FAJAR, TITO, BOY, ALI GUNDUL (dok. FB FAJAR ABRIYANTO)


DREAM SENGON CUP YOGYAKARTA

Tiket Utama Hadiah Mobil Habis, Bagaimana Bila di Gantangan Tidak Full 36? Ini Bocoran Skenarionya!

“Mau beli tiket utama yang hadiah mobil pak, kalau masih ada sisa berapa biar kuota tercapai, kami beli semua,” ujar seorang pria paruh baya yang membawa beberapa ekor murai batu. Si panitia menjawab bila tiket sudah habis dan penjualan untuk kelas utama juga sudah ditutup.

Beberapa sesi kemudian kelas utama pun dimainkan. Ternyata, setelah dihitung jumlah burung yang digantang tidak memenuhi kuota, masih kurang beberapa ekor. Hadiah utama pun urung diberikan, sebagai gantinya, hadiah turun mulai dari hadiah juara 2, yang besarannya tak sampai sepertiga harga mobil.

Banyak yang kemudian menggerutu. Bahkan, berbagai spekulasi pun langsung berhamburan dari para penonton yang sesungguhnya tidak ikut menjadi peserta. “Wah, ini pasti setingan, biar hadiah ngandang alias tidak keluar,” begitu cerita yang kemudian banyak beredar dan berkembang luas.

 

 

Cerita tentang hadiah utama yang begitu menggiurkan, apakah itu berupa mobil, motor, atau sejumlah besar uang yang kemudian tidak dikeluarkan karena jumlah peserta yang tidak memenuhi kuota, tentu sudah sering kita dengar. Cerita yang kemudian berkembang pun relatif sama, bahwa itu adalah setingan, itu adalah strategi panitia agar hadiah tidak usah keluar, dan panitia mendapatkan keuntungan berlimpah dari situ.

Bulan Agustus 2019 ini, salah satu even yang bakal menjadi pusat perhatian karena menyediakan hadiah utama mobil, dengan tiket 3,5 juta dan gantangan maksimal 36, adalah Dream Sengon Cup 1 Yogyakarta. Event ini akan digelar pada 18 Agustus 2019 di Yon 403 Kentungan (Jalan Kaliurang KM 7).

Pertanyaannya, apakah cerita seperti di atas, hadiah utama mobil akhirnya tidak keluar karena kuota tiket full 36 gantangan tidak terpenuhi juga potensial terjadi lagi?

 

BANG BOY CEK LAPANG 403

 

“Insya Allah peserta penuh dan hadiah mobil akan keluar,” jawab Bang Boy saat dikonfirmasi burungnews.com. Bang Boy lantas menjelaskan, tiket pada prinsipnya sudah habis terpesan, meski masih ada yang menggantung 2 biji karena belum lunas. Hal ini akan ditunggu sampai batas waktu sesuai dengan aturan yang tertulis.

“Mohon maaf, sementara saya hanya bisa menjawab Insya Allah, karena sebagai manusia biasa, sebagai hamba Allah, saya tidak berani mendahului apa yang Allah mau.”

 

Biar  murai batu  mau nembak maksi, di-quattrick aja... Hubungi nomor yang ada di baner berikut untuk mendapatkan produk QUATTRICK yang asli, atau melalui Bukalapak atau Tokopedia.

 

Informasi bahwa masih tersisa dua tiket yang belum selesai administrasinya diperoleh burungnews pada Kamis (8/8) malam. Pada Jumat (9/8) siang, Bang Boy kembali memberikan update informasi, setelah dilihat ulang, ternyata semua tiket kelas utama sudah habis, sudah terjual, berarti juga sudah terbayar lunas.

Jadi? “Ya insya Allah aman, mobil akan keluar,” jawabnya singkat.

Burungnews kemudian kembali mengejar dengan pertanyaan, apakah basis perhitungan jumlah peserta itu berdasarkan tiket yang sudah terjual (dan terbayar tentu saja), atau jumlah burung yang di gantangan?

“Dasar ngitungnya dari tiket yang sudah terjual. Terjual, artinya juga sudah terbayar lunas,” Boy kembali menjelaskan.

 

Waktu, adalah cara terbaik untuk membuktikan dan jadi pengadil dengan cela paling kecil. TOPSONG telah melewati waktu yang begitu panjang, sudah teruji dan terbukti menjadi kepercayaan kicaumania Indonesia, pilihan para juara. Anda juga kan?

 

Burungnews kembali mengajukan pertanyaan, “Kalau ada satu dua peserta yang berhalangan, tidak hadir, padahal sudah membayar lunas tiket, dan panitia tidak bisa menjual tiket cancel tersebut sehingga jumlah burung di gantangan tidak genap 36, sementara sejak pagi hingga satu dua sesi sebelum kelas utama main, ada yang mencari tiket tidak dilayani dengan alasan habis, berarti hadiah mobil tetap keluar?”

Jawaban Bang Boy cukup tegas, “Ya, itu tetap keluar. Seperti saya jelaskan tadi, full atau tidaknya peserta, kita ngitungnya dari tiket terjual, bukan burung di gantangan.”

 

 

Nah, untuk menghindari kesan dan prasangka bila panitia sengaja bermain agar hadiah utama tidak keluar, BnR sudah mulai menerapkan aturan atau semacam skenario seperti yang belum lama juga diterapkan di event Jatijajar Bird Competition – Bupati Cup Kebumen.

Semua calon peserta baru akan menerima kupon. Tiket baru akan akan ditukar dengan kupon saat burung menjelang digantang. Tiket akan dihitung dan disaksikan semua peserta dan kicaumania, apakah jumlahnya masih utuh 36, kemudian dipajang. Barulah masing-masing calon peserta menukarkan kuponnya.

“Ketika masih ada tiket tersisa, akan kita jual langsung saat itu. Kita juga akan terbuka status tiket tersisa itu, apakah memang karena belum laku, atau sebenarnya sudah milik orang tapi tidak datang. Kalau yang terakhir, berarti meskipun tidak ada yang beli, hadiah utama mobil akan tetap keluar,” tandas Boy.

 

ATURAN MAIN KELAS UTAMA DREAM SENGON

 

Dari penelusuran burungnews.com, sebenarnya seandainya pun kuota tidak terpenuhi dan hadiah utama mobil tidak keluar, para juara masih bisa menerima hadiah yang cukup besar dan layak, karena akan berdasarkan persentase.

Bila peserta tidak sampai 36 gantangan, juara 1 akan menerima 45%, juara 2 sebesar 25% dan seterusnya. Bila peserta diasumsikan 30 peserta, uang pendaftaran terkumpul 105 juta rupiah. Juara 1 masih mendapatkan 45% x 105.000.000 = Rp 47.250.000,- atau sekitar 13 x lipat dari harga tiket. (Biar mudah membayangkan, kira-kira setara dengan tiket 100 ribu, hadiah 1,3 juta).

Oh ya, hal perlu diketahui bersama terutama para pemain dari luar kota, bila akses utama menuju lokasi lomba melalui ringroad utara sedang terganggu karena masih berlangsung proyek pembangunan under pas. Jadi para kicaumania diharapkan lewat jalan alternatif yang detilnya nanti juga akan dishare oleh panitia.

 

BROSUR DREAM SENGON CUP 1 YOGYAKARTA,  KLIK DI SINI

KATA KUNCI: dream sengon cup i bang boy hadiah utama mobil hendra jepang

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp