PAK LURAH MENYERAHKAN BANTUAN SANGKAR TERNAK KEPADA PESERTA PELATIHAN


DESA TAMANMARTANI GELAR DIKLAT TERNAK BURUNG

Tak Perlu Lahan Luas, Hasilnya Lebih Menjanjikan

 

Sebuah gebrakan yang cukup berani dilakukan oleh Pemerintah Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Peternak, calon peternak, dan pencinta burung dikumpulkan untuk mendapatkan informasi teknis dan potensi ekonomi ternak burung berkicau. Perlu dicontoh oleh yang lain.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 20 September 2017. Tempat kegiatan di aula kantor Kepala Desa Tamanmartani, tak jauh kawasan wisata Taman Candi Prambanan.

Para nara sumber adalah mereka yang sudah berpengalaman di bidangnya. Ada juri burung yang diwakili oleh Tri atau Kotrex, peternak, juri sekaligus penulis buku tentang love bird Budi Prawoto, breeder, bakul, pengelola EO sekaligus juga MC lomba burung Puguh Dwi Arimbawan, dan dokter hewan spesialis burung yang cukup kesohor yaitu Dr. Drh. Edi Boedi Santosa.

 

 

Gandang Harjanata, Kepala Desa atau Lurah Tamanmartani yang dikenal dekat dengan rakyatnya, menjelaskan alasannya kenapa ia memillih Pelatihan Peternakan dengan topik burung berkicau khususnya love bird dan kenari.

“Kenapa burung, pertama karena saya melihat di desa ini banyak penggemar burung. Beberapa ada yang sudah jadi peternak, ada yang sudah cukup lama, ada yang baru mulai, ada yang baru punya keinginan tapi masih bingung bagaimana memulainya. Yang sudah mulai juga mengaku pengetahuannya secara umum masih kurang,” ujarnya saat memberi sambutan pembukaan.

 

KOTREK (KANAN) DIDAMPINGI PUGUH DAN LURAH GANDANG

 

Alasan berikutnya, ia melihat bila ternak burung berkicau itu ke depannya sangat cerah. Penggemarnya terus bertambah, tidak membutuhkan tempat yang luas dan khusus, dan potensi ekonominya sangat besar.

“Ternak burung seperti love brid dan kenari misalnya, bisa dilakukan dengan memanfaatkan ruangan yang ada di rumah, modalnya juga relatif terjangkau, tapi hasilnya tidak kalah dengan ternak tradisional seperti sapi, kambing, ayam, dan lainnya,” imbuh Gandang.

Gandang pun membeberkan, bila kegiatan ini sepenuhnya didanai dengan Dana Desa. “Jadi kami berpikir pemanfaatan Dana Desa itu tidak harus diwujudkan secara tradisional misalnya untuk pembangunan fisik. Untuk membagikan ilmu yang praktis dan bermanfaat langsung juga hal yang perlu dilakukan oleh Pemeritah Desa, sebab warga yang ikut kegiatan ini juga mendapat sesuatu yang benar-baru, bisa dipraktikkan, dan hasilnya bisa meningkatkan ekonomi mereka.”

 

PESERTA MENDENGARKAN PEMAPARAN KEPALA DESA

 

Ditambahkan, keinginan untuk membuat semacam pelatihan ternak burung sebenarnya sudah lama. “Awalnya kami sudah mencoba melakukan pendekatan dengan dinas terkait agar bisa menggelar kegiatan seperti ini. Tapi mungkin dinas masih berpikiran kalau namannya peternakan itu ya sapi, kambing, ayam, kalau yang kecil-kecil mungkin kelinci, ikan konsumsi seperti lele, nila, dan semacamnya. Beternak seperti burung berkicau, ikan hias, belum masuk dalam perspektif mereka. Jadi sementara ya kami harus berani melakukan terobosan dengan pola pembiayaan seperti ini. Nyatanya para peserta juga merasakan betul manfaatnya.”

Apresiasi juga datang langsung dari para pembicara seperti Budi Prawoto, Puguh, dan Drh Edi, yang sekarang kebetulan juga menjadi warga Tamanmartani. “Saya rasa ini sangat bagus dan inspiratif, ini baru pertama kali ada acara diklat breeding ternak burung yang gagasan dan pelaksanaannya sepenuh digelar oleh pemerintah, walau pun hanya setingkat Pemerintah Desa. Perlu dicontoh oleh desa-desa yang lain, atau pada tingkatan yang lebih tinggi, khususnya yang warga masyarakatnya banyak yang hobi burung. Saya salut dan kagum dengan pak Gandang yang sangat visioner dan berani melakukan terobosan,” ujar Puguh yang mengaku suka belajar kepada siapa pun dan di mana pun asalkan bisa mendapatkan sesuatu yang baru dan bermanfaat.

 

FOKUS DAN SUNGUH-SUNGGUH

Tri atau Kotrek yang kini menjadi juri senior di BnR, salah satu EO besar di tanah air, menjadi pembicara pembuka. Tri mencoba menjelaskan love bird dan kenari seperti apa yang bisa memenuhi kriteria menjadi juara.

“Cepat atau lambat, para peternak harus mengetahui spek burung lomba, agar kelak bisa menghasilkan anakan untuk lomba. Sebab hanya burung yang punya kualitas seperti itu, yang bisa kita jual dengan harga relatif tinggi,” ujarnya.

 

BUDI PRAWOTO KLATEN, SUDAH MEMBUAT BUKU LOVE BIRD SEBELUM BOOMING

 

Pembicara kedua adalah Budi Prawoto, love bird mania dari Klaten yang pernah menulis buku tentang love bird, termasuk penangkarannya. Budi juga pernah aktif di Papburi, kini mengelola EO GWKM, selain dipercaya menjadi juri di sejumlah gantangan Latpres. Budi menjelaskan beberapa hal mendasar seperti bagaimana membedakan love bird jantan, betina, baik dengan melihat ciri-ciri fisik, sampai mengamati tingkah laku.

“Sejauh ini, yang paling sering saya pakai dan paling mendekati akurat, dengan memeriksa supit. Tapi supit baru ketahuan cukup jelas kalau sudah cukup umur. Hanya saja, dengan semakin panjang jam terbang, feeling akan semakin terasah, akurasi akan semakin tinggi,” jelasnya.

Ada pun Puguh yang mengaku berawal dari breeder tanpa pengetahuan dasar yang memadai, banyak belajar dari para lovebird mania dan bakul di pasar burung Depok, Solo.

 

PUGUH, BURUNG TRAH BISA DIBANDROL JAUH LEBIH MAHAL

 

Kini Puguh juga tak hanya sukses sebagai breeder love bird galur juara, tapi juga menjadi bakul, mengelola EO, dan laris sebagai MC lomba burung. Sambil menggarisbawahi apa yang sudah diungkapkan oleh pembicara sebelumnya, ia menjelaskan bagaimana peternak harus mau naik level, dari sekadar beternak asal produk, yang hasilnya anakan biasa-biasa saja atau sering disebut sayur, menjadi peternak yang anakannya bisa diperuntukkan bagia para pelomba.

“Jadi penyetok burung lomba, dalam hal ini lomba suara, itu sangat menarik dan menantang. Harganya bisa tak ada batasan. Nilai tambahnya sangat tinggi, bisa berlipat-lipat dari pada love bird sayur, sementara biaya perawatannya sama saja. Memang untuk sampai ke situ kita harus memperbaharui indukan yang memang punya spek tertentu, tapi tidak harus mahal, kita bisa mendapatkannya dengan harga yang relatif terjangkau, asal menggunakan ini,” ujarnya sambil menunjuk pada kening.

Puguh memberikan contoh, seekor anakan love bird hijau yang biasa-biasa saja, antah berantah, atau biasa disebur sebagai sayur, harga pasarannya saat ini sekitar 160 ribu. "Burung dengan warna yang sama, dengan perawatan yang sama, kalau itu burung trah, bisa kita jual 1,5 juta bahkan lebih. Ini contoh burung yang saya bawa dan tunjukkan 2,5 pada Anda, baru saja dibayar 2,5 juta, besuk tinggal kirim."

Baik Budi maupun Puguh menceritakan pengalamannya bagaimana akhirnya mereka bisa mendapatkan income yang cukup besar dari beternak love bird. Selain perlu pengetahuan dasar dan wawasan perburungan secara umum, butuh prasarat awal lainnya, yaitu kesungguhan.

“Pengetahuan dan wawasan itu bisa diperoleh secara belajar sendiri, makin lama jam terbang, akan semakin banyak pengetahuan yang didapat. Tapi kalau bapak-bapak dan mas-mas di sini harus melalui tahap itu, terlalu lama. Nah, kegiatan pelatihan seperti ini gunanya agar Anda semua bisa mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang diperlukan, tanpa harus menunggu punya pengalaman sendiri dulu. Tinggal meniru dan mengembangkan apa yang sudah pernah berhasil dilakukan oleh orang lain,” imbuh Puguh.

Selain membagikan pengalamannya mulai bagaimana ia belajar breeding, belajar menjual burung, belajar mengenali karakter burung, Puguh kembali menekankan dan memberikan motivasi, bahwa untuk bisa meraih semua itu, satu syarat yang tidak bisa ditawar-tawar adalah, niat, kesungguhan, dan tak mudah menyerah.

“Semua itu tidak didapat dengan asal-asalnya. Kalau hanya asal masukan burung ke kandang, asal kasih pakan dan minum, hasilnya juga asal-asalan. Pasti akan muncul masalah tanpa henti, hanya dengan ketekunan, kesungguhan, pantang menyerah, kita akan sanggup menyelesaikan masalah itu. Dari situ, gantian burung akan memberikan hasil kepada kita yang jumlahnya mungkin tidak kita duga sebelumnya. Siapa yang bisa melakukan itu, ya Anda-Anda sendiri. Harus punya mimpi, keinginan, dan kemudian kita berbuat sekuat tenaga agar bisa mencapainya, harus ada keyakinan dan percaya diri bila Anda juga bisaa,” imbuh Puguh.

 

DRH. EDI. KALAU DIRAWAT BAIK, BURUNG JAUH DARI PENYAKIT

 

Sementara itu, Drh. Edi yang mengisi di sesi terakhir mengawalinya dengan memberikan komentar atas materi yang disampaikan oleh Budi dan Puguh.

“Kalau pak Budi dan Puguh bisa meraih hasil yang cukup besar dari burung, saya tidak heran, itu hal yang wajar. Kenapa, karena kedua bapak-bapak ini melakukan pekerjaannya dengan penuh kesungguhan, dengan sepenuh hati, dengan kasih sayang. Itu kunci keberhasilan kalau kita ingin masuk ke bidang apa pun.”

Selebihnya, pak Edi menjelaskan sejumlah masalah dan penyakit yang kerap menghinggap pada burung burung. Untuk menggairahkan suasana, Pak Edi pun membagikan hadiah kepada siapa saja yang mau bertanaya.

Drh. Edi memaparkan sejumlah penyakit yang sifatnya hanya “mengganggu”, sampai yang fatal hingga bisa menimbulkan kematian bila tidak segera tertangani dengan baik.

“Pada prinsipnya burung kalau dirawat dengan cukup baik, dengan sesungguhnya, asupan gisinya cukup, kebersihan kandang dan lingkungan terjaga, akan jauh dari penyakit. Atau paling tidak, kalau ada gejala awal sakit kita pasti langsung tahu dan segera melakukan penanganan sebelum terlalu parah."

burung yang mendapat perhatian dan kasih sayang cukup, asupan gisinya cukup, sesungguhnya kita tak perlu memberikan aneka macam vitamin, apalagi beli obat-obatan karena burung sakit.

"Kalau burung sampai sakit parah kok kita baru tahu, sebenarnya itu tanda-tanda rasa kasih sayang kita, patut dipertanyakan. Itu Anda berarti abai, kurang perhatian, mungkin malah sekadar menyerahkan pada orang lain, apakah itu anak, istri, atau pembantu. Penginnya tahu beres saja. Kalau begitu caranya, ya jangan pernah berharap bisa mendekati keberhasilan.”

Di akhir acara, Gandang kembali menekakan kepada warganya yang ikut kegiatan ini. “Jadi bapak-bapak dan mas-mas harus bersyukur, punya kesempatan mengikuti kegiatan yang langka ini. Tampaknya sepele, tapi nyatanya banyak hal yang bisa diperoleh kan, dan nanti bisa langsung dicoba praktekkan."

Gandan pun kembali menarik kesimpulan dengan memberikan tekanan lebih. "Inti sari dari yang disampaikan bapak-bapak tadi, semua menuju pada satu simpul: kesungguhan. Kalau tidak dengan kesungguhan, hampir pasti hasilnya tidak akan maksimal. Kalau diumpakan hitungan, satu tambah satu hasilnya nol, bisa dua, juga bisa sembilan.

"Nah kali ini Desa mencoba membantu dua kandang batrey, semoga semakin memberikan semangat dalam beternak. Agar hitungan satu tambah satu jangan sampai nol, harus bisa lebih dari dua."

 

 

JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN EVEN PALING AKBAR SEJAGAD PIALA RAJA 24 SEPTEMBER 2017. JANGAN SAMPAI KEHABISAN CENDERAMATA RESMI BY TRENDKICAU, SEGERA PESAN SEBELUM HABIS DI 0852.5863.4229 (telepon, sms, wa)

 

BERITA LAINNYA

Copyright BurungNews @ 2014 - 2017 Developed by JogjaCamp