JALAN-JALAN BARSAMA BURUNGNEWS

Belajar Atasi Kemacetan Kota dari Lyon dan Nice

Saya baru pulang dari beberapa negara di Eropa. Sengaja berkeliling dengan sewa mobil. Karena di Avis rentcar SIM A Indonesia diakui dan bisa dipakai jalan nyetir di Eropa. Setir kiri dengan jalur kanan tentu saja. Saya memulainya dari Paris karena pesawatnya mendarat di kota ini.

Setelah dua minggu saya amati, ada yang menarik dari cara berbagai negara ini mengatasi kemacetan lalu lintas di pusat kotanya, terutama di kawasan wisatanya.

 

Lemans bisa dibeli lewat bukalapak, tokopedia atau hubungi 08113010789

 

Salah satu yang saya amati adalah kota Lyon dan Nice. Yang berbatasan dengan negara Monaco, pusat adu kecepatan F.1, yang Aryston Sena pernah menang enam kali. Di Monaco saya sempat juga singgah sehari semalam melihat tata kota dan kehidupan masyarakatnya.

Sebetulnya Yogya atau kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Malang, Bandung, Semarang atau Medan bisa loh kalau ditata kotanya kayak di Lyon  atau Nice ini. Supaya kemacetan tidak terurai, lalu lintas kotanya terhindar dari kemacetan.

 

 

Apalagi kalau kota Yogya, tempat saya tinggal. Saya rasa mudah diterapkan. Apalagi kota Yogya itu kecil dan relatif terpusat tempat-tempat wisata kotanya. Minimal berdekatanlah satu sama lain. Ambarukmo, UGM, Tugu, Mangkubumi, Malioboro, Alun-alun, Prawirotaman, Kotagede, JEC, itu sebetulnya tidak terlalu berjauhan.

Dengan pertimbangan karena jabatan Gubernur itu berlaku seumur hidup, karena melekat pada kedudukan sebagai Sultan, sudah saatnya Yogya dibuatkan jalur trem yang melintas Malioboro dan titik-titik CBD lainnya, termasuk lewat kampus-kampus.

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

Malioboro tidak perlu dilewati kendaraan bermotor atau mobil. Jika ada trem. Ya, tengah jalan Maliobor cukup dikasih jalur trem. Mobil bisa parkir di area sekitar kampus UGM, sekitar Kridosono, sekitar alun-alun, dan titik strategis lainnya. Yang penting ada halte trem di situ. Orang cukup naik trem kemudian turun di tempat wisata yang dituju terus melanjutkan eksplornya dengan cara jalan kaki dengan nyaman.

Nah, dari parkiran publik itu, orang bisa naik trem ke Malioboro, Kraton, Prawirotaman, Kotagede, Janti, Ambarukmo, IAIN, UNY, UGM, Tugu, Mangkubumi, masuk Malioboro lagi. Trem terus muter saja dari titik ke titik itu dengan rute dua jalur bolak balik. Ketepatan waktu bisa dipastikan datang dan perginya. Sekarang ini kenapa mobil untuk masuk ke kawasan Malioboro butuh waktu berjam-jam ya karena lahan parkirnya sedikit, sementara mobil luar kota yang datang pada saat week end terus berdatangan tanpa putus. Di situlah keruwetan lalu lintas kemudian terjadi.

 

 

Membangun jalur trem bukannya tanpa problem. Selain lumayan mahal biayanya, mungkin proses pembangunannya memang akan butuh waktu bertahun-tahun. Tapi bisa saja dimulai dari rute yang vital dulu. Toh, sesuai undang-undang jabatan Gubernur tidak akan ganti karena melekat pada jabatan Sultan, maka otomatis proses pembangunannya bisa terus menerus dilanjutkan sampai selesai. Itulah enaknya jika berstatus Daerah Istimewa.

Saya kira membuat jalur trem itulah solusi yang paling masuk akal untuk mengurai keruwetan lalu lintas Yogya saat musim liburan tiba. Apalagi ketika bandara NYIA (New Yogyakarta International Airport) di Kulonprogo nanti beroperasi secara normal dan pesawat berbadan besar banyak mendarat di sana. Otomatis jumlah turis akan meningkatkan sua kali lipat, rental mobil otomatis juga akan naik drastis. Ancaman macet bisa semakin parah.

 

Sambut kehadiran TEAM PROMO  TWISTER  di event-event terpilih, termasuk Balekambang Kumandang Surakarta, 24 November dan BnR Award 15 Desember. Dapatkan sampelnya, coba dan buktikan kualitasnya, berikan respon melalui hotline  08112663908.

 

 

Solusi mengurai kemacetan dengan trem sudah banyak dilakukan negara atau kota di Eropa Dan terbukti sangat efektif. Maka, kenapa Yogya tidak mengarah ke sana?

Program ini akan pasti selesai. Karena dengan jabatan gubernur seumur hidup maka bisa dikondisikan kebijakan ini tidak akan berubah sampai jalur trem wisata ini selesai. Bisa jadi program akan cepat selesai jika dibolehkan memanfaatkan Danais. Dana Keistimewaan  Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang anggarannya turun setiap tahun

 

 

Jika itu bisa diwujudkan maka Sultan akan mempunyai legacy (peninggalan monumental) yang sangat mengagumkan bagi warga kota Yogyakarta. Namanya akan harum dikenang sepanjang masa. Dan program ini kelak bisa jadi akan menjadi percontohan bagi kota-kota besar lainnya di Indonesia yang sudah mengalami kemacetan parah di area sentral wisatanya.

Moga-moga impian ini bukan sekedar khayalan. Tapi, bisa menjadi bahan diskusi bagi para pemangku kebijakan di Yogyakarta. Bagaimana pun sebagai warga Yogya kita ingin Yogya ini tetap berhati nyaman. Sehingga turis-turis yang datang ke kota ini pun ikut merasa nyaman dan akan kengen untuk datang dan datang lagi menikmati kenyamanan kotanya * (Among Kurnia Ebo)

AGENDA LOMBA,  KLIK DI SINI

 

KATA KUNCI: jalan-jalan barsama burungnews belajar atasi kemacetan lyon nice

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp