BURUNG SELUNDUPAN DIMASUKKAN DALAM PIPA PVC (ilustrasi, sumber detik.com)


PENYELUNDUP MURAI BATU MATI TERTEMBAK: Risikonya Tidak Main-Main, Berapa Sih Keuntungan Memasukkan Burung dari Negeri Tetangga Hingga Terus Berlangsung?

Meski risikonya besar, aksi penyelundupan burung murai batu dari Malaysia ke Indonesia terus berlangsung. Menjanjikan keuntungan yang besar. Terbaru, satu dari 3 WNI penyelundup tertembak mati oleh aparat dari Malaysia. Mereka kedapatan membawa 90 plastik berisi burung murai.

Menurut Kompas.com, informasi ini diterima oleh KJRI Johor Bahru pada Senin (24/8) jam 17.00 waktu setempat.

“Laporan menyangkut kejadian yang melibatkan 3 orang WNI penyelundup burung murai batu. Ada 3 orang, satu orang dilaporkan meninggal karena tertembak oleh aparat dari Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM). Ketiga WNI tersebut berasal dari Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Kejadian di Tanjung Sedili, 90 kilometer dari Johor Bahru,” jelas Anang Firdaus, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KJRI di Johor Bahru.

 

 

Berdasarkan laporan itu, kejadian bermula ketika aparat dari APMM hendak menghentikan boat yang dinaiki ketiga WNI tersebut. Petugas bermaksud hendak memeriksa isi boat tersebut.

Namun, tanpa diduga ketiganya berupaya lolos dan memberikan perlawanan, bahkan berupaya merampas senjata milik aparat APMM. “Dalam pergulatan tersebut, aparat APMM melepaskan tembakan dan mengenai salah satu pelaku penyelundupan,” imbuh Anang.

Petugas sudah mengamankan barang bukti berupa boat fiber warna hitam (30x8) kaki, empat unit engine Yamaha 200 HP, serta 90 kotak plastik berisi burung murai batu dan murai kampung yang hendak diselundupkan dari Malaysia ke Indonesia.

(Laporan lengkap kompas.com, bisa dibaca pada tautan di bawah artikel ini)

 

Hari ini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

Sudah beberapa tahun belakangan ini, murai batu “impor” memang digemari di Indonesia, termasuk dari Malaysia. Salah satu alasan memburu burung murai batu impor, karena ekornya yang lebih panjang, selain dugaan pasokan burung lokal untuk jenis murai batu dan kacer yang semakin sulit didapatkan (jangan-jangan sudah mulai punah dari hutan kita?)

Harga murai impor pun cukup tinggi, biasanya ditentukan sesuai dengan panjang ekornya. Burung-burung muda tangkapan hutan memang belum bisa dinilai dari suaranya, standar paling mudah dalam menentukan harga yang secara fisik dari panjang ekornya. Apalagi, panjang ekor sedang jadi trend di tanah air.

Hal ini yang rupanya menggiurkan bagi sejumlah pihak untuk terus mencoba menyelundupkannya ke Indonesia. Mereka sadar risikonya besar, apalagi kalau tertangkap aparat Malaysia. Selain kurungan, nyawa juga bisa jadi taruhan.

Sumber burungnews.com mengungkapkan, di Indonesia harga burung dari Malaysia yang masih bondol alias belum ada ekornya sudah sampai 1 juta rupiah. “Ekor pendek antara 14-15 centi harga sudah 1,3 juta; 16 centi harga 1,5 juta; 17 centi harga 1,7 juta; 18 centi harga 1,9 juta; 19 centi harga 2,3 juta; 20 centi harga 2,8 juta; ekor sampai 21 centi meter harga sudah 4 juta rupiah. Itu harga price list dari bakul,” ujar sumber tersebut.

 

 

Sementara itu, sumber burungnews.com di Malaysia menyebutkan harga murai batu di sana relatif murah, antara 250 – 350 ribu rupiah saja. Bahkan untuk burung yang sudah juara pun, harganya masih bisa dinalar, tidak seperti di Indonesia. Artinya, untuk burung yang baru ditangkap dari hutan dan belinya borongan, bisa lebih murah lagi.

“Di Malaysia lomba burung sebenarnya juga ada, tapi kalau kita bandingkan dengan di Indonesia ya lebih mirip Latber, walau peserta satu gantangan bisa sampai 100 ekor untuk murai, bisa sampai 150 ekor untuk kacer,” imbuh sumber asal Malaysia tersebut.

Seorang penggemar burung asal Malaysia yang pernah mukim cukup lama untuk bersekolah di Indonesia mengungkapkan, memelihara burung di Malaysia tidak semudah di Indonesia. Cukup ribet karena ada aturan yang ketat.

“Kita harus punya ijin atau lisensi, dan ada inspeksinya secara berkala. Kalau dianggap lalai atau kurang cakap dalam memelihara, misal burung lepas dan terbang, atau sakit tanpa periksa ke dokter hewan dan mati, ijin bisa dicabut. Jumlah ijin juga dibatasi, secara periodik semisal setahun sekali ada lelang untuk mendapatkan ijin tersebut. Ijin yang dilelang untuk calon pemelihara baru itu, sebagian berasal dari ijin lama yang dicabut,” jelasnya.

 

 

Dengan sederet aturan yang ketat itu, bisa jadi salah satu alasan mengapa penggemar burung di negeri jiran tidak segemerlap di tanah air. Harga burung pun landai-landai saja, pun dengan permintaan burung bahan, tidak melambung tinggi seperti di Indonesia.

Untuk jenis burung tertentu, seperti jalak dan gagak, sama sekali tidak boleh disentuh oleh masyarakat. Di sana burung seperti jalak dan gagak bisa hidup bebas dan damai tanpa gangguan dari siapa pun.

Di Indonesia, burung-burung murai batu impor itu banyak dijadikan indukan untuk breeding, agar kelak juga bisa menurunkan ekor panjang. Harga anakannya juga masih mahal, sepasang bisa sampai 5 juta rupiah.

"Sebenarnya burung asal Malaysia itu ekornya termasuk pendek, relatif sama dengan burung lokal kita. Tapi seperti halnya kacer, pasokan murai batu tangkapan hutan dari negeri sendiri sekarang sulit sekali, sementara dari luar seperti Malaysia bisa dikatakan melimpah," imbuh sumber burungnews yang dikenals sebagai penjual aneka jenis burung impor.

Sumber yang sama kemudian menambahkan, di hutan Malaysia, Vietnam, Thailand, nangkap murai batu dan murai kampung (kacer) masih mudah, karena masih banyak. "Di negeri kita karena sudah terlalu lama diburu secara masif, selain karena faktor kerusakan hutan yang luar biasa juga, sudah sulit sekali bisa dapat murai dan kacer. Kalau ada, harganya sudah lebih mahal. Jadi, itulah yang didatangkan untuk dijual, harga kulakannya juga lebih murah, dan pasar mau menerimanya. Kalau cari burung murai yang ekornya panjang, bisa 30 centi meter up, itu dari silangan Thailand dan Vietnam," tandasnya.

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

Sedangkan dari sisi materi suara, murai batu lokal dari Sumatera masih dianggap lebih unggul. Biasanya para penangkar mencoba untuk menyilangkannya, dengan harapan anakannya bisa punya ekor panjang, tapi dengan basik suara yang bagus seperti murai batu Sumatera.

Pada Januari tahun ini, suara.com melaporkan, Kepolisian Indonesia dari Polres Barelang juga menyita sebanyak 1.445 ekor burung selundupan dari Malaysia. Burung sebanyak itu terdiri dari jenis murai batu sebanyak 388 ekor dan kacer sebanyak 1.057 ekor.

Sesungguhnya, di luar berita buruk tentang aksi penyelundupan burung yang masih kerap terjadi, ada juga kabar baik yang cukup melegakan. Sejumlah breeder yang mengandalkan indukan lokal Indonesia juga bisa memiliki ekor panjang, sebagaimana dilakukan oleh Aulia BF dari Aceh. Ia memiliki indukan dengan ekor 22 cm dan 25 cm, yang kemudian juga diikuti oleh anak keturunannya.

 

 

“Saya hanya ingin melestarikan burung-burung asli Aceh, di saat yang sama terus terang saya juga kurang suka kalau banyak orang pada mengunggul-unggulkan murai batu asal Singapura atau Malaysia atau negeri tetangga lainnya, seolah lebih baik dari trah lokal Indonesia. Kenyataannya, burung kita juga banyak yang lebih bagus. Jadi, kenapa kita tidak mengembangkan milik sendiri saja, dan punya potensi untuk membuat bangga kita sebagai warna negara Indonesia,” terang Pelda Cahyono, pemilik Aulia BF.

Nah bagaimana, pilih yang mana, mau tetap mencari dan memburu burung impor (yang membuat penyelundupan akan jalan terus) atau memilih anakan dari burung lokal, yang akan menurunkan laju perburuan burung-burung liar di negeri kita? Secara kualitas, juga tidak kalah kok. [maltimbus]

 

 

Ass wr wb Saya Tobil / Nanang Kusuma. Sebelum menjadi pewarta di mediabnr.com, saya sudah mengenal burung sejak tahun...

Dikirim oleh Tobil Nanang Kusuma pada Kamis, 27 Agustus 2020
 

 

KATA KUNCI: penyelundupan murai batu dari malaysia wni penyelundup murai batu mati tertembak burung selundupan disita polisi aulia bf

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp