
H. IRSYAM BERSAMA ABAH TATUK DAN DWI JALU
6th ANNIVERSARY SMM, #2
Bagaimana Shoedewo, Burung 15 Juta Berani Menantang Burung Ratusan Juta hingga Milyaran di kelas 50 Juta?
Siapa berani turun di kelas 50 juta rupiah? Logika umum akan menjawab, selain yakin dengan perfoma dan kualitas di atas rata-rata, mungkin pernah meraih hadiah mobil, dan belinya pasti sudah ratusan juta rupiah. Di antara 16 peserta, ternyata nyempil satu burung yang belinya kurang dari 15 juta!
Ya, H. Makhrus Irsyam dari Niaga Laut Pekalongan, hanya membayar 15 juta, sudah termasuk 2 sangkar SMM baru. Anggap dua sangkar itu harganya 5 juta, maka nilai burungnya hanya sekira 10 juta. Bagaimana H. Irsyam berani ikut kelas utama 50 juta, hanya nekat saja tanpa perhitungan?
Gak asal nekat juga sebenarnya. Meski ketika beli “hanya” 15 juta, waktu itu dengan kondisi burung dianggap “rusak”, namun saat ini secara perfoma dan kualitas diyakini sanggub bersaing di level tertinggi.
Keyakinan yang sesungguhnya juga terbukti. Shoedewo, nama yang kemudian diberikan kepada burung tersebut, menempati nomor gantangan 23, tepat di sebelah Wisanggeni di nomor 24. Wisanggeni, kita ketahui yang akhirnya jadi juara setelah jadi satu-satunya yang dapat 4 ajuan juri.
Di gantangan, Shoedewo tampil cukup baik dan menjanjikan, kerap menggelontorkan tembakan panjang dan mengundang decak kagum. Biar bisa memberi gambaran secara lebih tepat, bisa ditonton vidionya di akhir berita ini.
Hasil akhir, mendapatkan 2 ajuan, hingga harus adu tos dengan 4 burung lainnya (semua 5 burung), untuk mencari dua burung yang masuk peringkat 4 dan 5. H. Irsyam yang mengambi undian, kurang beruntung, termasuk 3 burung yang harus terbuang dari 5 besar.
Padahal, kalau saja sedikit beruntung, hadiah mobil sudah di depan mata. Pada kelas ini, peringkat 4 dan 5 masih berhak atas mobil Ayla atau senilai 80 juta rupiah.
Sedikit menggarisbawahi soal Wisanggeni yang juara 1, burung ini dibeli oleh H. Agus Mitranda Bengkulu, dari Ndarboy Jogja, seharga 1 milyar rupiah. Deal pada Sabtu malam, hari Minggu siangnya di event Paris Van Java Award, memenangkan kelas utama berhadiah mobil.

BURUNG TERBAIK KUMPUL SATU TITIK DI 6th ANNIVERSARY SMM
Bagi Shoedewo, kali ini juga bukan yang pertama kali berada satu gantangan dengan Wisanggeni. Di Viking Arena ketika event Paris Van Java Award pun, Shoedewo sudah ikut berpartisipasi, dan untuk kali pertama bertarung langsung melawan Wisanggeni.
Meski “kehilangan” 50 juta dalam waktu 10 menit, H. Irsyam mengaku tidak menyesal sama sekali. “Itu risiko yang sudah kita sadari dari awal. Namanya lomba, kalau tidak menang ya kalah. Secara matematis, peluang menang itu lebih kecil, bila yang dimaksud adalah juara 1, bahkan untuk masuk 5 besar. Tapi secara penampilan saya cukup puas, nyatanya peluang masuk 5 besar sebenarnya sudah di depan mata, hanya belum hoki saja.”
BAGAIMANA SHOEDEWO DITEMUKAN HINGGA RAWATAN PATEN
Awal Murai Batu Shoedewo bermula saat burung ini ditemukan di sebuah gantangan (Latber) di daerah Batang. Burung yang disebut berasal dari Banten ini, awalnya dibeli oleh Bos Rohman (Mia Batik) pada tengah malam sekitar pukul 00.30, di bulan puasa seharga 8,5 juta rupiah (total uang diberikan Rp10 juta untuk biaya lain-lain).
Saat pertama kali dibeli, burung ini hanya dipelihara sendirian di rumah pemilik lamanya, tanpa pemasteran khusus, hanya menggunakan rekaman suara dari HP lama (HP bodol).
Awalnya, burung ini diberi nama Yes oleh H. Rohman dari Mia Batik. Pada periode ini, Yes sempat menunjukkan bakatnya dengan menjuarai kelas Lapres, tiket 300 – 500k.
Sampailah kemudian performa burung ini mulai menurun dan dianggap "rusak", setelah dibawa berlomba ke Joger, Surabaya. Pemiliknya mulai bosan dan ingin beralih hobi ke burung merpati, burung ini akhirnya ditawarkan untuk dijual.
Mas Haji Irsyam dari Niaga Laut, lantas membelinya seharga Rp15 juta, sudah termasuk dua sangkar SMM baru. Nama Shoedewo diberikan oleh sang perawat, Mas Budi, yang terinspirasi dari kasus yang sedang ramai di daerah Pati saat itu.
Di tangan Mas Budi, Shoedewo menjalani "reset total" dalam perawatannya, selama masa mabung. Pola perawatannya diubah menjadi lebih sederhana: pemberian jangkrik 10 pagi dan 10 sore, mandi setiap hari, pemberian kroto secara rutin, tanpa menggunakan ulat Hongkong atau ulat kandang sama sekali.

BUDI, PERAWAT SHOEDEWO, MENERIMA CENDERAMATA SEBAGAI PESERTA KELAS 50 JUTA
Setelah melewati proses "reset" dan perubahan pola rawatan inilah, Shoedewo mulai menunjukkan performa mewahnya kembali. Diawali dengan menjuarai tiket-tiket kecil hingga akhirnya menembus level nasional seperti di SMM dan Viking.
Pola makan jangkrik Shoedewo mengalami perubahan signifikan antara perawatan harian biasa dengan pengaturan khusus saat menuju perlombaan. Harian atau ketika mabung, hanya pagi dan sore masing-masing 10 ekor.
H-2 Menuju Lomba (Jumat), porsi jangkrik mulai ditingkatkan menjadi 10 ekor pagi, 10 ekor siang, dan 10 ekor di sore hari. H-1 (saat perjalanan jauh seperti dari Pekalongan ke Malang), jangkrik diberikan secara intensif, yaitu 10 ekor setiap satu jam sekali. Total, Shoedewo bisa menghabiskan hampir 100 ekor jangkrik hingga sampai di lokasi tujuan.
Pada hari H, pagi hari di lokasi lomba, setelah dijemur sebentar, Sudewo diberikan lagi 10 ekor jangkrik. Pada saat menunggu giliran naik (sekitar kurang dua sesi), kembali ditambah jangkrik secara bertahap dengan porsi dua ekor secara berulang (2-2-2) untuk memastikan kondisinya benar-benar siap dan kenyang.
Pemberian jangkrik yang masif pada H-1 bertujuan agar burung dalam kondisi kenyang maksimal, yang ditandai dengan burung "nyepah", dan adanya perubahan pada tatapan mata serta paruhnya yang menunjukkan kesiapan untuk bertarung.
Kini, H. Irsyam tentu makin pede untuk kembali membawa Shoedewo ke event-event level atas berhadiah mobil. Salah satu yang terdekat, Anniversary Point di Semarang pada 21 Juni besok dengan juri SGS Gresik.

GRATIS PAKAN BURUNG TOPSONG (dalam kemasan TOPVIT, kemasan khusus untuk sampling, tidak dijual belikan, isinya adalah TOPSONG coklat 3 in 1). JADWAL PIALA PAKUALAM 12, KLIK DI SINI


BERITA LAINNYA
KATA KUNCI: 6th anniversary smm mb shoedewo h irsyam niaga luat pekalongan













