KELAS CUCAK HIJAU SELALU FULL PESERTA


PENJURIAN SUBDENPOM BC JEMBER

Beri Toleransi Untuk Burung Nakal Yang Masih Berpeluang Koncer

Untuk akhir-akhir ini, beberapa arena lomba khususnya di Jember, kelas ocehan terlihat merosot dan lebih didominasi oleh kelas love bird. Bahkan beberapa arena di brosurnya sudah tidak mencantumkan kelas ocehan lagi karena tidak ada peserta, hanya melombakan khusus burung love bird saja. Padahal di Jember penggemar ocehan masih sangat banyak, meski peminatnya didominasi oleh kaum kawakan.

Berbagai cara untuk memancing pemain ocehan hadir, seperti hadiah losgan, tiket murah, tropi burung terbaik , bahkan banjir bonus tanpa syarat, juga sering gagal. Mengapa begitu sulit untuk mendatangkan pemain ocehan ? Kenapa mereka turun hanya di beberapa arena saja ?

 

 

Ternyata setelah tim burungnews melakukan penelusuran kepada pemain ocehan, mereka enggan untuk datang, karena tidak cocok dengan sistem penjuriannya. Dan juga mereka sering kecewa saat datang ke arena tersebut, ternyata hanya ada segelintir peserta ocehan yang datang.

Seperti yang diutarakan oleh salah satu kicaumania yang tidak mau disebutkan namanya ini. “Pernah dulu saya datang ke salah satu tempat lomba. Sudah berat-berat bawa sangkar, delalah sampai lokasi gak ada pesertanya. Kan kecewa dan jadi males mau datang lagi ke tempat itu mas. Kalaupun ada, kadang hanya 8 sangkar yang naik gantangan,” katanya dengan nada kecewa.

 

 

Dan juga para pemain ocehan, banyak yang tidak cocok dengan sistem penjurian saat ini. Mereka menilai para juri saat ini, banyak yang tidak menghargai burung yang kerjanya di atas rata-rata dan memiliki materi lagu memadai, hanya karena dengan satu kesalahan, burung itu langsung dicoret dari daftar nominasi.

Seperti di kelas cucak hijau misalnya, jika burung tersebut durasi kerjanya sudah maksimal, materi lagunya bongkar, volumenya dahsyat, dan gaya ngentrok jambulnya hiper, tapi melakukan kesalahan seperti didis atau ngelantai dengan waktu sesaat, akan langsung dicoret dari daftar nominasi. Hal seperti itu juga sering terjadi pada jenis burung-burung yang lain seperti murai batu, kacer, cendet, dan kenari.

 

Burung mau tampil maksi dan stabil di segala cuaca, serta terjaga kesehatannya. Berikan LEMAN'S secara teratur, cukup 1 tetes untuk harian, bisa dicampur pada minuman, atau oleskan pada EF. Sudah banyak yang membuktikannya, jangan sampai ketinggalan...

 

Tapi ada satu arena di Jember yang hingga saat ini tetap menjadi idola para pemain ocehan. Meski hanya latihan biasa pada hari Rabu dan Minggu, kelas seperti cucak hijau dan murai batu, dipastikan selalu full gantangan hingga 4 kelas. Arena itu adalah Subdenpom BC Jember yang berlokasi di Markas CPM Subdenpom  V/3-2 Jl. S Parman no 97, Jember.

Subdenpom BC sejak dulu waktu masih menggunakan nama Paseban BC, memang dijadikan sebagai barometernya para kicaumania Jember hingga sekarang. Bukan hanya diakui oleh kicaumania Jember saja, kicaumania Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang dan Probolinggo, juga sering turun di arena ini. Selain sudah tidak diragukan lagi kinerja jurinya yang fair play, dari segi hadiah juga diakui memuaskan.

 

KELAS KACER MULAI NAIK DAUN

 

Menganut penjurian lama yang sedikit di upgrade, kicaumania menilai para juri Subdenpom BC benar-benar mencari burung yang berkualitas dari segala sisi. Dan tidak semata-mata membunuh burung yang hanya melakukan sedikit kesalahan yang bersifat sesaat.

Seperti contoh di kelas cucak hijau, jika burung tersebut kinerjanya di atas rata-rata, masih layak koncer A meski melakukan kesalahan seperti didis, ngering, ataupun ngelantai. Hal serupa juga berlaku untuk jenis burung ocehan yang lainnya.

 

 

“Memang kami masih berani menancapkan bendera koncer kepada burung yang melakukan kesalahan. Tapi ada beberapa syarat untuk itu. Seperti contoh, jika ada burung yang dari segala aspek penilaian sudah unggul dari lawan-lawannya, tapi melakukan kesalahan yang hanya sesaat. Kami berani memberikannya bendera koncer A, B atupun C. Paling tidak 10 besar masih bisa masuk jika kesalahannya masih bisa dimaklumi,” kata Tatang salah satu juri senior di Subdenpom BC.

Tatang juga menekankan, toleransi itu berlaku dengan melihat kondisi lawan di lapangan. Jika kinerjanya tidak ada yang menandingi, juri Subdenpom BC tak segan-segan menancapkan bendera koncer. Tapi jika kerjanya setengah-setengah dan masih banyak lawan yang lebih tangguh, jelas burung tersebut akan tersingkirkan.

 

 

Wawan yang juga juri senior di Subdenpom BC, mengatakan hal yang sama dengan Tatang. “Kami menghargai jerih payah dalam merawat burung. Jadi kami hargai itu, dan tidak langsung mencoret burung yang hanya sesaat melakukan kesalahan.”

Heri selaku ketua Subdenpom BC mengatakan, kalau para juri Subdenpom BC dituntut untuk mencari burung yang sempurna dari segala aspek penilaian. Jika tidak ada yang memenuhi kriteria tersebut, juri di Subdenpom BC, lebih menekankan kepada durasi kerja dan materi lagu dan tidak semena-mena mencoret burung yang melakukan kesalahan yang bersifat sesaat.

“Intinya kami memang masih berkiblat pada sistem penjurian yang lama, tapi kami terus berinovasi untuk menemukan pakem yang pas dan cocok untuk para kicaumania,” ujar Heri tegas.

AGENDA & BROSUR LOMBA,  KLIK DI SINI

 

KATA KUNCI: penjurian subdenpom bc jember

BERITA LAINNYA

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp