LB MANIA GRESIK DI PIALA RAJA. JUARA 1-10 KELAS PARIWISATA G


LOVE BIRD MANIA GRESIK DI PIALA RAJA

Borong Juara 1-10, Paling Fairplay, Ini Rahasianya!

 

 

Panitia Piala Raja membuka kelas love bird lebih banyak dari jenis burung yang lain. Semua ada 26 kelas, termasuk satu kelas ring. Dan semuanya habis-bis terjual tiketnya. Di lapang, mungkin ada satu dua gantangan bolong tak ada burungnya, tapi panitia tak punya lagi stok tiket. Artinya, itu gantangan yang kosong juga ada pemiliknya, tapi si pemilik entah tertinggal, tidak jadi datang, atau alasan lain, tidak menggantangkannya.

Ada satu hal yang cukup menarik dan bikin penasaran, setelah data juara di rilis. Bila Anda selama ini mungkin juga alpa memperhatikannya, cobalah sekarang di buka ulang data juara kelas love bird. 

Coba runut ke bawah sampai kelas Pariwisata G. Lalu lihat di kolom alamat. Semua tertulis GRESIK. Silakan KLIK DI SINI untuk melihat ulang data juara.

Apakah hanya kebetulan dari 60 peserta, juaranya burung asal Gresik semua? Memang ada berapa biji peserta dari Gresik hingga bisa sapu bersih seluruh kejuaran di kelas Pariwisata G?

 

 

Burungnyews.com yang juga penasaran, mencoba merunut masalah ini. Hasilnya, ternyata sungguh menakjubkan. Khusus kelas Pariwisata G, ternyata 60 tiket semua memang diborong oleh love bird mania Gresik!

Berikut jalan cerita, latar belakang, dan proses sampai para love bird mania bisa mendapatkan 60 tiket utuh di kelas Pariwisata G.

Setelah dirunut salah satu penggagasnya adalah H. Said, yang juga ketua PBI Gresik. Tentu ada latar belakang yang menjadikannya ada ide semacam ini.

“Jadi begini, sesungguhnya Gresik itu kan bisa dibilang kota kecil lah. Namun penggemarnya cukup banyak, khususnya love bird mania. Banyak yang pengin ikut lomba level nasional, tapi Anda tahu sekarang banyak love bird hebat-hebat, sehingga belum apa-apa, sebagian ya bisa dikatakan minder lah. Apalagi kalau evennya sekelas Piala Raja. Bisa dimaklumi karena sebagian dari kami memang para pemain biasa dari kota kecil,” jelasnya.

Dari omong-omong, munculah ide, bagaimana kalau melombakan saja sesama love bird Gresik, tapi di tempat yang netral, sama-sama tidak kenal juri, tidak kenal panitia, sekaligus juga jalan-jalan dan berwisata. Pokoknya semua sepakat menurunkan burung apa adanya, fairplay.

“Pada prinsipnya semua setuju dengan ide besar itu. Kita pengin melombakan sesama burung Gresik, secara apa-adanya dan fairplay, mana paling oke. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana caranya?

Dari situ, kebetulan menjelang Piala Raja, lalu H. Said melanjutkan ngomong-ngomon dengan pihak Panitia Piala Raja, menyebutkan juga alasannya, latar belakanganya. Singkat cerita, alasan diterima, dan keinginan untuk memborong salah satu kelas khusus buat love bird mania Gresik pun bisa disetujui.

“Pilihan jatuh pada kelas Pariwisata G, yang waktu itu pesanannya masih kosong, hadiah juga sudah menyertakan trophy Mahkota Raja, salah satu trophy yang paling didamba-dambakan semua kicaumania.”

Dengan cara itu, kicaumania Gresik pun bisa bersatu, guyup, di sisi lain juga ada harapan untuk jadi juara. Sebab juara 1-10 sudah pasti kepegang dan dibawa pulang ke Gresik.

Dari harga tiket 450 ribu, love bird mania Gresik cukup membayar 300 ribu saja, sudah termasuk tranpostasi dan penginapan. Sisanya disubsidi oleh PBi Gresik yang diketuai H. Said. Rombongan besar dari Gresik ini, berangkat ke Piala Raja dengan dua bus.

“Niat kami hanya ingin menyatukan para kicaumania khususnya love bird mania yang kini sedang mewabah. Mereka pengin ikut lomba nasional, tapi di sisi yang lain kurang pede kalau harus langsung bertarung dengan burung papan atas. Lomba berangkat sendiri ke tempat yang jauh, juga belum semua bisa melakukannya. Karena itu PBI Gresik mencoba menjembatani semua itu. Alhamduillah semua berjalan sesuai rencana. Mulai berangkat, di lapangan, sampai pulang, kami semua gembira.”

Cara ini banyak diapresiasi sebagai pilihan yang cerdas. Seandainya datang sendiri-sendiri dan terpencar-pencar ke banyak kelas, belum tentu bisa menang. Sementara ongkos juga keluar banyak. Padahal, banyak yang pengin sekali pulang membata trophy Piala Raja yang sejauh ini dianggap paling prestise sejagad.

Apakah cara yang sama akan kembali dilakukan di even Pakde Karwo Cup? “Belum tahu, kalau misal kembali ada keinginan seperti itu, pasti lebih mudah karena sudah ada contohnya. Ke Pakde Karwo juga lebih dekat, bisa berangkat langsung tanpa harus menginap.”

Nah, bagaimana para komunitas yang lain. Mungkin ini juga bisa jadi inspirasi, semacam “numpang” melombakan burung internal komunitas pada lomba besar di kota lain.

Boleh jadi, bila dibandingkan kelas lain, di love bird Pariwisata G, para juri juga paling asyik dan tanpa beban menilai. Semua berlangsung secara alami, apa adanya, tidak ada bertabur stiker, tidak ada tekanan, tidak ada titipan. Eh maaf, "pesan dan titipan" memang ada, tapi hanya ada satu, jelas, dan tegas: tolong dinilai secara apa-adanya saja. Kalau memang menang, jadikan juara. Kalau memang kalah, ya kalah saja.

JUARA LOVE BIRD DI PIALA RAJA,  KLIK DI SINI

AGENDA & BROSUR LOMBA, KLIK   DI SINI

 

 

 

BERITA LAINNYA

Copyright BurungNews @ 2014 - 2017 Developed by JogjaCamp