ILUSTRASI BENDERA KONCER, PENANDA JUARA


SAAT JURI NGOMONG BLAK-BLAKAN, BAGIAN #1: Ada Burung Sangat Bagus dan Layak Juara, Pemiliknya Tidak Pede Kalau Tidak Titip, Ya Rejeki

Benarkah ada burung yang menang atau juara karena dikatrol juri, sebaliknya ada yang kalah karena korban pengkondisian? Burungnews berkesempatan ngobrol dengan salah satu juri senior, bergabung EO Nasional, kerap bertugas di event independen.

Sebelum menjadi juri, ia sudah punya jam terbang tinggi mulai menggantang burung sendiri, dipercaya jadi perawat, joki, hingga mengawal atau menjadi striker untuk sejumlah bos.

 

Apapun problem "bunyi" pada burung Anda, dari mulai MACET sampai hanya mau tampil angot-angotan, berikan MONCER-1, tunggu beberapa hari, langsung JOSS.

 

“Awalnya tentu bawa burung sendiri, biar jagonya nanggung. Dari situ jadi kenal banyak orang, lalu ikut banyak bos juga, dari mulai jadi perawat, lalu joki, terakhir dipercaya mengawal atau istilah sekarang jadi striker. Jadi cukup tahu bagaimana harus bermain dengan para juri,” jelasnya dalam obrolan santai dengan burungnews.com. Ia juga bersedia ngomong terbuka, apa adanya, tidak jaim (jaga imej).

Pengalamannya yang panjang bergelut dengan dunia hobi burung, memang membuatnya jadi kaya pengalaman. “Insya Allah saya paham burung yang bagus itu seperti apa, saya juga paham pakem-pakem lama yang berlaku sejak jaman PBI, karena waktu itu, saat belum ada atau belum banyak EO tumbuh seperti sekarang, saya sudah ke lapangan. Tentu saya juga ngerti pakem-pakem yang dikembangkan para EO jaman now ,yang menurut saya dibuat hanya untuk mempermudah para juri dalam memilah dan memilih juaranya.”

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

Ia juga paham, dari jaman ia masih menjadi perawat hingga sekarang berkesempatan mejadi juri, salah satu isu yang tak habis-habisnya dijadikan bahan gunjingan, adalah soal burung titipan. Istilah jaman sekarang, burung yang dikondisikan.

Ada burung juara tapi karena katrolan. Yang kalah pun merasa digoreng. “Itu isu lama, dari jaman baeula ketika lomba hadiahnya hanya piala saja, sampai sekarang hadiahnya uang yang makin jor-joran, sudah ada tuduhan miring kepada korp juri seperti itu.”

 

 

Tuduhan dari yang kalah sebagai korban gorengan, kadang kala benar. “Tapi kadang juga salah. Hanya tidak siap kalah saja. Kadang tidak bisa menerima karena kebetulan kalah dengan pesaing beratnya, apalagi kalau sama lawan satu kota. Persaingannya sampai di bawa ke hati. Ini penilaian saat saya sedang tidak tugas, hanya jadi penonton atau ikut main burung.”

Ia melihat, meski pilihan juri menurutnya sudah benar, tapi yang kalah tetap saja tidak terima, bahkan sampai ngamuk-ngamuk, ngomong tidak karuan. “Bisa karena si pemilik burung yang kalah belum sepenuhnya paham burung, kadang karena dikompori oleh anak buahnya, perawatnya, jokinya, strikernya. Sering jaman sekarang ada beberapa bos yang tidak pernah melihat langsung, tapi laporan dari anak buah di lapangan biasanya lebih banyak menyudutkan team juri. Jaman sekarang juga sulit menemukan kru yang objektif kalau buat laporan ke si bos.”

 

Hari gini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

Nah, soal burung titipan atau burung yang dikondisikan, ia punya cerita unik dan menarik. “Ada salah satu burung yang sangat bagus, baik perfoma maupun kualitas. Burung ini juga penampilannya sangat stabil. Belakangan ini kerap juara, setidaknya hampir selalu masuk 3 besar.”

Pemiliknya kerap memilih turun di event-event yang bisa dikatakan pinggiran, sehingga situasinya sebenarnya kurang kompetitif. “Di lokasi itu, burung miliknya sebenarnya terlalu tangguh, terlalu bagus. Artinya, seandainya dia turun apa adanya, tanpa menitipkan, tanpa mengkondisikan, pasti kami para juri tetap tidak akan berani kalau sampai tidak menjadikannya juara. Karena memang terlalu menonjol ketimbang musuh-musuhnya.”

 

 

Si pemilik rupanya tidak pede kalau tidak titip, tidak mengkondisikan, ada semacam perasaan takut kalah. “Jadi selama ini memang dia selalu mengkondisikan. Kami para juri ya senang saja, bisa lah disebutkan mengalir saja menikmatinya. Burung memang sangat layak juara, jadi tidak ada beban kan buat nancapin koncer A. Biasanya, besuknya hari Selasa atau Rabu dia akan transfer ke masing-masing juri. Tidak semua memang, hanya juri yang mungkin dirasa cocok, bisa tiga sampai lima orang, kebetulan saya salah satunya.”

Berapa biasanya ia memberikan tanda terimakasih? “Tidak mesti, kadang 300, kadang bisa 500 ribu. Saya juga sering bingung, bagaimana hitungannya, jelas dia rugi. Misal dia memilih lomba yang cukup jauh, bisa 2-3 jam perjalanan dari tempat tinggal dia. Dia biasanya bawa 2-3 burung, bawa beberapa kru juga. Tiketnya antara 100 – 200 ribu rupiah, kadang 300 ribu, bisa kita perkirakan hadiahnya kalau pas juara. Terus masih ngurus, katakanlah, 4 orang juri.”

 

Hari gini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

Bila mau dibikin klasifikasi, pemilik burung ini memang belum termasuk jajaran bos papan atas. “Ya bisa dibilang bos pinggiran, masih kelas menengah lah. Lomba-lombanya juga kerap ‘mlipir” menghindari event yang persaingannya berat, memilih event pinggiran yang peluang menang lebih besar, sekaligus ia punya juri mayoritas yang memang sudah dianggap orang sendiri. Sudah saling paham.”

Meski hanya level bos pinggiran, keberanian atau kebaikannya pada dia dan kawan-kawan juri sering kali tidak kalah dengan kalangan bos besar atau bos papan atas. “Boleh jadi bos besar itu pengeluarannya lebih banyak, tapi kaki-tangannya kan juga banyak, harus dibagi ke lebih banyak orang, para strikernya mungkin juga ikut bermain, jadi yang sampai ke kita-kita sudah tinggal sekuku ireng,” ujarnya sambil memberi kode dengan dua jarinya.

 

 

Meski sudah dikondisikan, dia mengaku bukan termasuk juri “pasukan berani mati”, julukan yang sekarang sering diarahkan pada juri yang berani pasang badan menjuarakan burung meski seringkali dianggap kurang layak.

“Kalau memang tidak layak, tidak kerja, ya tidak beranilah. Paling kita kunci dengan koncer B kadang C, paling juara 2 atau 3 dengan catatan burung kerja, dari luar show juga bagus. Tapi kalau kita kasih juara 1, burung memang benar-benar bagus. Secara dari luar, sulit dicari cacatnya. Sebaliknya kalau burung pas hanya asal kerja saja, paling kita beraninya masukkan peringkat 10 besar saja.”

 

 

Ia mengaku di sejumlah event yang kebetulan dia tidak tugas, kadang orang tersebut juga protes karena hanya dijuarakan 2 atau 3. “Si pemilik burung tersebut juga bisa membaca situasi di lapangan, siapa orang yang dianggap bermain, membuat burung miliknya, menurut dia layak juara 1, harus terlempar. Kadang yang ia katakan atau proteskan itu memang benar. Jadi kalau selama ini tidak pede dan takut kalah kalau tanpa mengkondisikan sebelumnya, memang ada alasannya.” (bagian 1, bersambung) [team burungnews]

KATA KUNCI: burung bagus pemilik tidak pede tanpa titip ke juri juri blak-blakan juri buka-bukaan

BERITA LAINNYA

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp