H ELVIANO, TAMU KEHORMATAN DI LOMBA WEDDING ANNIVERSARY


H. ELVIANO CIREBON

Lomba Makin Banyak yang Ngawur, Maret 2022 Gelar Lomba “Percontohan”

H. Elviano, salah satu tokoh perburungan 3 zaman, mengaku sedih. Belakangan ini, makin banyak saja lomba yang di matanya makin ngawur. Lomba yang mana, bagian mana?

H. Elviano mengaku sudah jarang turun ke lapangan, namun bukan berarti meninggalkan dunia hobi burung berkicau. “Saya masih tetap memantau perkembangan, terimakasih juga untuk burungnews.com yang selalu mengirimkan update berita. Saya juga masih tetap merawat dan menikmati suara burung di rumah, kadang-kadang masih nyambangi lomba,” ujarnya saat bertemu di sela-sela Piala Raja ke-21, Minggu 28 November 2021.

Soal lomba yang ngawur, Elviano pun menunjuk pada beberapa perkembangan, maupun yang ia lihat dan rasakan langsung. “Sebenarnya terbanyak dan paling umum terjadi di hampir semua EO adalah soal penjurian. Ada yang dari sisi pakem relatif baik, tapi prakteknya yang tidak benar, tapi juga ada yang dari konsep pakemnya saja sudah keliru besar.”

 

Burung yang sebelumnya bunyi tiba-tiba MACET dan memBISU? Berikan MONCER-1 selama beberapa hari, lihat perbedaannya dalam 5-7 hari, dijamin langsung JOSS kembali.

 

H. Elviano akhirnya berteriak keras dan menyebut lomba ngawur, ketika membaca ada postingan lomba dengan harga tiket yang baginya sangat tidak masuk akal. “Ini memang ngawur, ugal-ugalan, sudah tidak benar lagi. Saya yakin sebagian kicaumania berpikiran sama seperti saya,” ujarnya melalui sambungan telepon pada Kamis pagi, 2 Desember 2021.

Sebagian besar keluhan peserta yang ditangkap oleh H. Elviano, memang lebih menyasar kepada para juri. “Merata semua EO, ngeluh yang menang hanya burung itu-itu saja, hafalan, dan semacamnya. Burung terbuang, tapi ada yang ngejar-ngejar mau dibeli, yang ngejar itu ternyata temannya atau bahkan orangnya si juri yang bertugas. Ini paling sering nyampai ke telinga saja.”

Terus soal pakem, ada EO yang membuat aturan menghitung kesalahan atau pelanggaran burung. “Ini juga menurut saya tidak benar. Ini yang lomba binatang, bukan manusia, lompat masa tidak boleh. Apesnya, pakem ini yang kemudian jadi  trend atau banyak diikuti oleh para EO yang kemudian tumbuh dan bermunculan seperti jamur di musim hujan. Secara teknis, ini lebih untuk memudahkan para juri, hasilnya yang juara ya burung yang aman, belum tentu yang secara kualitas terbaik.”

 

H ELVIANO, BERSAMA H BAGYA DAN M HIDAYAT BATUBARA

 

Belasan tahun yang lalu, H. Elivano menyebutkan ikut terlibat dalam team yang menyusun pakem lomba burung berkicau. “Saya masih ingat persis, yang tidak boleh dan kalau terjadi itu membuat burung kehilangan hak juara itu kalau nebok atau ngarpet. Saya masih merasa pakem yang sudah ditetapkan sejak belasan tahun lalu itu masih relevan hingga sekarang.”

H. Elviano kembali merasa perlu datang ke Piala Raja tahun 2021, setelah cukup lama absen. “Buat nostalgia, kangen dengan banyak kawan lama khususnya yang dari tengah dan timur. Kebetulan saya juga ada itu murai ring silver, ya sekalian dicoba kira-kira masih bisa bersaing apa tidak burung pilihan saya itu, ha ha ha.”

Salah satu kelas yang diikuti oleh H. Elviano adalah kelas utama tiket 2 juta. “Kebetulan burung berdampingan dengan punya Teddy BKS, dia nomor 10, saya nomor 11. Kami nonton juga bareng, berdampingan, sambil ngobrol dan komentari burung kami.”

 

TWISTER GOLD, salah satu pakan burung yang disebut paling cocok untuk murai batu, hwamey, anis merah, kacer oleh para kicaumania yang sudah mencoba dan kemudian terus memakainya, termasuk untuk jenis burung pemakan serangga lainnya. Tersedia juga TWISTER SEAWEED, ANTI STRES, MASTER, serta TWISTER TROTOLAN untuk meloloh pemakan serangga dan TWISTER BUBUR untuk meloloh pemakan bijian.

INGAT! Sekarang sudah tersedia kupon/voucher hadiah langsung tanpa diundi dalam kemasan semua varian TWISTER (burung berkicau, lovebird, perkutut, merpati) dan/atau NICE (anjing, kucing). Dapatkan ratusan hadiah menarik seperti kompor gas, kulkas, TV LCD, sepeda MOTOR, hingga MOBIL baru. Berlaku sampai 31 Desember 2021. (Kupon yang baru diterima setelah 31 Desember, tetap berlaku, hadiah bisa diurus lewat kios/agen tempat membeli pakan tersebut)

 

Kira-kira tiga perempat jalan penilaian, menjelang selesai, Teddy mulai memberikan komentar atas kinerja burung El. “Bagus itu punya pak Hajji, punya saya kalah. Ngaku kalah saya kalau ini,” begitu H. Elviano menirukan komentar Teddy.

“Punya kamu juga bagus Ted,” H. Elviano membalas Tedy.

“Tapi di akhir ada gembos itu Ji. Sudahlah, kalau banding-banding yang lain, punya pak Hajji pasti kebagian koncer. Entahlah, bisa A, B, minimal C,” ucap Teddy lagi.

 

 

Ternyata hal itu tidak terjadi, tidak ada koncer satu pun yang mampir ke burung nomor 11 milik H. Elviano. Setelah rekap nilai keluar, memang nilai tidak mentok.

“Sambil keluar lapang, Teddy mulai membuka cerita, bla bla bla. Bagi saya sebenarnya itu bukan hal baru, sudah sering saya dengar. Bedanya, kali ini saya ikut merasakan sendiri,” ujar H. Elviano tanpa merinci apa yang mereka obrolkan.

Pada sesi kedua, sekitar jam 15.00, H. Elvianto kembali menurunkan jagoannya. Kali ini bisa juara 2. “Nah ini yang saya bingung. Burung sama, kinerja 11-12 alias hampir sama. Demikian pula musuh-musuh yang dihadapi, sebagian sama, tapi musuh yang baru pun secara kualitas ya hampir sama. Kenapa yang pertama bisa tidak mentok, yang kedua bisa juara 2. Kalau sama-sama tidak mentok sekalian, berarti burung saya bermasalah, atau musuh jauh lebih bagus. Tapi karena hasil jomplang sekali, saya jadi penasaran, jadi membaui ada yang tidak beres di kelas yang pertama tadi.”

 

 

Selang sehari, H. Elviano mengaku dapat telepon dari salah satu juri senior. “Dia minta maaf, lihat pas burung saya nomor 11 kerja bagus, tapi tak bisa banyak membantu. Saya bilang tidak ada masalah sebenarnya, saya puluhan tahun ikut lomba kan tidak pernah minta dijuarakan. Tapi kenapa yang kedua bisa juara 2, kan ini aneh. Tolonglah itu teman-teman juri kalau kerja ya dasarnya harus dibenerin lagi. Masa dari dulu begitu-begitu saja, tidak tampak ada kemajuan.”

Hal lain yang disoroti H. Elviano adalah durasi penjurian yang terlalu pendek. “Tidak sampai 10 menit, hanya separuhnya alias 5 menit, bahkan kurang. Waktu sependek itu ya mana bisa menilai dengan cukup baik, itu sudut pandang saya ya. Sekarang hanya peserta biasa saja, ikut aturan main juga, beli tiket, segera gantang, keluar dan nonton dengan tertib tanpa perlu teriak. Dulu sedikit banyak ya pernahlah ikut merumuskan pakem penilaian. Idealnya untuk event semegah Piala Raja, durasi penilaian 10 menit.”

Kenapa durasi penilian jadi mepet-mepet begitu, salah satunya penjelasan yang masuk akal, sesi atau kelas yang dimainkan terlalu banyak, sampai 34 sesi. “Alasan yang masuk akal, biar pemasukan lebih banyak. Tapi saya juga beberapa kali dapat informasi, para juri lebih suka kalau sesinya banyak, untuk alasan yang sangat mudah dipahami juga. Haduh, harusnya juri itu lebih senang kalau kelas sedikit, beban kerja jadi sedikit, bisa lebih fokus dalam manilai. Ini malah kebalik lagi. Ya, ini mungkin perkembangan jaman yang masih gagal saya pahami.”

 

BARU... TOPSONG PREMIUM, mengandung enzim alami serangga, burung lebih gacor, daya tahan lebih tinggi. Tersedia TOPSONG PREMIUM ANIS MERAHMURAI BATUHWAMEY (PREMIUM GOLD), LARK / BRANJANGANMINI PELETBEO.

Segera dapatkan di kios langganan Anda, buktikan perbedaannya.

 

Melihat semua itu, H. Elviano pun merasa perlu membuat lomba “percontohan”, yang rencananya akan digelar pada bulan Maret atau April 2022. “Semua bisa jadi contoh, mulai kemasan lomba, jumlah sesi. Tropi sudah saya pesan ke Sigit Del, gambar sudah ada yang saya pilih, lagi proses pembuatan prototip.”

Lomba yang digagas oleh H. Elviano itu sepenuhnya hanya memperebutkan hadiah Tropi eksklusif, tidak ada hadiah uang. “Tapi tiap kelas saya siapkan doorprise uang pembinaan sebanyak 10 paket. Artinya, yang tidak juara di kelas tersebut punya kesempatan untuk mendapatkan doorprise uang tunai. Ada pun tropi dan piagam, itu kan memang haknya yang meraih juara.”

Jumlah sesi akan dibatasi maksimal 25 kelas, semua kelas 36-G. “Saya pengin kembali seperti jaman dulu. Lomba itu yang dicari kalau juara ya tropi sama piagam, itu dulu kita sudah senang bukan kepalang. Peserta hanya 36-G, logikanya penjurian lebih teliri, peserta masih bisa ikut dengar suara burung dengan baik, hasil penjuriannya lebih bagus juga.”

 

 

Kalau lomba hadiah hanya tropi, di mana peserta cari duitnya? Menurut El, kalau burung bagus kan bisa dijual mahal. Kecuali kalau juaranya hasil sulapan, ya tidak akan ada yang mau beli. Biar tetap mengikuti perkembangan, uang pembinaan tidak sepenuhnya ditiadakan, tapi diwujudkan dalam doorprise, tiap kelas 10 paket. Ya tunggu saja informasi lebih detil. Oh ya, harga tiket pasti wajar saja lah, tidak akan sampai ugal-ugalan. Kita tidak cari sensasi-sensasian kok.”

Sebelum sampai di situ, H. Elviano mengundang kehadiran para kicaumania tanah air meramaikan gelaran Piala Kota Udang bersama PBI Cirebon. “Insya Allah saya hadir dan mendukung, semoga lomba berjalan lancar dan secara umum lomba ini bisa makin maju, jalannya lomba tidak mengulang-ulang kekeliruan lagi.”

Bagi Anda para pembaca burungnews.com, kabar gembira senantiasa disampaikan terus menerus. Saat ini, kesempatan semakin terbuka luas bisa meraih MOBIL, MOTOR, dan ratusan hadiah menarik lainnya, langsung tanpa diundi.

Beli terus TWISTER (burung berkicau, lovebird, merpati) dan/atau NICE (kucing, anjing). Perhatikan baik-baik saat membuka kemasan, siapa tahu Anda yang beruntung mendapatkan kuponnya. Kupon yang diterima setelah 31 Desember 2021 tetap berlaku. [maltimbus]

 

PERTAMA di Surabaya dan Jawa Timur, lomba menyediakan DUA UNIT MOBIL! Siapkan jagoan Anda, tiket A dan B @ hanya 2,5 juta (36-G). Untuk brosur lengkapnya, KLIK DI SINI.

KATA KUNCI: h elviano

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp