SLEVENSY MASTERING UJI COBA SISWA

GERDUPAPAK REBORN + DATA JUARA

MB Kheibarr, Siswa Pertama Slevensy Mastering Moncer di GPR

Gebrakan perdana Slevensy Mastering di lapangan langsung mencuri perhatian. Untuk kali pertama, Kheibarr, siswa yang menjalani proses sekolah di base camp Slevensy Mastering, menjalani uji coba lapangan. Hasilnya?

Adalah Kheibarr, gaco berusia pastol yang menjadi siswa perdana pilihan Hafidz, CEO Slevensy Mastering, untuk diturunkan langsung di gantangan Gerdupapak Reborn di Lapangan Waduk Parimono, Plandi, Jombang pada Sabtu 31 Oktober 2026.

Meski masih terbilang muda dan berstatus debutan, penampilan Kheibarr benar-benar sukses membuat banyak pasang mata tertuju kepadanya. Menempati nomor gantangan 26, di kelas Murai Batu Muda, Kheibarr langsung menunjukkan kualitasnya sejak awal penilaian. Dengan gaya main yang cenderung nge-play, gaco ini tampil cukup atraktif sembari menggelontorkan materi lagu roll pukulan yang terdengar rapat dan bertenaga.

 

JUARA MURAI BATU G24 A

 

Bukan cuma sekadar mengeluarkan suara, Kheibarr juga mulai memperlihatkan karakter vokalnya melalui bongkaran materi yang cukup beragam. Cucak cungkok, cucak jenggot, srindit hingga sogon menjadi amunisi andalannya. Tak berhenti di situ, materi jalak suren dan prenjak betina juga sesekali dimuntahkan sebagai variasi lagu yang membuat penampilannya semakin menarik.

Menariknya, apa yang terlihat di lapangan ternyata belum sepenuhnya menggambarkan isi materi yang tersimpan di dalam amunisi Kheibarr. Menurut Hafidz, masih banyak materi yang belum sempat dibongkar secara maksimal.

Artinya, penampilan perdana ini masih sebatas pemanasan sekaligus ajang membaca perkembangan hasil polesan selama menjalani proses pendidikan di base camp Slevensy Mastering.

 

TOPSONG dengan bangga memperkenalkan TOPSONG PREMIUM kemasan baru dengan botol, dengan tambahan pengaman. Infomasi, hubungi 0813.2941.0510.

 

"Materi yang masuk sebenarnya banyak, tapi yang dibongkar di lapangan tadi belum seberapa. Ini siswa perdana yang saya turunkan di gantangan. Alhamdulillah berhasil koncer," ungkap Hafidz, CEO Slevensy Mastering.

Tentu, hasil ini menjadi suntikan motivasi tersendiri bagi tim Slevensy Mastering. Sebab, membawa gaco hasil didikan sendiri untuk pertama kalinya ke arena kompetisi bukan sekadar urusan mengejar koncer.

Lebih dari itu, menjadi pembuktian awal bahwa proses, ketelatenan, serta materi yang selama ini dipersiapkan di base camp mulai menunjukkan hasil positif. Di kelas Murai Batu Muda, Kheibarr mendapat koncer yang sama dengan Kubro milik Zani dari Mlaten. Hingga untuk juara I dan II ditentukan lewat tos, dan juara I diraih Kubro, sedangkan Kheibarr harus rela mengisi podium runner up.

 

JUARA MURAI BATU VIP

 

Kheibarr memang baru memulai langkahnya di dunia kompetisi. Namun, jika melihat potensi materi dan performa debutnya, bukan tidak mungkin ke depannya gaco pastol ini bakal menjadi salah satu amunisi yang patut diperhitungkan.

Menariknya, Kheibarr ternyata masih tergolong sangat belia. Gaco yang tampil menjanjikan tersebut baru menginjak usia 6,5 bulan, hasil breeding MMBF Very Wonosalam Jombang. Usia yang masih sangat muda, tetapi sudah mampu menunjukkan kualitas materi, mental tarung, karakter vokal, serta performa yang cukup matang di arena gantangan.

"Materi yang masuk sebenarnya banyak, tapi yang dibongkar di lapangan tadi belum seberapa. Ini siswa perdana yang saya turunkan di gantangan. Alhamdulillah berhasil koncer. Gaco ini masih berumur 6,5 bulan, hasil breeding MMBF Very Wonosalam," tambah Hafidz.

 

JUARA MURAI BATU G24 B

 

Bagi Slevensy Mastering, pencapaian Kheibarr tentu menjadi awal yang menggembirakan. Sebab, dengan usia yang masih belia dan materi yang belum sepenuhnya keluar, potensi untuk terus berkembang masih terbuka lebar. Bukan tidak mungkin, setelah melewati proses pematangan dan penguasaan materi, Kheibarr bakal menjelma menjadi salah satu gaco yang siap meramaikan persaingan di kelasnya.

 

OPO JARE MENGGILA

Kelas Murai Batu G24 di Gantangan Gerdupapak Reborn kali ini menjadi panggung pembuktian bagi Opo Jare, gaco andalan Arif Jabrix Facial BF. Turun dengan menempati nomor gantangan 18, burung yang dikawal langsung oleh Johan ini langsung menunjukkan performa yang begitu mencolok sejak awal penilaian.

Begitu bendera penilaian dimulai, OPO Jare seolah tak mau membuang kesempatan. Gaya sujud yang menjadi salah satu ciri khasnya langsung dikeluarkan secara konsisten, nyaris tanpa jeda, dari awal hingga akhir penilaian. Namun, bukan sekadar gaya yang membuat penampilannya menyita perhatian. Justru racikan materi lagunya menjadi senjata utama yang sukses mencuri perhatian para juri.

 

 

Bayangkan saja, suara kapas tembak, sogon, kenari, hingga love bird mampu dibawakan dengan karakter yang jelas dan variasi yang membuat telinga sulit berpaling. Perpaduan materi lagu tersebut semakin istimewa karena dibawakan sambil mempertontonkan gaya sujud yang begitu atraktif. Tak heran jika nomor 18 terlihat begitu menonjol di antara peserta lainnya.

Dicky, selaku Korlap Gerdupapak Reborn, mengakui bahwa penampilan OPO Jare memang cukup menyita perhatian. "Suara kapas tembak, sogon, kenari, dan love bird yang dibawakan dengan gaya sujud membuat aksi nomor 18 terlihat mencolok. Materi lagunya benar-benar menarik perhatian," ujar Dicky.

Di sisi lain, Johan yang dipercaya mengawal gaco milik Arif Jabrix Facial BF ini juga terlihat begitu antusias. Baginya, Opo Jare bukan sekadar burung yang punya gaya dan materi mumpuni, tetapi juga memiliki rekam jejak yang cukup menjanjikan setiap kali turun di arena perlombaan.

 

JUARA CUCAK HIJAU VIP

 

Bahkan, Johan mengaku punya keyakinan tersendiri menghadapi gelaran Anniversary ke-3 Gerdupapak Reborn yang akan dihelat pada 18 November mendatang. Ia optimistis, dengan kondisi dan performa seperti sekarang, OPO Jare punya peluang besar untuk kembali menunjukkan kualitasnya sekaligus membawa pulang trophy.

"Setiap kali OPO Jare turun lomba di even, belum pernah Zonk. Jadi, saya cukup optimistis. Semoga di Anniversary GPR nanti bisa kembali tampil maksimal dan membawa pulang trophy," ungkap Johan penuh percaya diri.

Dengan modal gaya sujud yang konsisten, materi lagu yang variatif, serta mental tarung yang sudah teruji, OPO Jare jelas bukan gaco yang bisa dipandang sebelah mata. Kini, menarik untuk ditunggu, apakah panggung Anniversary ke-3 Gerdupapak Reborn nanti kembali menjadi saksi keganasan aksi Opo Jare. Satu hal yang pasti, Johan dan tim sudah siap datang bukan sekadar untuk meramaikan gantangan, tetapi juga untuk memberikan perlawanan terbaik.

 

JUARA KENARI A

 

Tidak hanya Kheibarr atau Opo Jare yang tampil penuh kejutan, ada satu lagi gaco yang mampu menyita perhatian. Namanya Sello, milik Ghustavyudi yang umurnya masih pastol. Menariknya, gaco ini dibeli cukup murah, hanya 750 ribu.

Tampil di kelas Murai Batu G24 B, Sello nyaris menggilas Opo Jare. Kendati gagal juara I, Sello masih bisa menempel di podium dua. Dan di kelas Murai Batu A, Sello kembali merai juara II, dikalahkan Rohtak milik Al Faruq dari Panser SF.

"Di Gerdupapak yang kami nilai adalah kualitas gaco, bukan dari harganya ya. Biarpuin murah, kalau kualitasnya bagus, tetap bisa koncer. Dan kalau saya minat, pasti saya lamar," bilang H. Indra Bodrex, CEOP Gerdupapak Reborn. (juned)

BROSUR & AGENDA LOMBA, KLIK DI SINI

 

 

JUARA CENDET A

 

JUARA KACER A

 

 

 

 

KATA KUNCI: gerdupapak reborn data juara mb kheibarr slevensy mastering

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp