PANITIA, JURI, DAN JUARA KONKUR PERKUTUT LOKAL / KLASIK

KONKURS PERKUTUT & LAUNCHING BUKU

Bukan Gacoran Lagi, Mulai Terapkan Pakem dari Buku Tata Nilai Perkutut Lokal/Klasik

Dalam beberapa tahun terakhir, konkurs perkutut lokal menggeliat lagi. Ada yang penilaian simpel lebih pada kerajinan/gacor. Mulai muncul gerakan untuk kembali menggunakan pakem lagu, sebagaimana digelar pada 29 Januari di pekarangan H. Dhofir, Kota Gede, Yogyakarta.

Bila pada konkur perkutut lokal sebelumnya, sejumlah komunitas menggunakan gantangan / hanging, sebagaimana yang digunakan di lomba burung berkicau dan/atau puter, pada konkurs Perkutut Lokal Klasik ini sudah kembali memanfaatkan kerekan.

 

NEO RIYADI, dr. ABIYADI, DAN PRIYATNO. KEMBALI KE PAKEM "NGEPAT" 

 

Menurut Neo Riyadi, salah satu panitia dan penyusun buku PedomanTata Nilai Konkurs Perkutut Lokal/Klasik, penggunaan kerekan karena untuk memberikan nilai, juri sering kali harus mendekat di bawah burung atau kerekan. Tujuannya, untuk bisa memantau materi lagu / nada burung dengan lebih seksama.

“Gantangan hanging, hanya cocok untuk penilaian gacoran, karena tidak perlu didekati. Bila juri mendekati untuk mengamati lagu, burung akan takut, ngelabak, atau setidaknya berhenti bunyi. Ketinggian sangkar yang digantung pada hanging itu kan hanya kisaran 2,5 meteran. Lalu Lalang juri di bawahnya membuat burung takut.”

 

 

MENERAPKAN PAKEM LOKAL/KLASIK

Berbeda dengan gacor, pakem dasar Perkutut Lokal Klasik itu bertumpu irama “ngepat”, dari kata papat (Jawa, red.) yang berarti empat. Artinya, untuk bisa mendapatkan nilai layak, burung harus bunyi dengan 4 nada/irama dasar.

4 nada dimaksud, secara sederhana, bisa didengar dari suara (1)hur-(2)ke-(3)tek-(4)kuk. Bila di belakang nada ke-4 masih keluar suara ekor/tambahan lagi, itu berarti glender, sudah keluar dari pakem. Demikian pula bila hanya keluar 3 nada, juga belum memenuhi syarat pakem.

 

JOKO NGH. PANDU DOUBLE WINNER 

 

Tentu saja, dalam buku setebal 14 halaman yang disusun oleh Neo Riyadi Timor, Muh. Shodiq, Alisyahbana, Guntur Riyadi, Kabul, Mustafa, dan Priyatno itu, jauh lebih detil dan rinci. Isi buki ditulis berdasarkan nara sumber Supriyadi, B. Sc., Soemadi, Abiyadi, dan Kardiman/Ukar.

Ada penjelasan lebih rinci, pengembangan dari tata nailai dasar “ngepat” di atas. Seperti pembagian suara depan, tengah, ujung; kemudian dipilah pula bagaimana irama lagu, serta dasar suara.

 

KATA KUNCI: perkutut perkutu lokal pakem perkutut lokal klasik pakem ngepat neo riyadi timor buku pedoman tata nilai konkurs perkutut lokal / klasik

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp