TROPI PIALA RAJA


KILAS BALIK PIALA RAJA: Dulu bernama Piala Hamengku Buwono Cup, Banyak Pemain Naik Bus, Menangis Saat Gaconya Juara

Sebelum bernama Piala Raja, even akbar ini bernama Piala Hamengku Buwono Cup selama dua tahun. Perpindahan lokasi lomba ke kompleks Candi Prambanan makin menambah prestise Piala Raja. Dulu sering dijumpai yang burungnya juara pemiliknya menangis saking senangnya.

Gelaran Piala Raja, yang rencana akan berlangsung pada November 2020 mendatang gaungnya sudah lama terdengar, bahkan sebelum pandemi Covid-19. Banyak kicaumania yang mengaku siap berangkat ketika ditanya mengenai Piala Raja.

 

GELARAN PIALA RAJA SELALU MENYEDOT KICAUMANIA

 

“Saya belum pernah ke Piala Raja, karena itu saya penasaran ingin melihat secara langsung sebab banyak yang bilang jangan mengaku kicaumania sebelum pernah ke Piala Raja,” ucap Brian, seorang pemain kenari asal Mojokerto.

Dari Pasuruan, ada Kanjeng Mami dari Selvan SF yang selalu datang ke Piala Raja bersama suami, anak, dan perawat burungnya. Pada 2019, Selvan SF yang membawa gaco cucak hijau dan murai batu, pulangnya zonk tidak membawa tropi satu pun.   

 

PIALA RAJA TAK PUDAR TERKENA ISU BURUNG TITIPAN

 

“Saya tidak kapok, Mami masih wani untuk datang kembali pada Piala Raja November mendatang,” ucap Mami yang gaco cucak hijaunya Excalibor pernah menyabet juara di Piala Raja pada tahun sebelum 2019.

Dari Jombang, ada Noer Hamzah yang mengaku tidak terlalu punya ambisi menyabet juara di Piala Raja. “Saya hampir setiap tahun selalu datang ke Piala Raja, tidak punya target untuk juara. Juara syukur, tidak juara ya tidak apa-apa. Ya, anggaplah rekreasi dan silaturahim dengan kawan-kawan kicaumania seluruh Indonesia,” ucapnya melalui pesan WA-nya.   

 

 

Yang mengejutkan adalah tanggapan seorang pemain love bird yang kebetulan gaconya juara di gelaran Sobat DF Sidoarjo Feat BnR Indonesia, Minggu, 23 Agustus 2020, saat ditanya siap tidak membawa gaconya ke Piala Raja? “Saya kapok main di evennya PBI, seperti arisan, meskipun itu di Piala Raja. Saya tidak akan ke Piala Raja!” ucapnya dengan nada keras.

Pemain love bird yang gaconya sangat fenomenal dan dikenal banyak orang ini mengatakan jika Piala Raja tidak seperti dulu lagi. Dulu, katanya siapa saja bisa menang, tapi sekarang yang menang adalah burungnya para bos.

 

PBI, ORGANISASI PERBURUNGAN TERTUA DAN SOLID

 

Dari Gresik, ada pemain murai batu yang menduga jika tidak semua kelas di Piala Raja penuh burung titipan. Informasi yang ia terima, yang banyak burung titipannya itu di kelas tertentu. Namun, sekali lagi gosip itu sulit dibuktikan, dan soal burung titipan itu, menurutnya terjadi bukan hanya di evennya PBI, tapi juga terjadi di EO lain.

“Kalau saya menganggap yang banyak titipannya di Piala Raja itu justru terjadi di kelas-kelas tertentu, biasanya yang kelas bergengsi. Sedang di kelas lain, orang biasa bisa kok juara di Piala Raja kalau memang burungnya bagus,” ucap pemain yang enggan menyebutkan namanya tersebut.

 

ABAH DWI JALU, H WIEBIE NZR DAN H SYAMSUL PBI BANTUL

 

Yuyun Junaedi, mantan wartawan Agro Burung milik Jawa Pos Group, menjelaskan jika Piala Raja pertama kali digelar pada tahun 2000, yang waktu itu bertempat di kompleks Keraton Yogyakarta. Kemudian berpindah ke halaman Hotel Ambarukmo Yogyakarta. Pada waktu itu menurut Yuyun Junaedi masih bernama Piala Hamengkubuwono Cup, yang berikutnya, setelah dua tahun, berganti nama menjadi Piala Raja.

“Dulu saya sering melihat yang juara itu orang-orang yang biasa, bukan bos besar. Terkadang ada yang datang dengan naik bus, dan matanya berkaca-kaca saat burungnya juara karena saking senangnya,” kenang Yuyun Junaedi.

 

Hari ini belum pakai TWISTER? Segera merapat di kios-kios / agen terdekat, bila belum ada mintalah untuk menyediakan, biar Anda dan para kicau mania lainnya lebih mudah mendapatkannya. Coba dan buktikan kualitasnya, dan berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

Junaedi menjelaskan jika tidak satu-dua orang saja yang membawa burungnya dengan naik bus umum, namun cukup banyak. Bahkan, ia juga pernah melihat ada pemain yang yang membawa burungnya dengan naik sepeda pancal. Karena itu, tidak salah bila pada awal-awal Piala Raja, banyak orang yang menganggap bahwa Piala Raja sesungguhnya evennya semua orang, bukan evennya bos saja.    

H Syamsul Hadi, salah seorang yang ikut merintis waktu pertama kali Piala Raja digelar menjelaskan jika pada dua tahun awal digelar masih bernama Piala Hamengku Buwono Cup, yang kemudian berganti nama menjadi Piala Raja. Pergantian nama itu, menurut Abah Syamsul supaya lebih sederhana dan tentu saja biar lebih mengena di hati para kicaumania.

 

ABAH SAMSUL, JADI SAKSI PIALA RAJA

 

Menurut H Syamsul, perpindahan lokasi dari Hotel Ambarukmo yang dianggap kurang bisa menampung jumlah peserta yang kian banyak ke kompleks Candi Prambanan justru makin meningkatkan prestise Piala Raja. Sebab, tidak semua even bisa digelar di halaman Candi Prambanan jika tidak memenuhi kriteria tertentu.

Abah Syamsul, begitu ia biasa disapa, tidak menampik jika ada gosip seputaran banyak burung titipan milik bos di Piala Raja untuk dimenangkan. “Silakan saja orang berkata begitu, tapi kami berusaha menjaga kepercayaan sebaik mungkin dan siapa saja sebenarnya bisa juara di Piala Raja,” ucap Abah Syamsul saat bertemu Burungnews.com di even Piala Bung Karno Ke2 Blitar, Minggu, 30 Agustus 2020. [RANTO]     

AGENDA & BROSUR LOMBA, KLIK DI SINI

 

 

 

 

KATA KUNCI: kilas balik piala raja piala hamengku buwono cup

BERITA LAINNYA

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp