SIEN RONNY KERAP MEMANTAU SENDIRI JAGO INGIN DIBELI


GERILYA POIN JUARA UMUM DI BnR AWARD

Ada yang Berani 4 Juta per Poin, Apa Tanggapan Sien Ronny dan Bang Boy?

BnR Award baru mau digelar pada 15 Desember, masih sebulan lebih. Sien Ronny jadi salah satu unggulan juara SF. Tapi, ada yang siap melawan, mulai bergerilya mengumpulkan burung-burung potensi juara. Sampai berani menawarkan uang “sewa” 4 juta tiap poin juara 1.

Gaung BnR Award memang luar biasa. Pun dengan kampanye dan propagandanya. Stop press sudah dirilis jauh-jauh hari, gemanya terus bergulir tak terhenti hingga sekarang. Banyak kicaumania yang kemudian “terpancing” emosinya, berpikiran bila tidak ikut serta di event ini, berarti ciut nyalinya, berarti belum jadi kicaumania sejati.

Tak heran ketika Bang Boy di tengah jalan menambah kelas dengan tiket-tiket yang begitu mahal, dengan banderol 10 juta, tetap saja banyak yang ingin ikut. Kelas-kelas yang favorit seperti murai batu, anis merah, hingga kacer, dilaporkan habis tak lama setelah diumumkan.

 

SIEN RONNY BERSAMA TITO DREAM SENGON, PENDATANG BARU YANG LANGSUNG MELESAT

 

Di media sosial, soal lomba dengan tiket yang sangat mahal sempat ramai. Tentu sebagian ada yang nyinyir, banyak pula yang mendukung. Nyatanya, sebagian besar kelas ini sudah pada habis.

Nah, kini yang lagi ramai adalah, soal sejumlah pihak yang terpantau mulai bergerilya untuk memburu poin demi merebut Juara Umum. Entah itu Bird Club / Team dan terutama yang kentara pergerakannya adalah Single Fighter.

Para pihak itu mulai menginventarisasi sejumlah jago yang dianggap punya kualitas bagus dan kerap juara, terutama di event-event BnR. Sebab, jago-jago itu pula yang diperkirakan bakal punya potensi merebut juara dan bisa menjadi pendulang poin di BnR Award.

Satu persatu para pemilik pun coba dihubungi. Mereka diajak untuk merapat dan bergabung dengannya. Transportasi dan akomodasi, juga tiket, sudah disediakan. Hadiah boleh diambil oleh si pemilik burung. Yang penting, di tiket/struk nama pemilik dan alamat ikut yang bersangkutan.

 

Sambut kehadiran TEAM PROMO TWISTER di event-event terpilih, termasuk Balekambang Kumandang Surakarta, 24 November dan BnR Award 15 Desember. Dapatkan sampelnya, coba dan buktikan kualitasnya, berikan respon melalui hotline 08112663908.

 

 

Burungnews pun mencoba mengkonfirmasi hal ini pada beberapa pemilik burung yang diketahui sering juara.

Paijo (bukan nama sebenarnya) mengaku sudah sejak lama dihubungi dan diajak bergabung dengan salah satu kicaumania.

“Saya dari dulu sudah sering ikut dia, ke banyak lomba di berbagai daerah, hampir semua EO. Ya biasa, transport, hotel, makan minum, dan tiket ditanggung. Saya modal burung dan dengkul saja. Kalau menang hadiah sepenuhnya buat saya.”

Begitu seringnya Paijo bergabung dengannya, sampai-sampai burung burung miliknya ada yang menganggap milik si dia. “Saya malah sering dianggap pekatik atau joki yang merawat burungnya. Tapi saya nikmati saja, sudah cukup senang dengan yang seperti ini.”

Hal yang membuat Paijo merasa nyaman, selain tidak keluar ongkos, kalau ikut gabung dengannya, peluang menang saat turun di EO mana pun juga lebih besar. “Beda kalau turun sendiri. Sudah mesti keluar ongkos, sulit menangnya. Tidak tahu kenapa, meski burungnya sama, tampilnya juga sama-sama bagus, jurinya kadang juga sama satu EO, hasilnya bisa beda. Jadi ya pilih yang nyaman-nyaman saja,” ujarnya.

Karenanya, ketika belakangan ada pihak lain yang kembali menawari, Paijo pun menolaknya. “Kalau secara tawaran, yang belakangan ini sebenarnya lebih menarik. Selain transport, akomodasi, tiket, juga ada tambahan bonus yang cukup fantastis kalau bisa ikut menyumbang poin. Tapi saya mendahulukan persahabatan, juga komitmen karena sudah menyatakan iya lebih awal. Lagian, yang terakhir itu meskipun lebih menarik, juga baru sebatas janji. Kalau ternyata hanya manis di depan bagaimana. Karenanya saya tetap pilih yang sudah jelas dan pasti-pasti saja. “

 

 

Hal berbeda disampaikan oleh Anto, juga bukan nama sebenarnya. Ia mengaku sudah dihubungi beberapa pihak. “Sampai sekarang, semua masih saya ambangkan. Saya belum memutuskan mau gabung yang mana.”

Loh maksudnya? “Saya mencoba melakukan semacam lelang dan tarik ulur. Akan saya putuskan pada waktunya kalau itu memang benar-benar saya yakini sudah jadi harga terbaik,” ujarnya tanpa basa-basi.

Anto memiliki, atau lebih tepatnya mengurus, beberapa burung dari jenis berbeda yang langganan juara di event-event akbar lintas EO. Bila diperhatikan, selama ini nama pemilik dan alamat kerap berganti-ganti.

“Yah tergantung yang kasih order. Mereka masih butuh nama, kalau saya urusan nama sudah kenyang, sekarang yang penting dapat ini,” ujarnya sambil memberi kode dengan jari tangannya, pertanda “uang”.

Lalu berapa nilai tertinggi saat ini yang sudah ditawarkan kepada Anto? “Terakhir sih selain akomodasi yang sudah ditanggung, transport, hotel, makan minum, tiket, juga ada tambahan bonus. Kalau ditotal ya sekitar 4 juta tiap 1 poin juara 1. Tapi karena lomba masih cukup lama, terus terang saya belum mengiyakan. Kita pantau-pantau dulu saja, semakin dekat hari H, siapa tahu bisa naik lagi penawarannya.”

Bagaimana dengan para pemain kawakan yang selama ini sudah sering merebut juara umum, katakanlah Sien Ronny. Apakah juga menargetkan juara umum, apakah juga akan melakukan gerilya yang sama untuk memastikan poin-poinnya bisa unggul dari yang lain?

 

Lemans bisa dibeli lewat bukalapak, tokopedia, atau hubungi 08113010789, 0822.4260.5493 (Jatim Tapalkuda), 0813.2880.0432 (Jogja dan sekitar), 0815.4846.9464 (Solo Raya dan sekitar), 0813.2799.2345 (Banyumas dan sekitar)

 

Burungnews mencoba menanyakan langsung kepada Sien Ronny SF. Berikut beberapa penjelasannya.

“Saya sudah dapat laporan dari anak-anak, katanya ada yang lagi mengumpulkan burung-burung yang kerap juara. Bukan dibeli burungnya, hanya mau semacam disewa, lalu poinnya diambil buat dia.”

Sien Ronny sendiri mengaku sudah punya cukup banyak burung, bahkan dalam beberapa bulan terakhir juga masih nambah lagi, secara khusus memang untuk menghadapi BnR Award.

“Semua burung yang dibeli juga sudah dipantau sebelumnya, sudah lolos secara kualitas dan stabilitas. Saya sudah minta ke Gentur, Dedy, Helmy, Andre, Edy untuk menyiapkan jagonya sebaik mungkin. Kalau masih kurang yakin dan lihat ada burung yang benar-benar lebih bagus, bila perlu beli lagi. Kan dari dulu memang seperti itu,” jelasnya.

Sien Ronny tampak enggan berkomentar terkait calon pesaing yang sedang getol-getolnya memburu poin dengan cara “rental” burung-burung yang berpotensi merebut juara. “Itu baru informasi, tentu itu jadi bahan masukan, biar anak-anak juga menjadikannya sebagai input untuk mengatur strategi.”

Menurut Sien Ronny, kalau pun itu benar ada, ya itu hak masing-masing. “Saat banyak pemain sekarang mungkin belum lahir, saya sudah main burung. Kebanggaannya adalah ketika burung yang benar-benar milik saya bisa juara. Semakin banyak burung yang juara, poinnya semakin banyak, lalu itu yang kemudian membuat jadi Juara Umum. Kan begitu ta. Itu kalau saya, kalau menyangkut orang lain, saya tidak tahu, tanya langsung ke dia dong.”

Meski begitu, Sien Ronny menolak kalau harus dihubung-hubungkan apalagi dibanding-bandingkan dengan calon pesaing yang seperti ini. “Sepertinya beda jauh ya, jadi jangan buat perbandingan lah. Saya bangga dan puas kalau punya burung bagus dan mau tampil di lapangan, apalagi bisa menghibur para kicaumania, lalu kemudian juara. Makanya saya tegaskan ke Gentur dan kawan-kawan itu, kita sudah punya burung banyak dan semua punya kualitas, tinggal mau tampil maksimal apa tidak. Sebelumnya mungkin ada satu dua burung yang ikut nyumbang poin buat saya di beberapa event, tetapi bukan atau belum jadi milik saya. Tapi itu bukan nyewa, itu burung dalam pantauan yang kadang si pemiliknya sendiri yang inisiatif menuliskan sebagai milik Sien Ronny.”

 

Yang di desa, di kota. Yang ikut lomba atau sekadar didengar suaranya di rumah. Dari generasi ke generasi sudah memakai TOPSONG.

 

Melihat gelagat dan peta persaingan terakhir ini, memang ada sesuatu yang menarik. Beberapa pihak yang ditengarai sedang bergerilya berburu poin, meski memiliki beberapa burung, tapi tapi dianggap masih terlalu minimal untuk memburu juara umum.

Di beberapa event sebelumnya pernah mendominasi kejuaraan, juga merebut juara umum. Ada yang menyebut sebagian besar poinnya, bahkan nyaris semuanya, diraih dari burung milik orang lain.

Hal inilah yang di medsos jadi sering ramai dikritisi oleh para warganet. Banyak yang merasa heran, apa yang dicari, di mana kebanggaannya, kenapa malah tidak malu, ketika bisa merebut juara umum, atau setidaknya mendominasi kejuaraan, tapi sebagian besar dari burung orang lain. Bahkan juga sering di suatu event, juga sering dijumpai juara umum tanpa membawa burung. Cukup bawa sangu yang banyak buat membayar poin.

“Jaman sekarang pengin juara tidak perlu repot. Tidak perlu merawat dan mencari setingan. Bila perlu ke lapang tidak usah bawa burung. Bawa uang yang cukup. Di lapangan sekarang juga sudah ada penjual jasa juara. Tahu beres, nanti namanya juga tercantum jadi juara,” begitu kira-kira komentar dari warganet.

Di atas kertas, bila jago-jago milik Sien Ronny sendiri mau tampil maksimal dan bisa merebut juara, peluang untuk mendulang poin dan bersaing memperebutkan juara umum masih sangat besar.

Karenanya, kepada para kru-nya Sien pun menekankan untuk lebih mengandalkan burung milik sendiri. “Kalau menang dengan jago-jago sendiri, kepuasannya dan bangganya kan beda. Saya keluar banyak duit untuk beli burung tidak apa-apa, asal kepuasannya bisa saya dapat. Kepuasan itu datangnya ketika tahu burung memang benar-benar bagus, dan kemudian bisa meraih juara.”

 

 

Lalu, apa kata Bang Boy selaku penggagas dan penanggung jawab event BnR Award?

“Aku selalu dan terus memantaunya, beberapa teman juga cerita soal ada peserta yang mulai gerilya poin. Masih informasi awal sekali, bisa benar bisa tidak. Kalau pun itu benar, tapi itu kan di luar kewenangan panitia. Bukan hanya BnR, aku berani jamin sampai sekarang EO lainnya pun tidak ada ikut campur tangan sejauh itu.”

Menurut Boy, yang diurus oleh panitia adalah tiket/struk. Kalau pengin poinnya dihitung dalam Juara Umum di BnR Award, ada beberapa syarat biar itu sah:

  • Struk atau tiket itu diisi lengkap dan jelas, tidak boleh ada coretan apakah itu nama pemilik, alamat, nomor gantangan.
  • Struk ditaruh di gelas yang sudah disiapkan di kursi di bawah nomor gantangan. Lakukan sesaat setelah menggantang burung, sebelum juri masuk lapangan atau sebelum menilai. Catat, panitia tidak menerima struk yang dikumpulkan kemudian, atau disusulkan, apalagi kalau juri sudah menancap koncer
  • BnR tidak mengijinkan peserta memindahkan nomor gantangan. Karenanya kalau ada nomor gantangan dicoret dan diganti, juga tidak sah.
  • Untuk SF, nama pemilik dan alamat harus benar-benar sama. Misal, pemilik tertulis Budi, alamat Jakarta. Maka untuk burung yang lain, nama pemilik dan alamat juga harus konsisten. Kalau ada yang tulisannya Boedi, Budy, atau Budhi, bisa kita anggap beda orang.
  • Untuk BC, nama pemilik boleh berbeda, karena team pemiliknya tentunya lebih dari satu orang. Alamat harus sama semua. Beda ejaan, bisa dianggap beda team.

 

BANG BOY, PERHATIKAN SYARAT AGAR POIN JUARA UMUM BISA DIHITUNG

 

“Jadi tolong, soal ejaan juga diperhatikan. Untuk SF nama pemilik dan alamat harus benar-benar sama. Untuk Team/BC, nama pemilik bisa berbeda-beda, tapi alamat juga harus tertulis sama. Jangan asal nulis, jangan dipleset-plesetkan, dari pada nanti menimbulkan masalah.”

Soal apakah itu burung milik sendiri atau dipinjami temannya, panitia tidak kuasa untuk mengurus sejauh itu. “Di lomba burung, apa pun EO-nya, semua data basisnya itu dari struk/tiket. Itu kan kita anggap KTP-nya burung. Kita tidak bisa mengurus dan mengecek sampai terlalu jauh, betul atau tidak itu burung miliknya, atau burung pinjam atau nyewa.”

Kalau ada yang merasa mengetahui itu burung hasil pinjaman dan kemudian menilai itu kurang elok atau kurang etis, itu sudah menyangkut ranah pribadi masing-masing.

“Itu urusan pribadinya yang punya bendera atau nama, dan yang punya burung. Kenapa mau pinjam atau nyewa, lalu kenapa pula yang punya burung mau meminjamkan atau menyewakannya.”

Secara pribadi, Boy setuju bila idealnya, perebutan juara umum semestinya memang benar-benar burung milik sendiri bila itu single fighter, atau burung milik anggota bila itu team atau BC. Bukan anggota dadakan yang “dibentuk” di lapangan.

Menyadari praktek seperti ini sudah cukup lama ada, BnR pun bukannya berdiam diri dan tidak melakukan upaya. “Sudah beberapa tahun ini kita mencoba melakukan upaya. Kalau ada juara umum, apakah itu BC atau SF, kita minta mereka mendaftarkan diri sebelumnya, termasuk burung-burung yang ikut bergabung.”

Beberapa event besar seperti BnR Award, bahkan H-1 mesti sudah didaftarkan. Boy mengakui, ini memang belum bisa sepenuhnya menghapus hal-hal seperti di atas. “Itu butuh kampanye bersama, bahwa ke depan orang mestinya tidak bangga tapi malah malu kalau poinnya bukan murni milik sendiri untuk SF, atau bukan murni dari burung-burung milik anggota Team / BC.” [maltimbus]

 

BROSUR BnR AWARD, KLIK DI SINI

KATA KUNCI: bnr award sien ronny bang boy gerilya poin juara umum bangga juara dari burung milik sendiri

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp