NELI AGUSTIA

Dari SPG Trofi, Menjadi Srikandi di Balik Penilaian Sang Juara

Dunia perburungan bukan hanya milik kaum pria. Di balik riuhnya gantangan, suara kicauan, dan panasnya persaingan, ada sosok perempuan yang namanya perlahan namun pasti ikut menorehkan warna.

Neli Agustia, wanita kelahiran Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, adalah salah satunya.

Perjalanan Neli di dunia perburungan dimulai sejak 2018. Saat itu, langkahnya masih sederhana. Belum memegang bendera juri, belum berdiri di tengah gantangan dengan tatapan penuh konsentrasi. Neli mengawali kiprahnya sebagai SPG trofi di event Radjawali Indonesia (RI) Majenang.

“Awalnya saya hanya sebagai SPG trofi,” ujar Neli kepada Warta Burungnews.

 

 

Namun seperti kata pepatah, jalan besar sering kali dimulai dari langkah kecil.

Dari sekadar mengantarkan trofi kepada para pemenang, Neli justru menemukan dunia yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Kesempatan emas datang ketika Mas Asep, Ketua RI DPC Majenang, mengajaknya mengikuti diklat juri RI ke Bekasi.

Sejak saat itulah, cerita Neli mulai berubah.

Dari seorang perempuan yang awalnya berada di sisi panggung, perlahan naik level menjadi sosok yang justru ikut menentukan siapa yang layak berdiri di podium.

 

 

 

MERAMBAH EVEN NASIONAL

Bekal ilmu dan pengalaman dari diklat tersebut membuat langkah Neli semakin mantap. Jam terbang bertambah, keberanian tumbuh, dan kemampuannya dalam memahami kualitas burung semakin terasah.

Tugas demi tugas mulai berdatangan.

Bukan hanya di sekitar Jawa Tengah, Neli bahkan dipercaya bertugas hingga luar pulau, termasuk Madura dan Lampung.

“Dari awal itulah karier saya semakin berkembang sampai ke event-event nasional. Bahkan saya sempat bertugas ke luar pulau, ke Madura dan Lampung,” kenangnya.

Gantangan demi gantangan menjadi sekolahnya. Setiap event memberikan pengalaman baru. Setiap burung yang dinilai menjadi pelajaran. Dan setiap keputusan di lapangan menuntut ketelitian, keberanian, sekaligus tanggung jawab.

 

 

Tak heran bila akhirnya EO-EO lain mulai melirik ketangkasan Neli dalam menilai burung.

Namanya pun semakin dikenal.

Satu-Satunya Juri Wanita di PABURI

Salah satu pencapaian yang cukup mencuri perhatian adalah ketika PABURI mempercayakan Neli untuk menjadi bagian dari jajaran jurinya.

Yang membuatnya semakin istimewa, Neli menjadi juri wanita pertama yang digunakan PABURI.

Sebuah pencapaian yang tentu tidak datang hanya karena keberuntungan.

 

 

Di tengah dunia perburungan yang identik dengan kaum pria, Neli mampu membuktikan bahwa perempuan juga bisa berdiri sejajar di tengah panasnya pertarungan kualitas.

Bukan karena ingin sekadar terlihat berbeda, tetapi karena kemampuanlah yang akhirnya berbicara.

Kini, selain pernah menjadi bagian dari PABURI, Neli juga masih aktif sebagai juri independen. Ia juga bergabung dengan EO MAHADEWI pimpinan Abah Imam, serta menjadi bagian dari juri IDS pimpinan Anggi.

Dari Majenang, langkahnya terus melebar. Dari SPG trofi, kini menjadi sosok yang berdiri di balik penilaian para jawara.

 

 

Kenari, Cinta yang Tak Pernah Jauh. Menariknya, di balik kesibukannya sebagai juri, Neli ternyata juga punya kecintaan tersendiri terhadap dunia burung.

Kenari. Ya, burung kecil dengan suara merdu itu menjadi salah satu favoritnya.

Jadi jangan heran jika di sela-sela kesibukan menjalankan tugas sebagai juri, ketika mendapatkan waktu luang, Neli justru kembali ke gantangan. Bukan untuk menilai. Bukan untuk memegang bendera. Tetapi untuk melatih kenari-kenarinya sendiri.

Seolah dunia perburungan bagi Neli bukan sekadar pekerjaan, melainkan sudah menjadi bagian dari denyut kehidupannya.

 

 

Di satu sisi ia bisa berdiri sebagai juri yang dituntut objektif. Di sisi lain, ia tetap menjadi penghobi yang menikmati proses merawat, melatih, dan melihat burung kesayangannya tampil.

Bahkan Mahar Pernikahannya Pun Kenari!

Ada satu cerita yang membuat sosok Neli semakin lekat dengan dunia kenari. Ketika menikah, Neli sempat menjadi perhatian karena mahar pernikahannya berupa seekor burung kenari.

Kalau kebanyakan orang mungkin memilih emas, uang, atau barang berharga lainnya, Neli justru punya cerita sendiri. Kenari menjadi bagian dari perjalanan cintanya.

Mungkin bagi sebagian orang terdengar unik. Tapi bagi Neli, kenari bukan sekadar burung.

Ada rasa, ada hobi, ada cerita, bahkan ada kenangan yang ikut terbang bersamanya. Dari Trofi Hingga Bendera Juri

 

 

Perjalanan Neli Agustia adalah bukti bahwa dunia perburungan selalu punya cerita dari arah yang tak terduga. Berawal dari SPG trofi di Majenang, kemudian mengikuti diklat juri ke Bekasi, bertugas di berbagai daerah, menembus event nasional, hingga dipercaya menjadi juri wanita pertama PABURI.

Langkahnya belum berhenti.

Karena di dunia gantangan, jam terbang tidak pernah mengenal kata selesai.

Hari ini mungkin seseorang datang hanya membawa trofi.

Besok, bisa jadi ia berdiri memegang bendera dan menentukan siapa yang pantas membawa pulang trofi tersebut.

 

 

Itulah Neli Agustia.

Srikandi gantangan dari Majenang yang membuktikan bahwa untuk menjadi besar, seseorang tak harus memulai dengan langkah yang besar.

Yang penting berani melangkah, mau belajar, konsisten menjaga kualitas, dan tidak takut membuktikan kemampuan.

Dari Majenang, namanya terbang.

Dan seperti kenari kesayangannya, Neli terus berkicau lewat karya, pengalaman, dan perjalanan panjangnya di dunia perburungan. (Ruri)

BROSUR & AGENDA LOMBA, KLIK DI SINI

 

BERITA LAINNYA

KATA KUNCI: neli agustia spg trofi

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp