INDUKAN MURAI BATU, HINDARI PERKAWINAN SEDARAH


BREEDING MURAI BATU

Mau Hasil Bagus, Hindari Perkawinan Sedarah!

 

Mencetak murai batu unggulan dan juara tidak semudah  membalikkan tangan karena banyak tahapan yang harus dikerjakan serta mencegah beberapa hal yang notabene menjadi sumber kegagalan.

Syarat pertama dalam mencetak murai unggulan adalah calon indukan yang digunakan harus benar-benar berkualitas dengan ciri fisiknya sehat, bagus, utuh, dan suaranya merdu.

Sebagai indikasi murai bagus dan unggulan serta layak dijadikan calon indukan jantan adalah murai tersebut pernah meraih juara 1, 2, atau 3 di arena lomba regional hingga nasional. Sementara calon induk betina juga harus keturunan dari murai juara. Artinya, “bapaknya“ dulu merupakan mantan juara di tingkat regional maupun nasional.

 

 

Dengan berbekal pejantan juara dan betina yang keturunan juara, maka bukan mustahil seluruh anakan yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang bagus serupa induknya dengan indikasi suaranya merdu, energik, fisiknya sempurna, dan punya karakter petarung.

Upaya seperti di atas sudah berhasil dilakukan Supriyanto, dengan bendera Pri BF Mojosari. Menurut Supriyanto, kalau pejantannya juara dan betinanya juga merupakan keturunan juara, dijamin anakannya akan berkualitas yang kemungkinan besar berpotensi merebut juara ketika dewasa nantinya.

Namun menurutnya, meski dengan bekal indukan juara, cara menjodohkannya tidak asal mengawinkan seperti binatang ternak lainnya.

"Pendek kata, hindari perkawinan sedarah dalam mencetak murai unggulan. Artinya, antara pejantan dan betinanya jangan berasal dari indukan yang sama atau berasal dari satu sarang,” kata Supriyanto di farmnya, Desa Jasem, Kec. Ngoro, Kab. Mojokerto beberapa waktu lalu.

 

KAWIN SEDARAH BOLEH, ASAL SUDAH LEBIH DARI 6 GENERASI

 

Pria yang akrab disapa Pri itu mencontohkan, umpama pejantan A dikawinkan dengan betina B, anakan yang dihasilkan berupa C (jantan), D (betina), E (betina) dan F (jantan).

Dengan hasil demikian, maka C tidak boleh dikawinkan dengan D atau E dengan F. Jangan pula mengawinkan A (bapak) dengan D (anakan betina) atau B (ibu) dengan C (anakan jantan).

Menurut Pri, dalam mencetak murai unggul dengan bekal induk juara, pokoknya hindari perkawinan sedarah. “Menurut pengamatan saya, hindari perkawinan sedarah itu sampai enam turunan atau enam generasi karena anakan yang dihasilkan bukan malah bagus melainkan jelek terutama pada fisik dan mentalnya. Dampak konkritnya adalah anakan bisa cacat dan kurang cerdas,” tandas Pri mengacu pada pengalamannya selama beternak murai batu.

 

 

Selama beternak murai batu hingga sekarang, Supriyanto memiliki bekal indukan jantan mantan juara. Sementara betinanya merupakan turunan dari pejantan juara. “Jadi jantan dan betina sama-sama memiliki trah juara,” terang Supriyanto seraya berujar sampai saat ini di peternaknnya sudah memiliki 17 kandang breeding dan 13 di antaranya lagi berproduksi aktif.

Asal tahu, induk jantan mantan juara yang diandalkan Supriyanto di peternakannya di antaranya: Jaguar dapat koncer Bupati Cup Tulungagung, Voith selaku juara Phonska Cup 2010 – 2011 dan Bupati Cup Trenggalek 2010, Yamato si juara lomba di Jabodotabek 1999 – 2010, Galaxi peraih juara Latpres regional, Predator si peraih banyak juara hingga 2014 dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari induk jantan pilihan itu, kemudian masing-masing dipersiapkan diri untuk dijodohkan dengan induk betina yang bukan dari satu garis keturunan. Setelah dijodohkan dalam kandang breeding, anakan unggul akan dihasilkan.

Seluruh anakan dari masing-masing murai juara tadi bisa dibreeding lagi dengan syarat bukan dikawinkan dengan satu garis keturunan. Dengan begitu, anakan Jaguar bisa dikawinkan dengan anakan Yamato, anakan Galaxi bisa dikawinkan dengan anakan Predator dan seterusnya. “Dari perkawinan dengan moyang trah juara itu, akan dihasilkan anakan unggul yang potensi merebut juara pula di lomba nantinya,” terang Supriyanto.

 

ANAKAN BUKAN HASIL PERKAWINAN SEDARAH

 

Dalam mencetak murai juara, awalnya Supriyanto menyiapkan kandang breeding   dengan ukuran panjang 1,25 meter, lebar 2 meter dan tinggi 2,25 meter.

  • Dinding kandang bagian depan, samping kanan, samping kiri dan atap adalah terbuat dari kawat ram.
  • Dinding belakang berupa tembok.
  • Sementara lantai kandang berupa tanah dalam bangunan kandang tersebut.
  • Di dalam kandang masih diberi tanaman dalam pot (tabulampot).
  • Dalam kandang dilengkapi kotak (gelodok) sebagai tempat sarang yang terbuat dari triplek.
  • Di situ juga dilengkapi rak pakan yang disusun sedemikian rupa sehingga tempat minum, voor, kroto, jangkrik dan cacing tanah bisa dibikin terpisah.
  • Kalau rak beserta wadah pakan sudah siap, tinggal memasukkan pakan, air minum dan ekstra fooding ke dalamnya.
  • Setelah kandang breeding disiapkan, langka selanjutnya menjodohkan murai jantan dan betina ke dalamnya.

 

 

ASINAN HALUS, COCOK UNTUK INDUKAN, ANAKAN, DAN BURUNG LOMBA

Komentar Untuk Berita Ini (1)

Posting komentar

Nama
Lokasi
Email
URL
Komentar
  captcha contact us
Silakan masukkan kode diatas