FLIGHT / YTI DEMO DI DEPAN KLHK, SENIN 10 SEPTEMBER. (DOK. KUMPARAN.COM)


AKTIVIS FLIGHT / YTI MEMPROTES MURAI BATU, CUCAK RAWA, & JALAK SUREN DIKELUARKAN DARI DAFTAR DILINDUNGI

Ini Penjelasan KLHK, Serta Tanggapan Wakil Penangkar dan Organisasi Penghobi

Senin 10 September, halaman depan KLHK di Manggala Wanabakti didatangi sekelompok orang berkaus putih yang membawa spanduk dan poster. Mereka menuntut agar KLHK membatalkan rencana mengeluarkan murai batu, jalak suren, dan cucak rawa dari daftar dilindungi.

Kelompok yang dipimpin oleh Marison Guciano itu menamakan diri sebagai FLIGHT atau Yayasan Terbang Indonesia. Berdiri sejak bulan Februari 2018, yayasan ini menyebut diri sebagai kelompok konservasi lingkungan yang fokus utamanya melindungi burung dan habitatnya.

Dalam aksi yang menurut detik.com diikuti belasan orang, sementara kumparan.com menyebut sekitar 20 orang itu, mereka menggelar spanduk bertuliskan “Tolak Dikeluarkannya Murai Batu, Jalak Suren, dan Cucak Rowo dari Daftar Status Dilindungi”. Ada pun poster-poster yang mereka bentangkan, antara lain bertuliskan “Biarkan Burung Bebas Terbang di Alam”, dan “Song Birds Belong in The Wild Not in The Cage”

 

MARISON MELAKUKAN ORASI DI DEPAN KLHK (DOK. KUMPARAN.COM)

 

Dalam orasinya, Marison menyerukan agar KLHK menolak ijin breeding untuk komersial. “Burung kicau bukan burung peliharaan, biarkan bebas berkicau di alam. Kita tuntut KLHK konsisten untuk melindungi burung-burung di Indonesia. Kita tolak burung cucak rawa, murai batu, dan jalak suren dikeluarkan dari daftar dilindungi, karena populasinya di alam sudah semakin berkurang. Apakah teman-teman setuju untuk melindungi?”

Rekan-rekannya pun kompak menjawab dengan teriakan “Setuju!”

 

Beragam masalah pada burung Anda seperti penyakit, belum mau tampil, dan lainnya belum ada solusi? Konsultasikan dengan 0857.4811.5758, 0811.3010.789, untuk mendapatkan produk terbaik yang terjamin keasliannya, serta cara pemakaian yang benar.

 

Marison pun kembali meneriakkan agar KLHK tidak takut menghadapi tekanan dari mereka yang mengaku sebagai penghobi atau penyayang burung, tapi yang dilakukan adalah kekejaman terhadap satwa.

“Burung dikurung di sangkar hanya untuk didengar nyanyiannya, itu adalah bentuk kekejaman. KLHK jangan mau tunduk di bawah tekanan orang-orang yang mengaku sebagai breeder,” ucapnya.

Marison menilai selama ini pengawasan pemerintah terhadap peredaran burung kicau, khususnya yang dilindungi, masih lemah. Masih sangat mudah menjumpai burung-burung tersebut dijual di pasar-pasar satwa. 

 

SUDAH DIPERTIMBANGKAN DAN SUDAH FINAL

Mereka akhirnya ditemui Widodo, Kasi Monitoring Sumber Daya Genetik KKH KLHK, untuk menampung aspirasinya. Widodo mengkonfirmasi, ketiga jenis burung dimaksud memang sudah dikeluarkan dari daftar hewan yang dilindungi, tinggal menunggu diundangkan.

Disebutkan, keputusan mengeluarkan 3 jenis burung dari daftar dilindungi sudah melalui berbagai pertimbangan yang cukup matang, dan itu sudah final. “Salah satunya, karena populasinya dari hasil budidaya di masyarakat tergolong banyak.”

Menurut Widodo, potensi yang ada di masyarakat itu juga harus dianggap sebagai peluang untuk bisa menambah populasi di alam. Ia menyebutkan, ternyata kan ada data, ketika menetapkan jenis-jenis itu masuk dilindungi atau tidak atau sebaliknya, itu kan ada pertimbangan. Scientific based.

 

MARISON DKK DITERIMA WIDODO DKK DARI KLHK (DOK. YTI)

 

“Pertimbangannya adalah ketersediaan kelimpahan populasi di alam, kemudian endemik sebarannya terbatas. Kan itu aja. Ternyata ada data populasi nih, walaupun tidak di alam. Populasinya di mana? Di tempat budidaya. Banyak ini, semua datanya diserahkan kepada kita," jelasnya.

Widodo mengakui, dari data burung di tangan masyarakat yang sudah berhasil ditangkar, memang belum sampai pada tahap re-stocking ke alam. “Ini perlu proses. Belum tentu lho, kita memelihara 2, jadi 100, kita kembalikan ke alam juga belum tentu hidup 100. Kan ada proses adaptasi, penyakit, dan sebagainya. Tapi by doing mereka adalah potensi untuk bisa membantu kita. Kita sendiri membantu nanti, di dalam permen itu memperkuat yang di alam bagaimana caranya, jangan lengah. Jangan sampai kepada pasar burung, tempat hobi kicau, jangan sampai berasal lagi dari genetik di alam. Kita tegaskan di situ," sambung Widodo.

 

 

TANGGAPAN PENANGKAR DAN ORGANISASI HOBI BURUNG

Terkait re-stocking, burungnews.com pun meminta tanggapan kepada Sugiyarto, salah satu tokoh penangkar jalak di Klaten. Ia pun mengungkapkan, bahwa dalam beberapa kesempatan, para penangkar di Klaten sudah menyatakan siap menyumbangkan burung untuk di lepas ke alam.

“Kami para penangkar di Klaten siap kok. Saya sudah pernah menyampaikan di forum-forum, termasuk yang dihadiri petugas/pejabat dari BKSDA. Kami pernah nantang, tolong siapkan habitatnya untuk jalak yang betul-betul aman dan nyaman buat burung, dan ada yang bertanggung jawab. Sampai sekarang belum ditanggapi tantangan dari kami.”

Sugiyarto tak mengelak bahwa saat ini ada ribuan orang di Klaten yang menjadikan breeding jalak suren, selain juga beberapa dilengkapi jalak bali dan jalak putih, sebagai soko guru ekonomi. Banyak juga peternak cucak rawa dan murai batu. “Sudah sejak orang tua kami tahun 80an, lalu jumlahnya semakin banyak sejak tahun 90an, dan puncaknya pada tahun 2004 sampai beberapa tahun berikutnya.”

 

Mau Breeding tapi sulit menjodohkan, belum mau bertelur, atau telurnya tidak menetas? SUPER BREEDING solusinya, dari Super Kicau Grup yang terpercaya.

 

Sugiyarto lalu menambahkan, kalau melihat jalak itu sudah bisa produksi usia 9 bulan, burung-burung yang sekarang ada itu mungkin sudah F-30 atau lebih. “Saya kira, kalau tidak ada para peternak, burung seperti jalak suren benar-benar sudah punah. Sekarang di alam mungkin tinggal beberapa ekor, atau malah tidak ada, tapi yang dipelihara, yang di kandang-kandang ternak kami, berlimpah.”

Sebelum ada permen, Sugiyarto menyebutkan tiap minggu dari Klaten bisa memasok paling sedikit 1.000 ekor jalak suren ke berbagai daerah di tanah air. “Jadi kalau yang demo kemarin bilang di pasar burung sangat mudah menjumpai burung seperti jalak suren, ya betul sekali. Menurut saya, burung jalak malah sudah tidak pas lagi kalau disebut sebagai satwa liar. Sudah bisa disetarakan dengan merpati, perkutut, puyuh, bahkan mungkin juga ayam.”

Sementara itu, Bang Boy, ketua Yayasan BnR yang juga dipercaya menjadi ketua Forum Kicau Mania Indonesia (FKMI), kelompok yang mengkoordinir aksi Tolak Permen 20/2018, menyebutkan bila pada prinsipnya, FKMI menganggap tidak ada masalah dengan aksi yang digelar oleh Yayasan Terbang Indonesia atau siapa pun itu.

 

 

“Meski jalan pikiran kita berbeda, ya tidak ada masalah untuk menyampaikan aspirasi. Mungkin suatu saat ada baiknya ketemu dalam satu ruang biar bisa saling memahami jalan pikiran masing-masing, tanpa harus memaksakan diri saling sepakat.”

Boy hanya mengingatkan supaya kita lebih hati-hati dalam menggunakan istilah punah. “Melindungi dari kepunahan, oke itu ide dan hal yang bagus. Punah itu maksudnya apa, di mana. Kalau di hutan, hutan yang mana. Okelah, ada penangkapan, itu mengurangi populasi di alam. Tapi apa benar ancaman punahnya lebih karena ditangkap? Sepanjang yang kita tahu, penyebab terbesarnya karena daya dukung alam yang menurun drastis. Ada perubahan peruntukan, ada polusi. Hutan dibabat, bahkan dengan cara dibakar misalnya.”

Boy juga menambahkan, sangat beda logika orang nangkap gajah, harimau, dan nangkap burung. Gajah dan macan ditangkap dengan cara atau untuk dibunuh. Gajah diambil gadingnya, atau kulitnya. Macan diambil kulitnya, atau diawetkan untuk hiasan. “Burung kan dipelihara, disayangi, bahkan dibreeding sehingga bisa berkembang biak dengan lebih baik dari pada di alamnya yang memang semakin rusak dan tidak lagi aman.”

 

BANG BOY DAN BAGIYA RAKHMADI. DEGRADASI LINGKUNGAN LEBIH MENGANCAM KEHIDUPAN BURUNG

 

Ada pun Bagiya Rakhmadi, ketua umum PBI menanggapi sebutan “kekejaman” yang dialamatkan kepada para penghobi atau pemelihara burung itu terlalu berlebihan.

“Kalau burung kita adu secara fisik, okelah itu disebut kekejaman. Kalau burung dipelihara untuk disayangi, dan si burung mau bernyanyi dengan merdunya, kan bukti bila burung itu gembira, merasa nyaman, masa disebut kekejaman. Tentu saja, kita boleh saja berbeda pendapat soal ini. Tapi jangan terlalu lah dalam memberi labeling pada pihak yang berseberangan.”

Apalagi memelihara dan menyayangi burung, sudah jadi tradisi turun temurun di masyarakat Indonesia, tentu susah dihapuskan begitu saja. Bagiya pun mengakui bila penangkapan burung, meski bukan penyebab utama, ikut andil dalam berkurangnya burung di alam.

“Tapi masa hanya data di alam saja yang jadi pertimbangan. Apa ada bukti burung yang statusnya dilindungi, tanpa campur tangan penangkar, lantas jumlahnya di alam jadi bertambah secara signifikan. Sebagian besar burung yang dilindungi dari dulu itu kan nyaris tidak ada yang memelihara, toh tetap langka, jumlahnya tidak kunjung jadi banyak. Itu sebabnya, sudah betul kalau faktor sosial ekonomi masyarakat juga tetap harus jadi bahan pertimbangan ketika hendak membuat kebijakan.”

Bagiya lantas mencontohkan pada jenis branjangan. “Kebetulan, saat ini belum masuk kategori dilindungi. Berita baiknya, upaya penangkaran terus dilakukan, dan sudah banyak yang berhasil. Di alam, branjangan dulu banyak dijumpai di sawah-sawah, sekarang satu dua masih ada, tapi sudah jarang.”

 

Masa depan lomba burung semakin bergantung pada penangkaran. Masyarakat semakin bangga memiliki dan melombakan burung hasil breeding, dan mulai meninggalkan burung tangkapan alam.

TOPSONG BREEDING, formula BR tanpa mengandung butiran keras/kristal, cocok untuk indukan membuat produk tetap lancar meski sedikit atau tanpa EF jangkrik dan kroto. Aman dan bagus untuk loloh basah  sejak usia baby, tidak mengandung butiran keras / kristal. Piyik cepat besar, sehat dan tidak mudah mati. Tersedia dalam kemasan 1, 5, 10, 15, dan 25 kg. Hotline 0813.2941.0510.

 

Yang membuat jadi jarang ternyata bukan karena penangkapan, tetapi lebih karena pola pertanian. Sudah puluhan tahun tanah pertanian dipacu dengan pupuk kimia dan pestisida secara masif, agar hasilnya bisa melimpah. Cacing, serangga, dan lain-lain yang jadi pakan burung terus berkurang jumlahnya hingga akhirnya hilang.

“Kalau salah satu mata rantainya putus, ya lambat laun hilang pula burung-burung itu. Jadi tolong, kalau mau bicara soal ancaman kepunahan, jangan semata-mata menyudutkan atau menyalahkan para penghobi atau pemelihara burung, apalai penangkar. Dalam beberapa hal, contohnya pada jalak, mereka justru penyelamat.”

Kelak, ketika burung seperti murai batu dan cucak rawa, benar-benar sulit ditemukan di alam bebas, kita akan merasa lega karena di kandang ternak atau di rumah-rumah masih bisa melihatnya dalam kondisi segara bugar, masih bisa dinikmati rupanya, masih bisa didengar suaranya. “Sungguh, kalau tak ada penangkar, sementara alam terus terdegradasi, kita hanya bisa melihat burung-burung tersebut dari fotonya, mendengar suaranya dari pemutar MP3. Para penangkar itu yang benar-benar bertindak nyata membuat populasi burung bisa bertambah, bahkan pada saatnya juga ada proses seleksi kualitas.”

Bagiya sangat yakin bila tren ke depan, orang akan lebih memilih memanfaatkan burung, termasuk untuk lomba, dari hasil breeding, dan meninggalkan burung tangkapan alam. “Secara perlahan, arah itu sudah kelihatan. Memang butuh proses, tidak bisa serta merta. Sekarang, semakin banyak penyelenggara lomba membuka kelas ring, pesertanya juga semakin banyak. Sudah muncul kebanggaan saat memiliki burung hasil breeding. Kalau menang, yang punya ring namanya ikut terangkat, dari sini juga ada stimulus ekonomi yang membantu proses ke arah itu semakin cepat.”

 

PRIO SUTRISNO BERSAMA SEJUMLAH ELEMEN HOBI BURUNG (DOK. PRIO)

 

Bahwa ada sebagian yang telah mengambil manfaat ekonomi dari kegiatan hobi burung, memang iya. Bahkan sebenarnya bukan hanya yang secara langsung memelihara, menangkar, atau bakul-bakul yang jual beli burung. Di luar itu, banyak sekali yang telah mendapatkan manfaat ekonomi.

Misalnya para pencari pakan alami seperti kroto dan cacing, sekarang jangkrik dan cacing yang dijual di pasaran sebagian besar adalah hasil breeding, juga produk-produk pakan tambahan yang dikemas dalam bentuk voer, tepung, dan lainnya.

Ada juga produk-produk kreatif seperti beragam sangkar mulai yang paling sederhana hingga sangkar ukir yang rumit, atau sekarang juga banyak beredar sangkar simple yang digarap halus dan diberi brand atau merk. Prio Sutrisno, salah satu pelaku ekonomi kreatif mengakui, potensi ekonomi dari hobi burung memang sangat luas.

“Mungkin karena ini memang tradisi turun temurun yang sulit dihilangkan. Apalagi, sekarang juga memang bercampur dengan faktor sosial ekonomi. Banyak yang bergantung hidupnya dari hobi burung. Selain sangkar, aksesoris pendukungnya kan banyak, seperti kerodong, pangkringan, kolak untuk tempat makan-minum, aneka gantungan, produk-produk minuman kesehatan hingga vitamin dan obat-obatan, bahkan sekarang juga baju tematik hobi.”

 

 

Prio menggarisbawahi, pada prinsipnya ia setuju dengan segala upaya untuk melestarikan burung berkicau, apa pun jenisnya. “Lestari itu harus, hanya dengan cara itu anak cucu kita tetap bisa menikmati indahnya rupa burung, atau merdunya suara burung. Breeding saya kira adalah solusi win-win agar kelestarian dan hobi bisa jalan seiring.”

Prio juga mengaku akan sangat senang-senang saja kalau bisa mendengarkan suara merdu burung langsung dari alam bebas, bukan dari dalam sangkar. “Problemnya sulit sekali sekarang nemui alam, habitat burung, yang aman, nyaman, dan ramah buat burung. Banyak juga loh pemburu liar yang nenteng senapan, kadang mereka lebih menjadikan burung untuk menguji seberapa jago bisa mengintai sasaran. Kalau yang kena burung kecil, sering kemudian hanya dibuang begitu saja. Jadi lebih bijaksana kalau teman-teman yang tidak sepakat burung dikurung atau dimasukkan kandang, ya upayakan bagaimana caranya menyediakan dan menjaga habitat alami yang benar-benar aman dan nyaman. Kalau itu sudah ada, kita bisa membantu re-stockingnya.”

 

BERITA AKSI FLIGHT/YTI JUGA BISA DIBACA di detik.com, kumparan.com, trubus.id

 

Sudah dapat dan mengamankan tiket PIALA RAJA? Ingat, tinggal menyisakan sedikit saja hanya pada kelas / jenis burung tertentu. Konfirmasikan segera dengan 0817.0422.330. Ingat, main 4 lapang, wajib kuasai JADWAL lomba.

 

KATA KUNCI: flight yayasan terbang indonesia permen 20/2018 bagiya rakhmadi boy bnr prio sutrisno sugiyarto peternak jalak klaten

MINGGU INI

AGENDA TERDEKAT

Developed by JogjaCamp