SUASANA PENILAIAN DI MAHESA JENAR ARENA, MEGAH DAN NYAMAN (dok. ASEP DM)

VAR DI LOMBA BURUNG, MASUK AKAL?

Perdebatan Belum Selesai, Tapi Lomba Tak Boleh Berhenti

VAR (Video Assistant Referee) sebagai alat bantu, tentu sudah dikenal luas terutama oleh pecinta sepak bola atau olah raga lainnya. Bagaimana ketika itu diadopsi di lomba burung. Asep DM lewat gantangan Mahesa Jenar Arena di Semarang yang pertama menginisiasinya, sampai sekarang masih satu-satunya.

Dalam sejumlah laga, Asep dan kawan-kawan membawanya ke luar dari markas di kawasan PRPP Semarang, seperti beberapa kali di Magelang (Kapolresta Magelang dan lainnya), Purwokerto (Mahakarya Banyumas), dan besok pada 18 Oktober ke Jogja Bird Arena di kawasan Monumen Jogja Kembali, Sleman, Yogyakarta event Piala Anton Yuwono.

Secara konsep, tampaknya mudah. Tinggal pasang kamera dan mic, sambung ke monitor. Banyak teknisi bisa merakitnya. Siapa pun (gantangan/arena) bisa mencoba dan meniru. Tapi harus diakui, memang ada barrier atau penghalang, butuh alat (kamera cctv + mic) dengan spek khusus yang tentunya juga tidak murah, selain sudah barang tentu juga SDM yang memadai.

Boleh jadi, itulah yang membuat konsep VAR tidak atau belum ditiru oleh gantangan lain, selain faktor perbedaan pandangan.

 

Apapun problem "bunyi" pada burung Anda, dari mulai MACET sampai hanya mau tampil angot-angotan, berikan MONCER-1, tunggu beberapa hari, langsung JOSS.

 

Pada pemakaian aslinya di olah raga seperti sepak bola, VAR lebih untuk memeriksa pelanggaran yang tidak terlihat oleh mata wasit. VAR akan membantu memutar ulang momen tertentu secara lebih detil dan dari berbagai sudut sehingga menjadi jelas apakah ada pelanggaran, dan seberat apa pelanggaran tersebut. Atau, apakah bola sudah keluar garis lapangan, atau sudah masuk garis gawang untuk memutuskan apakah suatu kejadian itu sudah kategori goal atau belum.

Ketika diterapkan di lomba burung, tentu perlu dilakukan penyesuaian di sana-sini. “Sebenarnya sebelum diterapkan kami sudah berusaha melakukan sosialisasi dan edukasi dengan berbagai cara, penjelasan tertulis, penejelasan verbal lewat siaran vidio, termasuk dibantu peraga vidio. Tetapi harus diakui, sampai sekarang belum semua kicaumania, termasuk yang sudah mencoba ikut lomba di tempat kami, sepenuhnya paham secara utuh. Itu sebabnya sosialisasi dan edukasi memang harus terus menerus dilakukan,” ujar Asep.

Sebagai contoh, seorang peserta pada event Kapplres Magelang Kota Cup yang berdasarkan hasil penilaian juri masuk peringkat ke dua, dengan pedenya melakukan banding atau gugatan ke yang juara 1. Ia tahu beberapa aturan main, harus bayar sesuai nilai tiket. Kalau menang uang kembali, kalau kalah konsekuensinya uang pendaftaran menjadi hak milik yang digugat dan menang.

Ia pede akan menang karena mengira VAR itu hanya untuk memeriksa pelanggaran, dan ia mengaku melihat burung yang juara 1 sempat punya pelanggaran kecil, yaitu ngeban atau melantai sebentar lalu naik ke tangkringan lagi.

 

PENGGUGAT DAN TERGUGAT SEDANG MENYAKSIKAN PROSES PENINJAUAN VAR

 

Ternyata VAR yang diterapkan di Mahesa Jenar Arena bukan semata memeriksa pelanggaran burung. Seorang juri VAR benar-henar memeriksa secara keseluruhan dari awal penilaian hingga penilaian berakhir, sekitar 10 menit. Diperiksa seluruh penampilannya cecara visual, juga suaranya didengar dengan seksama. Semua dibandingkan, mulai kerajinan dan durasi, materi lagu, volume, sesuai pakem yang berlaku di Mahesa Jenar.

Akhirnya, si penggugat tetap dinyatakan kalah. Ia mengaku keliru memahami aturan VAR. “Saya kira hanya ngecek pelanggaran burung, makanya saya pede, meski pelanggaran itu kecil dan masih dalam toleransi sehingga belum sampai dapat bendera P1, setidaknya saya yakin itu akan mengurangi nilai, sementara burung saya aman tanpa pelanggaran.”

Tentu tak semua yang kalah bisa mengajukan gugatan atau banding. “Tetap ada batasan-batasan. Aturan awal, gugatan atau banding hanya bisa dilakukan kepada burung juara atau peringkat satu level di atasnya. Peringkat 5 bisa banding ke peringkat 4, peringkat 4 bisa banding ke peringkat 3, peringkat 3 bisa banding 2, dan peringkat 2 bisa banding ke juara 1. Dari masukan dan aspirasi, akhirnya kita tambahkan lagi, yang sama sekali tidak masuk peringkat bisa banding ke burung peringkat terakhir yang ada di sesi tersebut, syarat dapat ajuan minimal 2. Kalau diambil 1-5, burung yang tidak masuk peringkat tapi dapat dua ajuan hanya bisa banding ke peringkat 5,” terang Asep.

Selain karena ada gugatan atau banding, VAR juga akan dilakukan secara otomatis ketika ada dua atau lebih burung yang nilainya sama, alias sebagai pengganti tos. “Jadi, di Mahesa Jenar Arena tidak menerapkan tos, setiap kali ada nilai sama langsung kita tentukan lewat VAR.”

 

TOPSONG dengan bangga memperkenalkan TOPSONG PREMIUM kemasan baru dengan botol, dengan tambahan pengaman. Infomasi, hubungi 0813.2941.0510.

 

Itulah yang terjadi di kelas utama event berhadiah mobil Piala Indonesia (23/8), antara Avatar milik Randy dan dan Sugali milik Bintang Pradana. Juri VAR kemudian memutuskan Sugali yang berhak menjadi juara 1, sekaligus mencatatkan rekor bagi Sugali karena untuk pertama kali merebut hadiah mobil.

Tentu saja, sampai sekarang tetap ada orang yang belum sepakat bila VAR adalah solusi yang ideal untuk mengoreksi keputusan juri, atau sebagai pengganti tos. “Ya tidak ada masalah, kami hanya mencoba menawarkan produk dan menjelaskan aturan mainnya secara detil. Kalau sepakat atau mungkin penasaran ingin mencoba, silakan datang. Kalau tidak sepakat dan tidak berkenan datang atau bahkan anti pati juga boleh, ha ha ha,” imbuh Asep sambil tersenyum nyantai.

Salah seorang kicaumania asal Solo, Fauzie Freshmix yang pernah menjadi Ketua PBI, awalnya juga menyebut VAR (juga tos) sungguh tidak masuk akal dijadikan penentu juara. Dalam banyak hal, seperti soal aturan main tos hingga VAR, kami (penulis) sering diskusi hingga debat berjilid-jilid, dari yang terbuka di medsos hingga berlanjut japrian di jejaring whatsapp.

Ketika ketemu di Anniversary SHC (11/10) dan ndegan (minum kelapa muda) bareng, rupanya ada yang mulai berubah. “Kemarin baca postingan Asep DM, bila VAR juga diterapkan untuk mengganti tos. Nah, kalau ini saya sepakat. Tapi kalau burung awalnya yang kalah lalu bisa jadi juara dengan banding lewat VAR lalu membatalkan keputusan juri, ini masih belum sepenuhnya bisa saya terima,” ujar Fauzie.

 

KAMERA VAR (DAN MIC). JARAK DAN SUDUT PADA OBJEK (BURUNG PESERTA) SAMA

 

Sementara itu, menurut Asep, penerapan VAR adalah satu upaya transformasi menjadi lebih baik, setelah di masa-masa sebelumnya juga pernah merasakan situasi yang kurang baik. Juri juga harus mau memperbaiki diri, harus mau mendengar keluhan dari sisi peserta, mau menerima kenyataan kalau memang kami masih punya kekurangan, dan harus mau belajar terus-menerus.

“Bermula dari mengakui kelemahan, lalu ada tindakan perbaikan. Tidak ingin malu keputusannya dikoreksi VAR, ya harus serius dan teliti, fokus tidak boleh nge-blank, dan jangan main-main. Apa ini sudah sempurna, tentu belum. Kami semua harus terus belajar dan belajar supaya bisa menjadi lebih baik,” tegas Asep.

Ya, soal apa itu masuk akal atau tidak, apa itu adil, ideal, atau belum, perdebatan mungkin tidak akan pernah selesai. Mau pakai sistem apa pun, pada akhirnya, semua akan bergantung pada kualitas dan integritas SDM juri, termasuk juri VAR bila mengacu di Mahesa Jenar Arena. Ketika semua itu belum selesai perdebatannya, bukan berarti hobi harus berhenti. [timbul sunoto (maltimbus)]

 

Hati-hati, makin gencar beredar produk PALSU! Pastikan anda mendapatkan produk SUPER-N asli. Jangan ragu memastikan kepada kios/toko, minta ditunjukkan kardus yang ASLI adalah seperti di bawah ini. Perhatikan juga warna, bentuk, dan ciri BOTOL SUPER-N yang asli.

 

EVENT INI AKAN MENERAPKAN VAR!:

JADWAL PIALA ANTON YUWONO, KLIK DI SINI

 

EVENT MENARIK DAN MENANTANG BERIKUTNYA DI JBA: 

JADWAL PIALA KETUA DPRD DIYA, KLIK DI SINI

 

KATA KUNCI: var di lomba burung var mahesa jenar arena piala anton yuwono asep dm

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp