikut ambil bagian dari Senyum Duafa, seperti dari komunitas lovebird, cucak hijau, murai batu, hingga branjangan. Ada anggota dari komunitas di saat tertentu ikut serta menyalurkan bantuan, ada yang ikut andil mengumpulkan bantuan. Demikian juga donatur dari perorangan atau lembaga non komunitas burung.

Menarik di sini, kegiatan sosial atau membantu masyarakat lain itu ternyata bisa dilakukan siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Tidak perlu menunggu “mampu” atau kaya. Konsistensi yang sudah berjalan hingga 4 tahun menunjukkan bila apa yang sudah dilakukan oleh Bewok, Edel Wies, Geong, mbak Yani, Vitrex KBJI, Alex Dlingo, Aska Putra, Oni, dan kawan-kawan lain di Senyum Dhuafa benar-benar bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi yang lain.

 

 

Sungguh menarik karena apa yang mereka lakukan benar-benar dilakukan rutin dan berkesinambungan, tidak hanya insidental pada momen-momen tertentu saja. Kegiatannya juga terorganisasi dengan sangat baik, kendati masih dengan pola sederhana. “Kegiatan ini murni lillahi ta’ala, tidak ada upah sepeser pun, biaya transport dan akomodasi juga dari kantong kami sendiri-sendiri, tidak diambilkan dari dana donatur,” tandas Bewok.

Hobi burung itu bukan semata menggantang burung, lalu bangga dan bergembira ketika juara atau sedih ketika kalah. “Meski kita mungkin belum termasuk orang berlebih secara ekonomi, tetapi di sekitar kita ternyata masih banyak lagi yang lebih membutuhkan uluran tangan kita. Ada waktunya kita berbangga karena burung tampil apik, mungkin juara, ada juga saatnya kita menyisihkan sebagian kecil saja waktu, tenaga, dan yang kita miliki untuk diberikan kepada yang lebih berhak,” tegas Geong melalui pesan whatsapp. [maltimbus]

 

LIHAT POSTINGAN VIDIO DI FACE BOOK, 2 JULI, KLIK DI SINI

LIHAT POSTINGAN VIDIO DI FACE BOOK, 6 JULI, KLIK DI SINI

KATA KUNCI: senyum dhuafa bakti sosial pucung desa bakul burung bewok bf vitrex wbcc bakti sosial bakul burung peduli covid

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp