DUDI ROMEO. PIALA PASUNDAN MEMANG LUAR BIASA


YANG TERTINGGAL DARI PIALA PASUNDAN, #2

Kata Pemain Era 90an, Ini Event yang Luar Biasa

Bila Anda sudah aktif lomba sejak akhir era 90an, niscaya mengenal yang satu ini, Dudi Romeo. Kicaumania Bandung ini awalnya aktif bersama Saviola Team, kini masih eksis dengan mengelola gantangan / EO.

Dalam beberapa kesempatan event di Bandung dan sekitarnya, Dudi masih tampak berada di lapang. Demikian pula saat gelaran Piala Pasundan, Dudi pun menyempatkan diri hadir dan memantau hingga sore hari.

Kepada burungnews.com yang sudah kerap bertemu sejak akhir 90-an, Dudi pun menceritakan sejumlah hal, termasuk aktivitasnya saat ini. “Saya sudah 4 tahun mengelola Ronggolawe Nusantara DPC Bandung Raya.”

 

LAPANG PERTAMA RONGGOLAWE DI BANDUNG, LEGENDARIS.

 

Ia menyebut, lapang Ronggolawe yang pertama ada, ya di Bandung, tepatnya di jalan M. Toha Cigereleng. “Makanya kicaumania di Bandung menyebut lapangan Legendaris Cigereleng.”

Dudi mengawali "karir" dalam dunia hobi burung berkicau benar-benar dari bawah. "Dulu saya mengawali dari pemain. Terus pernah jadi perekap, penulis piagam, juri, korlap, hingga dipercaya megang EO. Lalu mulai merancang kemasan lomba, nggelar lomba mulai level latber, regional, nasional, hingga event akbar."

Berkaitan dengan even Piala Pasundan, Dudi mengaku selalu datang sejak yang pertama, ke dua, hingga yang ke tiga ini. “Jujur saya katakan ini even yang luar biasa. Antusiasme peserta untuk mengikuti gelaran ini benar-benar sangat tinggi. Meski masih diwarni sejumlah komplain, tetapi saya lihat peserta tetap ramai, bahkan tambah sore atau malam malah makin penuh.”

 

Resep yang selama bertahun-tahun dirahasiakan, akhirnya dibuka dan bisa dirasakan khasiatnya oleh semua kicaumania. Siimak video-nya dengan KLIK gambar di bawah ini.

 

Salah satu sebab tingginya antusiasme kicaumania, karena sejak awal berhasil menanamkan kesan bila ini adalah even kebanggaan kicaumaia Jawa Barat. “Jadi saya lihat kicaumania di Jawa Barat, di tanah Priangan, memang ada rasa memiliki. Pengin ikut terlibat dan meramaikan. Itulah salah satu keunggulan dari Piala Pasundan yang masih tetap bisa dipertahankan sejak gelaran pertama. Orang bilang ini adalah ikonnya Jawa Barat.”

Terkait soal komplain yang terjadi dalam sejumlah even akbar, menurut Dudi sebenarnya itu hal yang wajar. “Dari pengalaman saya mengelola EO, juga saat memantau gelaran-gelaran lain baik di Bandung maupun blok barat pada umumnya, komplain memang hal yang wajar, apalagi kalau itu masih kondusif dan tertangani. Semakin besar skala lombanya, semakin bergengsi eventnya, semakin panas persaingannya, potensi komplain ya semakin besar. Apa pun EO-nya, sesenior apa pun jurinya, potensi komplain itu selalu ada.”

 

HINGGA MALAM, PESERTA TETAP FULL

 

Dudi melihat pada Piala Pasundan III ini, memang banyak juri-juri muda yang secara pengalaman dan jam terbang masih minim. “Tentu saja, ini adalah sepenuhnya hak panitia dengan segala pertimbangannya. Yang muda dan secara pengalaman minim, belum tentu jelek. Secara teknis, mungkin punya kemampuan yang tak kalah. Hanya saja, untuk event-event besar, terutama untuk kelas-kelas yang bergengsi yang ketat, memang perlu mental yang kuat. Mohon maaf kalau boleh memberi masukan, untuk kelas-kelas seperti itu sebaiknya dikasih juri yang sudah matang. Saya lihat masih ada beberapa juri yang masih sangat minim pengalaman, diturunkan di kelas-kelas yang cukup berat.”

Meskipun begitu, secara umum Dudi melihat event ini cukup sukses. “Apa yang saya sebut sebagai masukan itu, tentu untuk event-event kedepannya agar bisa dikondisikan lebih baik dalam menata juri, agar hasilnya bisa lebih memuaskan. Bagaimana pun, saya ingin mengucapkan selamat atas suksesnya gelaran ini. Apalagi oleh sebuah EO RGN yang bisa dibilang masih jabang bayi. Semoga ke depan RGN bisa berkembang dan maju bersama-sama EO yang lain, termasuk Ronggolawe yang sekarang kami kelola.”

 

 

Hal lain yang membuat Dudi senang, antara lain saat melihat kemeriahan anis merah dan hwamey. “Anis merah sudah beberapa tahun terakhir mulai ramai, untuk hwamey memang baru belakangan ini mulai bergerak naik. Anis merah dan hwamey, dulu burung yang saya pegang, selain murai batu, kenari, dan pentet. Sekarang beberapa teman mulai ndorong-ndorong lagi supaya saya mainan hwamey juga. Masa depannya disebut cerah. Masih dalam pertimbangan, ha ha ha.”

Sementara itu, ketua pelaksana Piala Pasundan Asep DM mengungkapkan, bila RGN kembali dapat “job” untuk menggarap event akbar Mahakarya Borobudur. “Inya Allah ini even besar, kita gelar pada 18 Agustus 2019. Kita mulai mensinergikan dengan program promosi Pariwisata. Untuk kemasan pastinya, masih dalam tahap pematangan. Tunggu saja, berapa kelas atau sesi, seperti apa hadiahnya, berapa lapang, setelah fix pasti segera kita share, termasuk di media burungnews.com ini.”

 

 

KATA KUNCI: piala pasundan iii dudi romeo asep dm mahakarya borobudur

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp